Motivasi Hadiah Menguatkan Karakter Anak Didik

Motivasi Hadiah Menguatkan Karakter Anak Didik

Mendidik anak merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua. Namun peran itu kian memudar berdalih pada kesibukan orang tua untuk memenuhi tuntutan biaya kehidupan, tidak sedikit orang tua yang menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada pihak tertentu, sebutlah sosok guru dalam lembaga pendidikan. Peran guru bukan hanya sebagai transfer knowladge, menjadi fasilitator untuk perkembangan anak, namun guru berperan penting dalam mendidik, mengarahkan dan menyiapkan anak menjadi pribadi mandiri dan bertaqwa.

Menghadirkan prilaku anak mandiri dan bertaqwa tentu butuh pembiasaan yang terpola dan terprogramkan. Beririsan dengan hal tersebut Jairingan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan, melalui program Sekolah Literasi Indonesia memiliki program yang mendukung pembentukan karekter anak, terdapat tiga lingkup  yang dikembagkan untuk optimalisasi kualitas sekolah, yaitu Lingkup Kepemiminan Sekolah, Lingkup Budaya Sekolah, dan Lingkup Sistem Pembelajaran. Penegakan pembiasaan yang baik melalui pengelolaan lingkungan kelas, berupa budaya positif dapat mendorong anak tetap termotivasi berprilaku sesuai harapan,  salah satu hal yang dapat dilakukan melalui pemberian hadiah.

Dengan sebuah janji akan diberikannya hadiah, anak akan termemotivasi  untuk melakukan sebuah perbuatan baik. Namun, tetap harus diingat bahwa ada tata cara tersendiri dalam hal pemberian hadiah agar tidak menjadi bumerang yang merugikan diri sendiri. (Irawati Istadi:2016)

Sejalan dengan pendapat tersebut, penanaman karakter pada perilaku anak dapat dikuatkan melalui motovasi hadiah, namun perlu dicermati tatacara memberikan hadiah pada anak sedikitnya dapat memperhatikan enam hal berikut yaitu: Menghargai Perilaku Anak. Berilah anak hadiah karena perilakunya bukan sifatnya, seperti keberhasilan mereka untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, berbagi makanan kepada temannya, atau ketika anak mau mengakui kesalahannya dengan jujur.

Tidak Untuk Selamanya. Bahwa pemberian hadiah hanya bersifat sementara, hanya sebagai perangsang motivasi saja, tegaskan pada anak bahwa suatu saat kelak, ketika anak pandai tanpa hadiah juga harus melakukan hal-ha itu. Pengertian tersebut sebaiknya disampaikan ketika anak dalam kondisi hati sedang gembira.

Dimusyawarakhan Perjanjiannya. Buat kesepakatan bersama hal apa yang jadi aturan bagi kebaikannya, ditulis secara jelas, perilaku yang diharapkan bisa ditumbuhkan pada anak. Berapa jangka waktunya, dan apa hadiahnya.

Bukan Berupa Barang. Bukan berupa barang adalah alternatif  bentuk hadiah terbaik bagi anak. Jadi, bisa berupa perhatian, pujian,  atau bentuk-bentuk kasih sayang lainnya seperti belaian, pelukan, dan sebagainya. Model hadiah ini disesuaikan dengan tingkat usianya. Untuk anak sekolah dasar, lebih tepat diberi banyak pujian, perhatian, dan komunikasi aktif.

Hadiah bintang prestasi, tertangkap dalam pikiran anak adalah kebanggaan karena perhatian dan pujian guru baginya. Misalnya pada rentang waktu yang disepakati, apresiasi dari akumulasi bintang dapat berupa piagam penghargaan yang merekam nama anak dan perikalu baik yang berhasil dicapainya.

Bila Berupa Barang. Nilainya, bukan harganya. Ditekankan kepada anak tentang manfaatnya. Pilih barang yang edukatif dan mungkin dibutuhkan anak. Rancang peristiwa pemberian hadiah tersebut menjadi istimewa, berikan dengan cara istimewa. Meskipun hanya sebatang pensil seharga lima ratus rupiah, namun diberi pita indah dan diberikan dengan memuji terus menerus keitimewaan hadiah dan alasan pemberiannya, bagi anak sudah sangat membanggakan.

Bertahap. Dicanangkan program tahapan capaian perilaku yang diharapkan serta pemberian hadianya. Hadiahnya bisa digabung antara non-barang dan hadiah barang. Misalnya guru ingin anak mampu menegakkan kebersihan.  Ajak anak membuat perjanjian dengan beberapa tahapan. Pertama setiap anak membuang sampah pada tempatnya mendapatkan satu bintang, ketika jumlah bintang mencapai 50, ia dijanjikan hadiah sebingkisan jajanan menarik. Tahap kedua, anak mampu menjaga kebersihan kelas dengan terlibat piket pada jadwalnya, yang melaksanakanya mendapat dua bintang,  ketika jumlah bintang mencapai 50 dijanjikan hadiah sebingkisan jajanan menarik dan mendapatkan kesempatan menonton kisah menarik diperpustakaan.

Agar hadiah dapat mejadi motivasi bukan bumerang bagi diri dengan memperhatikan tatacaranya. Melalui hal ini menjadikan upaya memotivasi anak didik berjalan dengan mudah dan menyenangkan. Sehingga pola yang tepat menggunakan hadiah sebagai motivasi dapat mengutkan karakter positif yang diinginkan terbentuk pada anak. (AL)

 

 

____________

*Penulis adalah Konsultan Relwan Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

Daftar Pustaka:

Istadi, Irawati. 2016. Mendidik dengan Cinta. Yogyakarta:Pro-U Media

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044