Pembuktian Kelas C

siswaprestasi

Yohana Rampa

Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 264 Wawondula, Luwu Timur (Sulawesi Selatan)

 

“Kelas C lagi, kelas C lagi!” Kata-kata ini yang biasanya muncul di sekolah kami, SDN 264 Wawondula, Luwu Timur (Sulawesi Selatan), untuk menilai keberadaan kelas yang terdiri dari sekumpulan anak yang susah diatur alias ‘nakal’.

Saya sendiri tidak sependapat dengan persepsi sebagian guru terhadap siswa kelas C. Sering kali saya harus membela anak-anak kelas C yang harus dicoret untuk ikut perlombaan yang mewakili nama sekolah.

Kelas A dan B di sekolah kami sering dianggap kumpulan siswa cerdas. Tidak demikian dengan kelas C. Padahal, keunggulan siswa kelas A dan B boleh jadi dari segi kognitifnya saja. Dari segi afektif dan psiko-motorik belum tentu. Terbukti ketika ada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), siswa kelas C malah yang terpilih mewakili sekolah.

Sebagai guru yang dipercaya mengampu salah satu kelas C, saya selalu memberi semangat kepada mereka untuk tetap optimis dan membuktikan bahwa mereka siswa hebat. Saya juga terpacu untuk membuktikan kepada seluruh warga sekolah bahwa anak kelas C juga bisa seperti anak lainnya, tinggal bagaimana cara guru menempa mereka. Saya teringat sebuah pepatah, “batu yang keras pun akan berlubang jika selalu ditetesi air” atau “pedang yang tumpul akan tajam jika selalu diasah”. Jelas butuh perjuangan yang lelah dan serius untuk membuktikannya. Namun, sekali tekad tetap tekad, dengan sabar dan kerja keras saya mencoba untuk menempa mereka dalam belajar.

Zaman memang sudah berubah, demikian pula cara mendidik siswa. Penga-laman menjadi guru daerah terpencil hingga pengabdian di SDN 264 Wawondula mengharuskan saya beradaptasi dengan perubahan. Senjata pamungkas guru berupa kayu, rotan, mistar, atau cubitan telinga sudah jadi cerita kenangan. Senjata yang baru berupa pujian dan motivasi. Syukurnya, di sekolah saya ada program pendampingan dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Ilmu-ilmu baru dalam pelatihan yang saya ikuti amat membantu saya dalam me-wujudkan pembuktian kelas C.

Siswa bernama Nelson adalah satu diantara siswa yang harus terus didong-krak kemampuannya. Dari yang semula pemalu, saya latih agar berani menjawab setiap pertanyan saya. Demikian pula teman-teman Nelson hingga akhirnya kelas C berisikan sekumpulan siswa yang senang berebut mengacungkan jari saat ingin menjawab pertanyaan gurunya. Tidak hanya berani menjawab, nilai akademis Nelson pun meningkat.

Melalui tulisan ini saya ingin berpesan bahwa setiap anak dilahirkan sama. Ting-gal bagaimana guru-guru mendidik mereka. Janganlah lagi ada perbedaan meski mereka anak pejabat atau anak presiden sekalipun, yang namanya pendidikan harus merata untuk seluruh anak Indonesia.

 

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044