Pasir di Tengah Laut itu Sekolahku

Oleh: Inda Dwi S. (Kawan SLI Angkatan 2, Penempatan Kab. Konawe Selatan)

Bungin adalah salah satu kampung di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bungin merupakan kampung yang terletak di tengah laut. Untuk menuju kampung tersebut, dari pelabuhan belakang pasar Tinanggea menyebrang kurang lebih 15 menit menggunakan perahu kecil bermuatan penumpang 4 orang menuju kampung Bungin. Dari pelabuhan Tinanggea ke Bungin cukup membayar Rp. 5000,00 saja. Untuk keselamatan? Percaya kepada Allah SWT adalah kuncinya. Karena perahu kecil dengan muatan penumpang 4 orang tidak dilengkapi dengan pelampung. Konon katanya masyarakat kampung Bungin kebanyakan adalah masyarakat suku Bajo yang terkenal pandai dalam hal berenang dan menyelam. Mungkin hal itulah yang menyebabkan perahu yang berlalu lalang disana tidak pernah dilengkapi dengan pelampung.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki di kampung Bungin, nampak bahwa masyarakat disana sangat ramah. Banyak dari mereka menawarkan untuk singgah, menanyakan siapa kami, dan apa tujuan kami datang disini. Saat itu langsung saja kami menanyakan dimana lokasi sekolahnya. Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi bahwa di kampung tengah laut tersebut terdapat sekolah satu atap yaitu SD dan SMP. Sekedar informasi, bahwa sekolah di kampung Bungin bukan merupakan sekolah dampingan dri SLI. Namun demikian, berdasarkan wisata edukasi yang kami lakukan kemarin sangat menarik untuk diceritakan.

Di hari minggu pagi itu anak-anak banyak yang bermain di sekolah. Ada yang bermain bola bekel, mempersiapkan jaring untuk menangkap ikan serta ada yang bermain rumah-rumahan diatas tanah. Diatas tanah? Iya, karena saat itu air laut sedang surut sehingga tanahnya nampak. Mereka dengan lincahnya berlarian di tanah, kemudian naik keatas papan sekolahnya tanpa rasa takut dan canggung. Sempat kami menanyakan aktivitas mereka sehari-hari di sekolah, siapa guru mereka, di sekolah belajar apa aja, kemudian muncul satu pertanyaan menarik yang ingin saya ketahui dari mereka. “Ketika pelajaran olahraga biasanya belajarnya bagaimana dek?”, tanyaku pada mereka. Dengan polosnya mereka menjawab “kalau air surut kami main bola voli di lapangan”, ucap mereka sambil menunjuk arah lapangan bola. Lapangan yang mereka maksud adalah tanah biasa yang hanya dapat dilihat ketika air laut surut. Ketika air laut pasang, lapangan mereka hilang, dan olahraga diisi dengan berenang.

Mungkin banyak orang yang takut tinggal di pulau, dikelilingi laut lepas dengan berbagai resiko yang ada. Namun demikian, warga Bungin terlihat menikmatinya. Bahkan dari hasil wawancara, kebanyakan masyarakat yang tinggal di Kampung Bungin merupakan pendatang. Mereka menetap disana menjadi nelayan, petani rumput laut, dan pedagang. Mereka menjalaninya dengan senang hati. Tidak berbeda dengan anak-anaknya, anak-anak disana meskipun hidup terbatas namun semangatnya tetap tinggi untuk bersekolah. Bahkan ketika kami datang, yang notabene adalah orang asing bagi mereka, namun dengan ceria nya mereka bercerita bahwa mereka sudah sekolah, ada yang kelas satu, kelas dua, bahkan TK sekalipun dan itu tanpa kami menanya terlebih dahulu. Tetap semangat anak-anakku, semoga semangatmu tak pernah padam dalam menimba ilmu. Semoga kelak satu, dua, atau sekian dari kalian akan membangun peradaban di kampung kalian, memberi perubahan yang lebih baik di kampung kalian. Dan cerita sore itu ditutup dengan senja yang indah di kampung Bungin.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044