Setiap Tindakan Guru Akan Menjadi Panutan Bagi Siswanya

Setiap Tindakan Guru Akan Menjadi Panutan Bagi Siswanya

Oleh: Andri Yulian Christyanto.

 

Sebagaimana Khalifah Umar Ibn Khattab sampaikan kepada kita semua “Didiklah anakmu sesuai zamannya”. Tidak dipungkiri pesan khalifah setelah Baginda Nabi Muhammad saw. tersebut mulai kita rasakan saat ini. Perkembangan teknologi yang kian melejit sedikit banyak mempunyai dampak bagi pendidikan kita saat ini. Bisa kita saksikan, bagaimana karakter pelajar-pelajar kita, seakan-akan pendidikan telah kehilangan ruh sejatinya. Degradasi moral yang tengah terjadi salah satunya disebabkan oleh ketidakbermaknaan pendidikan yang sedang terjadi di tengah-tengah kita. Bermula dari pelecehan lambang negara oleh salah satu artis penyanyi terkenal, selanjutnya disusul oleh berbagai aksi lainya, seperti foto pemuda yang duduk di atas kepala pahlawan perjuangan, tidak berselang lama muncul foto siswa yang sedang merokok dan membakar foto Presiden Indonesia, dan yang lebih parah beredar foto pelajar-pelajar putra dan putri dengan pakaian minim berpose ala-ala foto model yang sedang merayakan kelulusan. Belum lagi ditambah dengan pesta tak senonoh yang dilakukan oleh beberapa pelajar dalam rangka kelulusan UN.

Apalah yang sedang terjadi dengan pendidikan kita saat ini? Beberapa tahun silam kasus kematian pelajar Yuyun menjadi sebagai kado pahit Hari Pendidikan Nasional, saat ini marak beredar santer berita mengenai seorang guru dihukum lantaran memandirikan siswinya, yang kasusnya tengah diurus oleh polisi. Terlepas dari semua peristiwa yang mewarnai pendidikan di negara kita, marilah sejenak kita renungkan bersama, jika ini dibiarkan berlarut-larut, bagaimana nasib bangsa ini apabila diwariskan kepada mereka-mereka yang belum tersentuh oleh kebermaknaan pendidikan.

Sejatinya pemuda adalah pesan hidup yang kita wariskan untuk masa depan. Untuk mempersiapkan itu semua tidak terlepas dari peran institusi pendidikan dan orang tua. Guru merupakan ujung tombak pendidikan, setiap tindakan  apapun yang dilakukan oleh guru akan menjadi panutan bagi  siswanya, sebagai seorang guru sudah seharusnya dan semestinya kita meluruskan niat untuk memperbaiki diri, mengajar dengan hati, menanamkan karakter yang baik, berusaha sepenuh hati memberikan pembelajaran yang bermakna. Itulah tugas utama seorang guru, menanamkan karakter terpuji kepada siswa selain menransfer materi pengetahuan. Maka kita sebagai seorang guru patut menyesal apabila di dalam kelas-kelas ajar, kita sebagai guru hanya mampu meransfer materi saja, belum sampai pada ranah penanaman karakter. Sangat lucu apabila kita berprofesi sebagai seorang guru menuntut gaji yang besar namun melupakan apa sebenarnya hakikat dari mendidik itu sendiri. Menjadi seorang guru dengan keikhlasan hati menyiarkan ilmu, sejatinya adalah investasi untuk kehidupan selanjutnya.

Selain guru, orang tua merupakan pribadi  yang bertanggung jawab sepenuhnya atas anak-anak mereka. Berkaitan dengan karakter anak, kita sebagai orang tua tidak boleh lepas tangan begitu saja. Anak kita adalah anugrah dari Allah Swt. yang telah ditipkan kepada kita sebagai amanah untuk dijaga dan dibimbing, sebagaimana firman Allah dalam surat At-Tahrim: 6 “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, dari surat tersebut, sudah sangat jelas bahwa tugas dan tanggung  jawab utama menanamkan karakter kepada anak adalah kewajiban  orang tua  dan tugas guru adalah membantu orang tua dalam melaksanakan hal tersebut, bukan malah terbalik seperti yang kebanyakan terjadi. Masih banyak orang tua yang menganggap sekolah sebagai tempat penitipan anak, menuntut perubahan yang signifikan dalam setiap aspek kehidupan anaknya namun enggan untuk mendidik anaknya saat berada di rumah. Hal semacam inilah yang harus mulai kita ubah mulai saat ini, kepedulian orang tua berpengaruh besar terhadap keberhasilan anak.

Komunikasi antara sekolah dan orang tua secara intensif tentang pembentukan karakter sangat diperlukan. Hal ini bertujuan mengurangi kesalah pahaman komunikasi antara orang tua dan guru selama kegiatan pembelajaran. Sehingga apabila guru memberikan hukuman kepada siswanya, orang tua dapat memahami maksud dan tujuan dari hukuman  yang diberikan tersebut. Hal inilah yang masih sangat jarang dilakukan oleh institusi pendidikan di Indonesia, sinergi antara sekolah dan orang tua. Melihat semakin pesatnya perkembangan teknologi yang mempunyai dampak positif dan negatif untuk pembentukan karakter  anak-anak kita, sebagai orang tua dan guru sudah seharusnya kita belajar kembali demi menyelamatkan karakter pewaris peradaban. Kebermaknaan pendidikan tercipta dari keikhlasan guru dalam mengajar, guru yang menanamkan karakter, bukan seorang guru yang hanya berorientasi kepada berapa uang yang dia peroleh tanpa menghiraukan kualitas pembelajaran yang dia berikan. Kebermaknaan pendidikan terbentuk dari sikap orang tua yang peduli atas pendidikan anaknya dan mampu menjadi teladan bagi pembentukan  karakter putra-putrinya. Karena sejatinya pendidikan utama hadir dalam ruang lingkup keluarga.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.