Pembelajaran Akan Abadi Ketika Membawa Perubahan

Pembelajaran Akan Abadi Ketika Membawa Perubahan

Oleh Siti Sahauni

 

Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau. (Soe Hok Gie)

 

Tugas guru tak semudah yang dibayangkan. Dan tidak sesulit yang dipikirkan oleh banyak orang. Karena siapapun bisa mengajar. Mengajar tidak hanya di dalam kelas. Dan pengajaran tidak hanya sebatas memberikan pemahaman pada mata pelajaran yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Namun, sesungguhnya pembelajaran yang mengabadi adalah ketika pembelajaran yang diberikan dapat membawa perubahan. Dari yang belum baik menjadi lebih baik. Tidak cukup hanya sekadar tahu namun juga mahir dan menggunakan kemampuan itu sebagai penopang hidup peserta didiknya di kemudian hari.

 

Tuntutan seorang guru dari tahun ke tahun memang semakin banyak. Tidak. Malah bukan lagi banyak. Namun, sejalan dengan perkembangan zaman guru dituntut untuk memperkaya ilmu dan kompetensinya. Tuntutan itu tidak hanya berlaku pada guru yang sudah PNS. Tetapi juga bagi honorer.

 

Memperkaya ilmu melalui uji kompetensi tak sedikit guru daerah melakukannya. Terlepas oleh butuh atau tidak. Karena kebutuhan yang paling mendominasi mereka adalah materi. Bukan mengukur seberapa besar kemampuan yang dimilikinya. Jika dilihat secara kasat mata, jelas sekali bahwa guru-guru di daerah kompetensi mengajarnya masih di bawah rata-rata. Sehingga penanganan khusus yang seharusnya diterima mereka adalah berupa pelatihan. Tentu bekerjasama dengan pemerintah setempat, kerjasama yang baik dan berkesinambungan ke depannya.

 

Kegagalan seorang guru dalam mendidik yang paling banyak dijumpai hingga detik ini, khususnya di daerah, adalah peserta didik di bangku Sekolah Dasar belum menguasai kemampuan dasar pada tiga bidang yakni membaca, menulis dan berhitung. Padahal kemampuan dasar ini ketiganya akan berdampak besar ke depannya. Bila mereka tidak menguasai itu semua hak mendapatkan pendidikan layak bagi mereka pun rasanya tidak lagi berlaku.

 

Pada akhirnya kenyataan yang terjadi malah berbanding terbalik dengan hasil yang diharapkan. Terutama bagi para orang tua, yang meyakini bahwa dengan sekolah anak-anaknya mendapatkan pendidikan layak dan baik. Tetapi, kenyataannya tidak begitu, karena tugas mulia yang diemban seorang guru ternyata hanya sebatas mengajar. Sehingga ketika kenaikan kelas itu dilalui maka tugas mereka telah gugur.

 

Kenaikan kelas dianggap sebagian guru di daerah sebagai ketuntasan seorang anak dalam belajar. Padahal jika ditelisik lebih jauh. Anak didik yang diajarnya masih banyak kekurangan. Faktor yang mempengaruhi adalah karena kasihan. Dalam keadaan seperti itu, tindakan yang dilakukan oleh guru bagai dewa yang menyelamatkan anak didiknya. Namun sebenarnya tindakan yang dilakukan bukan malah menyelamatkan mereka, melainkan menambah beban pada mereka. Beban yang semakin berat. Terutama pada pelajaran yang diterima oleh mereka makin bertambah sulit.

 

Alih-alih menyelamatkan peserta didiknya. Tindakan guru semacam itu masih berlaku dan berkelanjutan. Hingga kemudian menganggapnya hal biasa. Biasa dilakukan untuk memberikan kompensasi pada anak didiknya agar tidak putus sekolah karena malu tidak naik kelas.

 

Beginikah wajah pendidikan di daerah sebenarnya? Tiba-tiba banyak pertanyaan mengusik pikiranku. Akan nasib dan masa depan anak-anak Indonesia yang diperlakukan demikian. Bagaimana mereka akan menghadapi kehidupan yang kian hari kian bertambah maju? Dapatkah mereka bersaing dengan keterbatasan yang dimilikinya? Dapatkah mereka mendapat kelayakan dalam penghidupannya kelak seperti gurunya yang menjamin kenaikan kelas sebagai kompensasi agar mereka sama dengan anak-anak lainnya.

 

Dalam hal ini, kedudukan seorang guru bukan lagi menjadi dewa. Mengapa demikian? Karena mereka tidak dapat menyelamatkan anak didiknya untuk kesekian kalinya. Ketika anak didik itu mulai memasuki fase di mana mereka tidak lagi menjadi anak kecil. Maka mereka akan menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Sudut pandang seorang anak pun terbuka akan sebuah kehidupan di mana antara kenyataan dan mimpi masa kecil akan lebih rasional pada kenyataan yang ada. Akhirnya mereka hanya dapat menggantungkan nasibnya pada yang Maha Tinggi, Sang Pencipta. (*)

Komentar

komentar