Sekolah sebagai institusi pendidikan diharapkan mampu mewujudkan generasi yang menjadi teladan bagi manusia. Teladan dalam kebaikan dan perbaikan. Teladan dalam ilmu dan juga model dalam adab. Namun alih-alih menjadi uswah, generasi yang dihasilkan dari proses pendidikan sekolah masih jauh panggang dari api. Permasalahan semakin kompleks dengan adanya oknum guru yang tidak memiliki kelayakan untuk digugu dan ditiru lantaran karakter dan keilmuannya yang belum memadai. Kepemimpinan kepala sekolah pun menjadi akar permasalahan sekolah sehingga belum menjawab kebutuhan terwujdunya sekolah yang berkualitas.

Karena itu diperlukan suatu usaha perbaikan sekolah guna mengembalikan semangat dan cita-cita pendidikan yang belum terwujud nyata tersebut. Makmal Pendidikan sebagai laboratorim pendidikan Dompet Dhuafa membuat suatu inovasi perbaikan pendidikan untuk sekolah-sekolah Indonesia dengan Metode Uswah. Sebuah metode yang diformulasikan dari pengalaman nyata mendampingi ratusan sekolah sejak tahun 2005 di seluruh penjuru tanah air.

Metode Uswah semula bernama MPC4SP, singkatan dari Makmal Pendidikan Criterias for School Performance. Diinisiasi pada tahun 2013, dan pada tahun 2016 mengalami perbaikan/revisi, yang kemudian dinamai MPC4SP 2.0.  Dan pada September 2017, namanya diubah menjadi Metode Uswah.

Metode Uswah adalah kriteria penilaian untuk mengukur pengembangan kapasitas institusi sekolah. Kriteria tersebut disusun berdasarkan kajian dan pengalaman lapangan tentang konsep pengembangan sekolah yang dilakukan oleh Makmal Pendidikan – Dompet Dhuafa sejak tahun 2004. Kriteria tersebut kemudian dikembangkan secara selaras dengan beberapa kajian teoritik dalam pendidikan dan sebaik mungkin tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dalam bidang pendidikan nasional.

Metode ini memandang bahwa sekolah akan memiliki performa yang bagus apabila ketiga lingkup pembangun sekolah berjalan dengan efektif. Ketiga lingkup tersebut adalah: Kepemimpinan Sekolah, Sistem Pembelajaran dan Budaya Sekolah.

Bagaikan sebuah pohon, sekolah mesti memiliki akar yang kuat. Tanpanya maka pohon akan mati kekeringan. Pun dengan sekolah. Akar bagi sekolah adalah kepemimpinan. Akar yang kokoh akan menjadikan pohon memiliki batang yang kuat dan besar, sehingga daun-daun nan hijau dan buah atau bunga yang bermanfaat dan indah akan tumbuh. Batang itulah sistem pembelajaran, yang dengannya akan menumbuhkan para pelajar menjadi orang besar yang cerdik-pandai. Dari kaum cerdik-pandai inilah diharapkan muncul generasi yang sadar akan keberadaannya di dunia dan menjadi hamba Allah SWT serta khalifah fil ardhi. Generasi yang seperti itu adalah insan yang takut hanya kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Itulah manusia yang memiliki karakter mulia. Inilah buah atau bunga dari sebuah pohon.

Gambar 1. Lingkup Metode Uswah

 

Metode Uswah ini terdiri atas 3 lingkup tadi; Kepemimpinan Sekolah, Sistem Pembelajaran dan Budaya Sekolah. Masing-masing lingkup ini kemudian dikembangkan menjadi dua kriteria. Sedangkan dari masing-masing kriteria diturunkan lagi menjadi dua indikator. Detailnya adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Kriteria dan Indikator Metode Uswah

Tabel 1. Kriteria dan Indikator Metode Uswah

Instrumen Metode Uswah ini dibuat untuk memetakan performa sekolah secara menyeluruh. Dari hasil asesemen performa inilah, maka sekolah akan mendapatkan poin sebesar kinerjanya, lalu sekolah tersebut bisa dikategorisasikan menjadi lima level: Bintang 1, Bintang 2, Bintang 3, Bintang 4, dan Bintang 5.

Dari level sekolah yang didapatkan tersebut, maka tim Konsultan Makmal Pendidikan dapat memberikan penanganan perbaikan sekolah secara tepat dan sesuai kebutuhan. Saran perbaikan diberikan dalam sebuah kemasan diskusi hangat dengan seluruh pihak terkait dalam SSD (School Strategic Discussion).

Ibarat dokter yang telah mampu mendeteksi penyakit pasiennya dan memberikannya resep obat-obatan serta telah berhasil menjelaskannya secara detail dan dipahami oleh pasien, maka hasil pemetaan sekolah dan hasil SSD tersebut ditindaklanjuti dengan “meminumkan obat-obatan”, yakni dengan menyelenggarakan rangkaian kegiatan program pendampingan sekolah. Dalam konsep Sekolah Literasi Indonesia kegiatan tersebut secara garis besar terdiri dari; pelatihan, In-Leading dan E-Leading.

Sehingga bagi Konsultan Makmal Pendidikan, aktivitas mengasesmen dengan instrumen Metode Uswah memerlukan kompetensi diri sebagai seorang asesor. Sedangkan saat memimpin SSD memerlukan kemampuan sebagai seorang konsultan atau coach. Dan ketika menindaklanjuti hasil SSD dengan training, diperlukan kemampuan sebagai trainer. Lalu kembali lagi memerlukan keahlian sebagai konsultan atau coach saat mendampingi sekolah dalam kegiatan In-Leading dan E-Leading. Kemampuan asesor, trainer dan konsultan / coach terakumulasi dalam diri seorang Konsultan Makmal Pendidikan.

Agar Konsultan Makmal Pendidikan, khususnya asesor yang akan melakukan pengukuran performa sekolah, dapat memahami secara utuh instrumen Metode Uswah, maka buku panduan ini disusun.

Buku ini sebagai pelengkap bagi para asesor. Sebelum terjun melakukan asesmen, setiap asesor wajib untuk mengikuti training asesor terlebih dahulu agar memiliki lisensi untuk melakukan pengukuran performa sekolah dengan menggunakan Instrumen Metode Uswah ini. Selamat menjadi pembawa perubahan pendidikan Indonesia!

 

Informasi lebih lengkap dapat menghubungi: 0856-9598-9185 (Pedri Haryadi)