Pak, Ini Bunga Teh Rio?

Untuk ke sekian kalinya saya mengajar dua lokal beserta semua siswa kelas 1, 2, 3, 4, dan 5 sendirian. Untung untuk tahun ini tidak ada siswa yang sedang duduk di kelas enam. Jika ada, maka mungkin rasanya sudah hampir sama payahnya dengan perjalanan mengumpulkan ketujuh bola naga. Jika saya mengajar di kelas rendah, siswa kelas tinggi sengaja ke kelas rendah mencari perhatian.

Biasanya mereka memperlihatkan dirinya tertawa, baik di jendela atau di pintu. Begitu pula sebaliknya ketika saya mengajar siswa kelas tinggi. Ada saja tingkahnya agar di perhatikan.

Teringat sebuah kisah ketika masih di kelas waktu itu. Belum beranjak dari meja guru namun kedua mataku mengarah ke pintu yang masih terbuka lebar ternyata ada si Engget. Sebenarnya nama asli Engget adalah Denis. Terdengar lebih bagus kan?, Tetapi orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Engget. Entah apa makna di balik nama itu, sehingga membuat saya pun kadang penasaran. Beberapa di antaranya memiliki nama alias, seperti Novita tapi biasa dipanggil “Kolom,” atau Rasna yang terkenal dengan nama “Aping.”. Semacam nama panggung gitu bagi musisi atau nama pena bagi seorang penulis.

Suatu hari seusai pelajaran di kelas, Engget mengajak aku mencari bunga untuk ditanam di depan kelas. Sepertinya dia mendengar perbincangan saya dengan Bu Niar dan Bu Yati saat melaksanakan school strategic discussion kemarin. Salah satu pembahasannya terkait pengadaan taman bunga. Hingga akhirnya ia berinisiatif mengajak saya mencari bunga untuk ditanam di kebun sekolah.

Saya katakan kepadanya: “O itu bagus tapi nanti ya kita cari bersama-sama bunga-bunganya lalu di tanam di sini.” Soalnya untuk program kegiatan itu kami belum membuat manual, deskripsi, penanggung jawab, dan berbagai hal yang perlu disiapkan untuk membuat program yang berkelanjutan

Ia menerima penjelasanku lalu mengganti topik. Engget kini bertanya: “Pak, mau mencium bunga teh rio?”, “ Bunga teh rio? Seperti apa tuh” tanyaku keheranan. Ia lalu membawa saya ke halaman tetangga yang cukup luas halamannya. Disana terdapat berbagai pohon diantaranya pohon pepaya, pohon manggis, bibit tanaman, bunga asoka, dan berbagai tanaman dan pohon lain. Ia lalu mengarahkan pandanganku pada serumpun tanaman berbunga putih. “Bunganya mirip sekali dengan bunga melati tapi kok beda ya dengan melati yang kukenal selama ini ya?” aku bertanya dalam hati.

Ketika kucium barulah saya ngeh dengan “bunga teh rio.” yang dimaksud Engget. Ternyata baunya mirip dengan sebuah minuman teh kemasan. Engget mengira bahwa bunga ini meniru bau minuman teh itu. Saya sampaikan bahwa justru minuman itulah yang menambahkan aroma dari bunga berwarna putih ini sehingga aromanya tercium seperti itu.

Tapi bunga apa sih itu? Bunganya sekilas terlihat seperti bunga melati tapi hanya terdiri dari lima kelopak, tidak lebih. Dibandingkan dengan melati, tanaman ini memiliki daun yang lebih ramping begitu pula rantingnya yang juga langsing. Setelah saya cari tahu ternyata namanya adalah Jasminum officinale atau dalam bahasa Inggris juga disebut poet’s jasmine. Seperti murid-murid kami, bunga ini juga punya nama samaran yang biasa dikenal dengan melati gambir.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044