Merajut Perjuangan di Kota ATLAS

Merajut Perjuangan di Kota ATLAS

Oleh: Putri Ria Utami, KAWAN SLI Angakatan 3, penempatan Kota Semarang
Pertama kali kami, para Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI), meninggalkan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa Pendidikan untuk diberangkatkan ke daerah penempatan masing-masing, perasaan kami sungguh campur aduk. Terlebih ketika kami yang ditempatkan di Kota ATLAS sudah duduk di dalam kereta di Stasiun Gambir menuju Stasiun Tawang.
Disela-sela waktu menunggu kereta kencana, aku bersama Husni dan Yuyun menyempatkan foto di Monumen Nasional (Monas) yang terkenal sebagai ikon Ibu Kota Jakarta. Setelah sampai di Semarang kami berencana untuk berfoto di Monumen Kota ATLAS. Setelah asyik berfoto, kami  menunggu kereta tiba. Tet.. tet.. tet.. tet.. tepat pukul 07.00 WIB kereta kencana kami datang, kami akhirnya berangkat menuju Stasiun Tawang.
Hmm sungguh tak disangka, kami akan meninggalkan Ibu Kota Jakarta. “Sampai jumpa lagi Jakarta,” gumamku dalam hati dan juga di Instagram Story. Kereta melaju, aku pun sempat terdiam meneteskan air mata karena mengingat aku harus berjuang kembali di kota yang baru. Kota yang sebelumnya pernah aku singgahi selama sehari, namun kali ini akan ku singgahi selama setahun. Aku yakin, tetesan air mata saat ini adalah isyarat tetesan kebahagiaan nanti.
Perjalanan menuju Stasiun Tawang memakan waktu enam jam, selama di perjalanan aku memandangi pemandangan dari jendela kereta. “Sungguh indah,” kataku. Hamparan sawah, kebun kopi, dan pesisir pantai nan biru memesona membuatku semakin bersyukur, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Sesekali aku melihat ke arah KAWAN Husni dan Yuyun yang terlelap. Saat aku melihat ke arah lain, tepat di serong bangku depanku ada dua orang berkebangsaan Jepang sedang asyik bekerja dengan laptopnya. Ya, sesekali aku mendengarkan obrolan mereka yang terlihat menarik tapi tak kumengerti. Obrolan mereka membuatku mulai mengantuk.
Enam jam berlalu, suara kereta membangunkan kami semua. Senyum kami merekah kala tiba di Stasiun Tawang.
“Alhamdulillah,” kataku dalam hati. Satu per satu barang kami turunkan dari atas kabin kereta. “Ayo, barangnya sudah semua?” tanya pak Khalim sambil tersenyum. “Iya, sudah Pak,” jawab KAWAN Husni
“Oke, kita makan siang dulu ya sudah laper nih,” ucap pak Khalim. “Baik Pak, ini yang jemput juga sudah sampai Pak,” Jawabku.
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Rumah Makan terdekat. “Semarang Kota ATLAS (Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat),” ungkapku sambil membaca plang yang tertera di pinggir jalan.
Kala itu kami makan siang di Rumah Makan Padang Murah. Hal unik yang kutemukan disini adalah makan nasi padang tapi prasmanan, mengambil sesuai porsi dan langsung taruh di meja kasir. Rasa kaget yang tak terkira sebab harganya sangat murah sekali. Aku, Husni, Yuyun, dan pak Khalim sampai terbengong-bengong.
“Sudah kenyang semua?” Tanya pak Khalim
“Sudah Pak,” jawabku tersenyum.
Kembali perjalanan, sepanjang pemandangan kami melihat hamparan pohon jati kering gugur menguning. Kota Semarang, khususnya Kecamatan Tembalang memang sangat panas karena memang daerah perbukitan gersang.
Kami sempat kebingungan mencari alamat penginapan. Ternyata, penginapan kami berdampingan dengan Sanggar Pembuatan Batik Semarang 16, tepatnya Jln Sumberejo, Meteseh, Kecamatan Tembalang.
“Alhamdulillah, sampai juga,” kataku.
“Kawan-kawan kita istirahat dulu ya, nanti sore kita diskusi untuk kegiatan besok,” ujar pak Khalim.
“Baik Pak,” jawab kami.
Perjalanan yang seru dan menyenangkan, walau harus membawa dan mengangkat barang-barang yang lumayan berat untuk keperluan bertugas setahun di sini. Hanya bersyukur yang bisa kulakukan, karena aku ditempatkan di kota pilihanku. Semoga aku bisa menjalankan amanah bersama dua orang KAWAN SLI Semarang di Kota ATLAS.

Komentar

komentar