Pembinaan Kawan SLI 2 (Tulisan Kawan Nida)

Motivasi, Konsekuensi, dan Manfaat Menjadi Kawan SLI

Ukuran sukses setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang melihat dari tinggi jabatan di tempat kerja, bisa kuliah ke mancanegara, atau bisa menikah dengan orang yang dicinta. Tak semua hal itu juga menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang. Ada orang sukses tapi tidak bahagia. Begitulah kehidupan, selalu digemerlapkan dengan berbagai kemilau yang relatif sekali sudut pandangnya.

Mulai semenjak kuliah, pikiran saya sudah terkontaminasi oleh pernyataan Bapak Ridwan Kamil bahwa, “Pekerjaan yang baik adalah hobi yang dibayar.” Semenjak turut menganut paham itu, maka saya berusaha sedemikian rupa agar ketika tiba masanya berkecimpung di dunia pasca kampus, saya mendapatkan pekerjaan yang membahagiakan.

Alhasil, saya selalu bertanya kepada diri saya tentang apa saja hal-hal yang membuat saya bahagia. Beberapa di antaranya adalah membaca, menulis, dan bertandang ke beragam tempat. Kemudian, ketika saya mendapatkan informasi mengenai pendaftaran Kawan SLI di tahun 2018, saya tak banyak pertimbangan lagi untuk segera daftar. Tanggung jawabnya cukup beririsan dengan hal-hal yang saya suka. Meski, ada beberapa konsekuensi yang tentunya nanti akan saya dapatkan. Salah satu konsekuensinya adalah menembus zona nyaman.

Ketika menjalani tahapan wawancara, Bapak Zainal Umuri selaku pengelola program pada zamannya berkali-kali bertanya, “Kamu yakin bersedia? Siap ditempatkan di daerah mana saja? Kalau susah air gimana?” Saya juga agak khawatir sebenarnya waktu itu, akan tetapi Allah memberikan keyakinan dengan amat mudah kepada saya. Satu hal yang ada dalam pikiran saya saat itu, jika orang-orang di daerah marginal dapat hidup, mengapa saya harus khawatir?

Motivasi Menjadi Kawan SLI

Banyak keluarga dan teman-teman saya yang bertanya mengenai motivasi apa yang mendorong saya untuk menjadi seorang Kawan SLI. Selain dari tanggung jawab pekerjaannya yang beririsan dengan hal-hal yang saya sukai, motivasi lainnya adalah menambah pengalaman. Keluar dari daerah asal akan membuat kita belajar untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda sekaligus menabung pengalaman sebagai bekal hidup. Hal itu pun saya dapatkan selama berada di daerah penempatan. Dahulu, saya kira kesempurnaan hidup tiap orang itu melalui fase yang sama. Akan tetapi tidak, setiap orang punya jalan unik masing-masing. Saya mengamati kehidupan orang-orang di Ogan Ilir serta guru-guru di sekolah yang didampingi. Setiap dari mereka memiliki kisah unik. Ada keluarga guru yang sudah menikah puluhan tahun tapi tak kunjung memiliki putra, ada guru yang hampir pensiun tapi belum bertemu jodoh, ada pula guru yang baru menikah di usia hampir setengah abad. Setiap orang memiliki jalan hidup sekaligus tantangan dari Allah yang unik. Di sini sudut pandang tersebut terbuka.

Motivasi yang tak kalah penting adalah menambah ilmu. Selama dua bulan sebelum penempatan saya banyak mendapatkan ilmu mengenai kurikulum pendidikan, RPP, pembelajaran berbasis literasi, display kelas, menjadi trainer, coaching, dan banyak lagi. Bagi saya, ilmu-ilmu tersebut sangat aplikatif dan bermanfaat. Tak hanya selama saya menjadi konsultan relawan, akan tetapi akan bermanfaat kelak ketika saya menjadi bagian dari masyarakat atau berperan sebagai ibu bagi anak-anak. Betapa baik sekali Dompet Dhuafa Pendidikan, terutama ketika salah satu pemateri pelatihan (kalau tidak salah Pak Syafe’i) menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa Pendidikan menganut sistem efek domino. Jadi, meski nanti Kawan SLI sudah lengser dalam tugas, diharapkan agar ilmu-ilmu yang telah didapatkan dapat tertular dan tak henti tersebar.

Konsekuensi Menjadi Kawan SLI

Setelah dinyatakan lolos menjadi Kawan SLI Angkatan 2, saya pun segera membuat list konsekuensi apa saja yang mungkin nanti akan saya dapatkan. Lalu, saya segera memberitahukannya kepada keluarga inti.

Pertama, akan jarang pulang. Ditempatkan di daerah marginal tentu akan membuat Kawan SLI jarang pulang dalam setahun. Biasanya dalam setahun, saya bisa pulang tiga sampai empat kali. Saya beri tahu kemungkinan terburuk kepada keluarga, bisa jadi saya hanya akan pulang sekali salam setahun atau tidak sama sekali. Namun, alhamdulillah, Allah memberikan takdir terbaik kepada saya dengan ditempatkan di Kabupaten Ogan Ilir Sumatra Selatan. Dengan begitu, saya masih dapat memaksimalkan jatah cuti dengan pulang dua kali selama satu tahun.

Kedua, fisik berubah. Bagi orang-orang yang memiliki adaptasi yang cukup atau sangat baik, sepertinya hal ini tak terlalu menjadi masalah. Namun, bagi saya yang memiliki alergi debu dan sensitivitas kulit yang tinggi, membuat saya harus lebih ikhlas untuk membiarkan jika kelak fisik saya berubah. Ternyata benar saja, di daerah penempatan tempat saya bertugas merupakan daerah rawa, perkembunan karet, dan masih lengang suasananya. Rumah yang saya tempati berada di tengah-tengah kebun sehingga banyak sekali nyamuk besar-besar setiap hari. Alhasil, setiap hari pula saya digigit nyamuk. Saya sudah memakai lotion anti-nyamuk dan minyak telon plus longer protection yang melindungi dari gigitan nyamuk selama 8 jam. Kedua produk itu sia-sia, nyamuk di sini sudah resisten. Membakar obat nyamuk bukan menjadi pilihan, karena saya akan sesak napas. Pilihannya hanya ikhlas jika kulit memiliki bekas gigitan nyamuk yang sukar hilang.

Kondisi air dan debu di Indralaya membuat wajah saya juga bermasalah. Wilayah di sini mayoritas rawa. Airnya tak sejernih air di Garut, kampung halaman saya. Cuaca panas (kalau sedang tinggi bisa sampai 36 derajat celcius) dan tanah merah berdebu membuat kulit wajah saya mudah sekali terpapar. Padahal, saat datang ke Ogan Ilir ini kulit wajah saya sedang masa penyembuhan pasca ekspedisi dari salah satu pulau. Ternyata, kondisi di sini tidak lebih baik. Tak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain rela menerima. Toh, suatu saat nanti pun kulit yang rusak akan menjalani masa pengobatan dan mudah-mudahan Allah memberi kesembuhan. Take it easy.

Ketiga, jarang senang-senang. ‘Senang-senang’ ini ialah dalam arti sudut pandang masing-masing orang. Setiap orang tentu berbeda definisi kesenangannya. Kalau bagi saya, senang-senang adalah pergi ke Gramedia lalu membaca dan membeli buku, pergi nonton ke bioskop, makan makanan khas Sunda, dan jajan cilung (aci gulung). Lagi-lagi, yang patut dilakukan adalah men-setting otak, hati, dan fisik kita untuk rela ‘jarang senang-senang’ selama penempatan. Saya yakin, dengan ‘jarang senang-senang’ kita akan menjadi amat bersyukur saat menjumpai kembali kesenangan masing-masing kita.

Ada sebuah kutipan yang pernah saya baca dari tulisan seseorang, “Bisa jadi, kondisi yang sekarang kita jalani adalah kondisi yang orang lain harapkan. Maka, bersyukurlah.” Setidaknya, setelah direnungkan, kondisi di daerah penempatan Ogan Ilir tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kondisi daerah penempatan Kawan SLI yang berada di pulau Kalimantan atau Riau. Mereka harus berjalan sekian kilometer untuk mendapat air bersih. Ada pula yang harus rela menahan kebosanan akibat tak kunjung makan nasi, yang ada hanya singkong sebagai makanan sehari-hari. Kita semua memiliki cara untuk bersyukur dengan cara masing-masing. Dengan itu, kita dapat lebih menghargai hidup.

Manfaat Menjadi Kawan SLI

Saya merasa banyak sekali manfaat yang didapat selama menjadi Kawan SLI. Hampir setahun di daerah tempat pengabdian, bagi saya, tak sia-sia. Ada banyak hikmah kehidupan yang saya ambil dan menjadikan diri menjadi lebih terbuka serta lebih banyak bersyukur.

Manfaat pertama, mendapat ilmu dan pengalaman hidup. Tentang ini, sudah saya jelskan sebelumnya di bagian motivasi. Ternyata, apa yang menjadi tujuan saya sesuai dengan manfaat yang saya perloleh.

Manfaat kedua, mengenal keunikan daerah penempatan. Hampir setahun di sini, saya sudah mencicipi makanan khas Sumatra Selatan seperti pempek, tempoyak, lenggang, pindang, tekwan, dan lain-lain. Ada salah satu sekolah yang setiap pekan mengenalkan makanan-makanan khas Sumsel. Saya dan rekan saya pun mencicipinya secara gratis. Kemudian, ketika datang masa monev dan jalan-jalan perpisahan kelas VI, menjadi kesempatan Kawan SLI untuk berkunjung ke daerah-daerah wisata dan tempat-tempat menarik di Sumsel. Ada Pulau Kemaro, Alquran Akbar, Masjid Ching-Ho, Gor Jakabaring, Punti Kayu, De-Matto, dan lain-lain. Kesempatan ini menjadi ajang wisata literasi.

Manfaat ketiga, memperluas relasi/jaringan. Salah satu tujuan SLI adalah agar programnya berkelanjutan, sehingga Kawan SLI dituntut untuk membuka jaringan yang luas sekaligus memberdayakan agar ketika Kawan SLI usai masa jabatan, program masih dapat berjalan tanpa pendampingan langsung. Sungguh, realisasi hal ini amat berat di Ogan Ilir. Akan tetapi telah ada contoh di SLI Angkatan 1, yang mana ada sekolah yang dapat berdaya dan justru sekolah tersebut memberi dampak kepada sekolah lain di Musirawas Utara.

Adapun di Ogan Ilir, telah berusaha membuka jalan kerjasama dengan FLP Ogan Ilir. Meski sistem kerjasamanya masih belum optimal, setidaknya Kawan SLI memiliki relasi dengan orang-orang yang sama bergiat terhadap bidang literasi. Selain itu, di Ogan Ilir pula berdisi universitas negeri yaitu UNSRI. Saya dan rekan saya pun memiliki kenalan mahasiswa-mahasiswa yang hebat dan siap sedia membantu kelancaran agenda kami jika dibutuhkan. Menjadi Kawan SLI membukan jalan untuk berteman dengan banyak orang.

Akan banyak kebaikan yang didapatkan selama mewakafkan diri untuk menjadi Kawan SLI. Meski bukan keuntungan materi, menjadi Kawan SLI akan memberi pengalaman yang berarti. Kelak, akan menjadi bekal kehidupan kita di kemudian hari jika kita benar-benar rela menjalaninya. Ada satu kutipan yang saya dapatkan dari Kawan SLI ketika ia dimonev oleh pengelola, “Apa pun yang terjadi tetaplah mendampingi.” Jika kelak banyak hal yang terjadi dan itu tak sesuai ekspekstasi, kembalilah ke niat awal kita (motivasi). Karena motivasilah yang akan menjadi kekuatan selama berada di daerah perempatan.

Kontributor Nida Fadlilah (KAWAN SLI Angkatan 2

Komentar

komentar