Penerimaan Tanpa Syarat

Oleh : Oki Dwi Ramadian

Kawan Penempatan Dusun Nunusan, Indragiri Hulu

Setelah sekian lama berada bersama murid-muridku di kelas jauh SDN 04 Rantau Langsat, tinggal bersama masyarakat yang ramah-ramah, serta keadaan alam yang memesona Akhirnya saya berada di kota lagi. Sebut saja begitu. Tempat di mana saya bisa mendapatkan curahan sinyal yang menyejukkan ponselku. Tempat di mana saya bisa mendapati kebisingan dan keramaian.

Berada di kota bukan berarti saya bisa santai-santai. Ada banyak sekali cobaan, eh urusan yang perlu saya lakukan. Salah satu urusan yang saya agendakan adalah menukar seragam pramuka milik dua orang muridku yang kekecilan. Semoga saja berhasil. Bayar juga tidak apa. Tukar tambah gitu ceritanya. Demi muridku apa sih yang tidak?

Jadi Dusun Nunusan itu adalah salah satu dari sekian banyak dusun yang berada jauh di dalam hutan belantara. Dusun ini termasuk di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Untuk mencapai sekolah dusun kami yang asri pembaca bisa menyewa perahu mesin yang disebut “boat” oleh penduduk sekitar. Istilahnya canggih ya? Ada Inggris-inggrisnya gitu. Dengan mengendarai boat kita bisa mencapai Dusun Nunusan setelah menempuh sekitar 4 jam. Alternatif lain adalah jalan kaki. Berani masuk hutan taman nasional yang hewan-hewannya ada banyak sekali?

Hari pertama saya tiba di Belilas tepatnya di kantor Dompet Dhuafa Indragiri Hulu saya habiskan dengan beristirahat. Penat juga rasanya perjalanan kurang lebih empat jam naik perahu boat, ditambah satu jam naik motor melewati jalan yang penuh goncangan ke Seberida untuk mengambil mobil ke Belilas lalu dua jam naik mobil ke Belilas. Sambil beristirahat saya mengatur agenda yang akan saya lakukan kedepannya serta menerima pesan whatsapp. Ternyata bukan hanya saya yang lelah, ponselku pun kelelahan menerima pesan-pesan yang masuk. Beberapa kali dia mati, tidak merespon, lalu baterainya habis.

Keesokan harinya dengan bismillah aku bawa dua setel seragam pramuka yang kekecilan itu. Berharap kedua muridku yang jelita akan memiliki seragam pramuka yang pas. Jarak dari kantor Dompet Dhuafa ke pasar tidak begitu jauh. Paling sepuluh menit jalan kaki. Cuacanya sedang terik, ah tidak masalah. Bukan masalah bagiku. Ada motor sih di kantor yang sangat boleh saya pakai. Namun tidak, saya lebih suka jalan kaki.

Perjalanan yang bermandikan cahaya matahari mengantarkan saya ke pintu masuk Pasar Rakyat Soegih Belilas lalu aku mengatakan dengan inilah saatnya menukar seragam pramuka itu. Di lantai satu saya menukan penjual kebutuhan pokok dan plastik. Instingku mengatakan penjual pakaian berada di lantai dua.

Saya naik di lantai dua lalu berbelok ke arah kiri. Ada banyak toko yang tutup tapi lebih banyak yang buka. Toko pertama yang kutawarkan “kerja sama” menujukkan gestur bersedia. Bahkan sempat bertanya bahwa bajunya mau ditukar sepatu? Tidak kataku meskipun muridku di Nunusan sana juga kekurangan sepatu tapi seragam pramuka ini hanya boleh ditukar dengan seragam pramuka juga yang lebih besar. Apalah daya Ibunya tidak menjual pakaian sekolah. Masuk akal pikirku. Dirinya menunjukkan menunjukkan lokasi toko penjual pakaian seragam sekolah. Katanya ada di ujung dekat tangga.

Benar juga pikirku. Setelah berbicara dengan Ibu di toko pertama Saya memutuskan untuk singgah hanya di toko penjual seragam sekolah. Agak jauh ke dalam eh saya bertemu dengan abang yang pernah saya temui waktu pengajian di Musala Mustaqim dekat kantor Dompet Dhuafa Inhu.Ternyata si abang jualan di pasar ini. Dirinya juga menunjukkan lokasi toko yang sama yang ditunjukkan Ibu di toko pertama. Oke langsung cuss ke toko yang dimaksud.

Sesampainya di sana saya bertemu dengan seorang Bapak yang sedang menunggu rezeki untuknya datang. Orangnya ramah. Membuka-buka lipatan seragam pramuka lalu bertanya sedikit. Namun sayang dirinya tidak bersedia untuk menukar seragam dua setel itu dengan seragam lain dengan ukuran lebih besar. Alasannya adalah karena seragam itu tidak dibeli kemarin di tempatnya. Saya lalu menjelaskan bahwa baju ini adalah baju bantuan untuk murid di Dusun Nunusan yang diberikan oleh orang baik. Dirinya lalu berpikir sebentar. Saya menangkap bahwa dirinya tidak tahu dusun itu berada di mana. Ya sudah mungkin toko lain. Bapaknya lalu melipat kembali seragam pramuka itu lalu dimasukkan kembali ke plastik yang sudak kucel sejak di perjalanan kemarin.

Kukira ada yang bersedia menukar seragam ini dengan seragam pramuka yang lebih besar untuk kedua muridku. Ternyata tidak. Semuanya tidak bersedia. Sebagian mengatakan stoknya masih ada dan tidak berniat menambah dahulu. Sebagian memberikan persyaratan yang sama jika ingin seragam itu ditukar yakni: kedua seragam ini sebelumnya harus dibeli di tokonya. Sulit kupenuhi persyaratan itu. Bahkan saya tidak tahu dari mana asal usul seragam-seragam ini.Meski begitu semuanya berusaha membantu dengan cara menunjukkan lokasi toko yang menjual seragam sekolah dekat tangga yag sudah aku datangi.

Hingga akhirnya setiap toko seragam sekolah pada bagian kiri dan kanan latai dua pasar ini telah kudatangi semua. Sayangnya, tidak ada yang bersedia menerima “unconditionally.” Semuanya memberikan syarat untuk jika saya ingin menukar seragam itu. Syaratanya tidak dapat kupenuhi jadinya saya pulang dengan membawa dua seragam pramuka yang masih berukuran mini. Saya telah berada di pintu bagian depan pasar. Saya turun ke lantai satu lalu ke luar menuju terik matahari dengan mengenakan jaket yang dominan berwarna hitam bertuliskan “Dompet Dhuafa.” Sinar matahari di kota yang dekat dengan garis khatulistiwa serasa meresap ke sanu bari yang dalam, hehe.

Sekolah kami memang jauh di tengah hutan belantara. Tinggal bersama Uwa Ungko, primata yang menyandang status endangered species yang sering berkeliaran di sekitar sekolah. Terkadang kami juga bertemu dengan Rafflesia hasseltii yang bau bunganya begitu busuk dan dapat mengganggu kami yang sedang belajar. Bantuan telah masuk ke dusun kami dan itu semua kami syukuri. Hanya saja, keadaan bantuan itu tidak selalu pas untuk kami. Terkadang tidak selalu cukup untuk kami. Terkadang ada yang kebagian ada yang tidak kebagian bantuan itu tapi kami bersyukur.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044