Obama Kecil

Oleh: Dewi Mulyati
Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 014 Gunung Belah, Tarakan (Kalimantan Utara)

Awal tahun ajaran baru selalu saja menghadirkan tantangan berbeda. Inilah yang saya alami selaku guru kelas 1 SDN 014 Gunung Belah, Tarakan (Kalimantan Utara) ketika berhadapan dengan Crismas Lewo Tobing.

Crismas memiliki kelebihan tersendiri. Mengapa saya menyebutnya ‘kelebihan’? Karena dibandingkan teman-temannya, ia selalu tampil beda di hati saya. Sepintas kalau sesama guru bercanda, ia kami panggil ‘Obama kecil’. Kulitnya hitam dengan rambut ikal kecil. Pembawaannya cuek dengan penampilan apa adanya.

Harus banyak kesabaran saya menghadapi anak ini. Kemampunan kognitif dan afektifnya dalam pembelajaran bisa dikatakan rendah. Permasalahan yang terjadi adalah saat Crismas tidak mengenal huruf dan justru malas pergi ke sekolah. Kurangnya perhatian orangtua Crismas menjadi persoalan tersendiri.

Saat mendampinginya, berbagai metode saya gunakan agar Crismas mampu membaca dan menulis. Gaya belajar klasikal hingga privat belum mampu meng-ubah keadaan. Tapi, saya belum mau berputus asa. Saya memilih untuk membe-rinya motivasi agar Crismas tidak malas ke sekolah.

Saya yakin, tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya soal kesempatan yang berbeda untuk mencapai sesuatu yang tertunda. Selain memanggil orangtuanya, saya juga berkunjung ke rumahnya. Di sini lah titik terang saya temukan.

Akar permasalahan yang dihadapi Crismas bermuara pada tiadanya dukungan keluarga. Sikap tidak acuh yang ditunjukkan orangtua (seperti menganggap sekolah bukan prioritas utama) membuat Crismas pun berpikiran serupa Padahal, selama ini saya berusaha menciptakan keadaan belajar itu senyaman mungkin agar Crismas dan kawan-kawannya di kelas merasa tidak tertekan. Selain itu, sepulang sekolah saya berusaha membimbing Crismas untuk dapat membaca.

Akibat tiadanya dukungan orangtua, seolah sia-sia saja usaha keras para guru untuk membimbing Crismas agar bisa membaca dan menulis. Apa artinya itu semua kalau di rumah tidak ada timbal balik peran serta orangtua?

Berbicara dari hati ke hati dengan Crismas sudah beberapa kali saya lakukan. Jawabannya masih sama; ia terlambat bangun. Tentu saja hal ini terkadang membuat saya harus mengelus dada.

Untuk menambah wawasan, saya berdiskusi dengan teman-teman sejawat dan Kepala Sekolah tentang Crismas. Berbagai tanggapan pun diberikan. Seperti biasa, ada yang positif, ada juga yang negatif.

Perjuangan memang butuh kesabaran dan ketelitian sebelum mencapai mimpi yang diinginkan. Dalam doa saya selalu memohon pada Allah Swt agar diberikan kemudahan dalam membimbing anak didik. Dan doa untuk ‘Obama kecil’ pun tidak lupa saya panjatkan, semoga kelak ia menjadi anak yang hebat.

Saya yakin, semua anak punya keunikan, memiliki setidaknya satu kecerdasan dari sekian banyak jenis kecerdasan majemuk. Kecerdasan dengan tingkat kemam-puan berbeda-beda serta gaya gaya belajar yang berbeda pula. Saya berharap, semoga kecerdasan Crismas dapat tumbuh seiring pengalaman dan perilaku positif yang berulang.

Mendampingi Crismas membaca usai jam pelajaran tentu baru sebagian lang-kah kecil untuk membantunya berkembang. Hari-hari ke depan masih banyak yang harus saya lakukan, terutama menyadarkan orangtuanya agar mau peduli pada Crismas Lewo Tobing, si Obama kecil.

 

Dewi Mulyati

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044