Miranda Sang Mutiara

miranda

Miranda Tursinah Hasyim namanya. Berdasarkan penilaian objektif, Miranda dikaruniai banyak talenta.

Cara berkomunikasi siswa kelas 1 ini di atas rata-rata teman seusianya. Bak mutiara terpendam, sungguh sayang bila bakat Miranda diabaikan begitu saja.

Kebetulan di SDN 014 Gunung Belah, Tarakan (Kalimantan Utara) mempunyai salah satu kegiatan ektrakurikuler mendongeng, dan saya sebagai pembinanya. Tanpa ragu saya pun memasukkan Miranda menjadi salah satu siswa yang terlibat dalam kelas mendongeng tersebut. Amat jarang ada siswa seusia tujuh tahun dapat merangkai cerita menjadi satu kesatuan yang utuh dan dapat diterima pendengar dengan baik.

Miranda sendiri antusias menyambut ajakan saya. Demikian pula orangtuanya, Alhamdullilah sangat merespons dengan sangat baik. Komunikasi dua arah dengan orangtua menjadi penting agar kegiatan anak-anak mereka mendapat dukungan.

Kegiatan kelas mendongeng dilaksanakan seminggu sekali setiap Jumat sore. Pesertanya pun beragam, mulai dari kelas 1 sampai kelas 5, dengan waktu pelaksanaan selama sekitar satu jam setengah. Antusias mereka begitu tinggi setiap hari kegiatan. Hal ini tentu saja memotivasi saya untuk lebih ekstra dalam membimbing mereka.

Dongeng yang saya sajikan kepada siswa adalah muatan lokal daerah Tarakan. Isinya cerita-cerita rakyat yang mendidik dan penuh makna berarti.

Setelah beberapa bulan kegiatan berlangsung, ada satu ajang yang amat sayang untuk dilewatkan. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Na-sional yang jatuh pada 2 Mei 2014, Dinas Pendidikan Kota Tarakan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata mengadakan serangkaian acara anak yang di antaranya adalah lomba bercerita atau dongeng bermuatan lokal. Cocok!

Tidak ingin absen dalam lomba mendongeng, saya harus bergerak cepat. Karena setiap sekolah hanya dapat mendaftarkan dua siswa, saya harus menyeleksi siswa-siswa saya di kelas mendongeng. Melalui seleksi sedikit ketat, Miranda terpilih yang masuk.

“Bu Dewi, saya sudah tidak sabar lagi pengen tampil, cepatlah!”

Nah, kata-kata seperti itulah yang selalu menjadi motivasi saya untuk Miranda. Anak yang luar biasa percaya diri. Tidak pernah malu atau takut pada saat tampil di panggung.

“Saya nanti menang kan Bu?”

“Insya Allah.” Hanya itu cara saya menenangkannya.

Tidak saya mungkiri, Miranda sebenarnya belum masuk kategori peserta lomba. Sebab, dalam pengumuman lomba disebutkan bahwa syarat menjadi peser-ta adalah minimal kelas 3, sementara Miranda baru kelas 1. Tapi, saya tidak mau mematahkan semangatnya sehingga tetap saya ikutkan dalam perlombaan ini.

Hari yang ditunggu pun tiba. Jumlah peserta mendongeng sebanyak 64 siswa. Miranda adalah peserta terakhir. Hebatnya, mulai acara pagi hari dan berakhir sore hari, Miranda tetap bersemangat. Luar biasa.

“Lama Bu ya?” Katanya sambil sesekali menguap menahan kantuk.

Saya hanya tersenyum, dan tetap memotivasinya agar tetap bersemangat. Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Setelah namanya dipanggil, Miranda dengan percaya diri tampil di panggung. Tidak ada tampak gugup dari suaranya; matanya sekali-kali menatap ke arah saya sambil tersenyum.

Entah mengapa, malah saya yang tampak gugup seperti orang yang mau tampil. Dada ini jantungnya begitu kuat berdetak dan saya selalu menarik napas. Wow… rasanya seperti saya yang akan tampil!

Setelah kurang lebih sepuluh menit tampil, selesai juga Miranda mendongeng di pentas. Dengan berbagai macam properti yang digunakan, rasanya saya sudah yakin Miranda tampil dengan maksimal. Antusias penonton dan juri pun tak kalah serunya. Mereka memberikan tepuk tangan yang luar biasa atas keberanian Miranda tampil.

Pengumuman yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dari juara harapan sampai juara satu, nama Miranda tidak disebutkan. Hal yang manusiawi bila Miranda pun kecewa. Tetapi, saya tetap memberikan semangat bahwa ini belumlah selesai. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya bahwa Miranda tidak sesuai ketentuan karena ia baru kelas 1. Bagi saya, pengalaman adalah guru yang terbaik, apalagi ini adalah penampilan pertama Miranda.

Sebenarnya juri pun sangat senang dan puas atas penampilan Miranda. Setelah para juri berunding, Miranda dinobatkan sebagai peserta termuda yang memiliki talenta lebih dan sebagai favorit penonton. Alhasil, wajahnya pun berubah menjadi berbinar-binar senang. Walau tidak menjadi juara seperti yang diharapkan, ia tetap senang dan bangga atas apa yang diperolehnya.

Saya sebagai guru pembimbing tidak lantas membusungkan dada atas keber-hasilan ini. Semuanya atas kerja sama yang baik pelbagai pihak. Tidak ada yang tidak bisa selain kita bekerja keras dan mau berusaha untuk menjadi lebih baik.

Terima kasih saya ucapkan kepada Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, dan pihak sekolah, yang semuanya selalu mendukung segala kegiatan untuk kemajuan anak bangsa, khususnya siswa-siswa SDN 014 Gunung Belah, Tarakan. Semoga apa yang telah kami usahakan mendapat keberkahan dan manfaat bagi semua pihak. Aamiin.

 

Dewi Mulyati

Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 014 Gunung Belah, Tarakan (Kalimantan Utara)

Komentar

komentar