Pendampingan Sekolah, Wujudkan Kecintaan pada Negeri

Oleh: Luthfia Azmi O. Nasution*

Sekolah berkualitas menurut Sekolah Jaringan Indonesia lembaga Dompet Dhuafa yaitu sekolah yang memenuhi kualifikasi baik dalam tiga lingkup, yaitu lingkup Kepemimpinan Sekolah, Sistem Pembelajaran, dan Budaya Sekolah.  Sementara sekolah ideal menurut Standar Nasional Pendidikan sedikitnya adalah sekolah yang memenuhi standar minimal dari 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP). Seperti diungkap dalam kutipan berikut:

Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu yang bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pemerintah menetapkan standar nasional pendidikan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional Pendidikan meliputi: 1) standar isi, 2) standar kompetensi lulusan, 3) standar proses 4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, 5) standar sarana dan prasarana, 6) standar pengelolaan, 7) standar pembiayaan, dan 8) standar penilaian pendidikan.  (https://indonesiabelajar.weebly.com/kondisi-ideal.html; diakses tanggal 24 September 2018)

Beragam latar belakang pendirian Sekolah, baik berasaskan kesadaran untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang tertuang pada UUD 1945, maupun karena kepentingan penguatan nilai religius ditengah masyarakat, dalam hal ini sekolah dasar bercorak khas seperti Madrasah Ibtidaiyah yang  memiliki corak khasnya sebagai sekolah bernuansa islami, berfokus pada penguatan materi-materi keislaman. Kaitannya dengan Standar Sarana Prasarana pengadaan halaman untuk upacara menjadi sebuah persoalan bagi sekolah yang dibangun oleh masyarakat atau perseorangan di wilayah kota. Kenyataannya keterbatasan lahan dan biaya operasional misalnya, hal tersebut menjadi alasan jarangnyanya sekolah di kota yang bukan negeri memiliki halaman yang  memadai untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera secara rutin.

Terdapat Lima dari Enam Madrasah Ibtidaiyah Swasta  yang mendapatkan program pendampingan sekolah melalui Divisi Jaringan Sekolah Indonesia yang didampingi oleh dua orang Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (Kawan SLI) di Kota Semarang adalah Madrasah Ibtidaiyah yang tidak memilki halaman memadai untuk melaksanakan upacara.

Sementara aktivitas upacara pengibaran bendera merah putih dianggap penguat dari penanaman nilai kecintaan pada negeri dilingkungan pendidikan sekolah. Jika demikian, apakah keterbatasan yang terjadi mengurangi nilai kecintaan pada negeri di Madrasah Ibtidaiyah?

Beberapa wilayah di Kota Semarang tercatat sebagai kawasan merah yang dikenal dengan istilah “daerah abangan” ditafsirkan sebagai wilayah kekuasaan golongan kiri pada tahun 1960-an, kondisi tersebut cukup meresahkan ketentraman masyarakat serta telah tercatat sebagai sejarah penghianatan sebuah gerakan kepada bangsa ini, sebuah peristiwa yang direkam dengan nama “G30 S/PKI”, maka hadirnya Madrasah Ibtidaiyah dinilai mampu menetralkan keadaan sosial masyarakat sekitar, hingga kini terdapat 83 Madrasah Ibtidaiyah yang dipersentasekan sebasar 98,8%  adalah milik yayasan atau badan wakaf yang tetap eksis berdiri. Hal tersebut merupkan bukti cinta para pendiri Madrasah Ibtidaiyah pada bangsanya untuk berangsur menghilangkan pengaruh buruk kelamnya masa tersebut.

“Orang tua saya dulu membangun sekolah ini dengan alasan untuk mengurangi dampak buruk lingkungan sosial dikawasan Tanjung Mas ini, beberapa belas tahun lalu pernah dilaksanakan razia pedang*  ke rumah-rumah, hasilnya terkumpul 1 truck berisi pedang, alhamdulillah sekarang kondisi kemanan kian membaik.” Jelas Ibu Jarsilah wanita paruh baya pemilik Yayasan MI Kebonharjo salah satu sekolah dampingan Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa.

Sehingga semangat untuk memperbaiki lingkungan sosial terus bertumbuh, dibalik keterbatasan tetap masih banyak cara untuk menguatkan rasa cinta tanah air, salah satu penanaman nilai tersebut kini tercantumkan pada pembiasaan ikrar pagi, pelaksanaan aktivitas apel khususnya di senin pagi, menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa prosesi pengibaran bendera merah putih merupakan salah satu solusi tercepat mengatasi keterbatasan lapangan untuk pelaksanaan upacara.

Aktivitas tersebut telah rutin dilakukan oleh beberapa Madrasah Ibtidaiyah  dampingan Sekolah Jaringan Indonesia lembaga Dompet Dhuafa, melalui program apel pagi ditanamkan nilai kecintaan pada bangsa ini.

_______

*Penulis adalah Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Penempatan Wilayah Kota Semarang bertugas 2018-2019

*Senjata tajam untuk berperang

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044