Menyulut Jiwa di Kampung Hatta

“Pendidikan adalah eskalator sosial dan kearifan manusia. Karena itu membangun kembali pendidikan di ranah Minang pasca-gempa dasyat, amat penting untuk memastikan proses eskalasi ini tidak putus. Menyulut Jiwa di Kampung Hatta menjadi saksi komitmen insan pengajar Sumatera Barat untuk bangkit dari keterpurukan. Semoga mampu menjadi energi dan inspirasi, agar Hatta-Hatta baru kembali terlahir dari Ranah Minang. Man jadda wajada” (Ahmad Fuadi, Novelis Negeri 5 Menara)

Mari tengok kampung Hatta; kampung yang pernah melahirkan para manusia cerdas, kreatif, dan berbudi luhur hingga nama Indonesia dikenal di mancanegara. Mari tengok kampung Hatta; kampung nan elok dikelilingi panorama indah bukit, ngarai, gunung, dan sungai.

Tapi mari rasakan pula perihnya menjadi korban amukan gempa bumi 30 September 2009 di kampung Hatta, Sumatera Barat. Mimpi-mimpi tinggi terkoyak. Cita-cita untuk maju tergerus. Asa untuk bangkit pun enggan beranjak. Tersadarlah bahwa apakah menjadi warga kampung Hatta sudah seperti Bapak Proklamator itu ataukah Cuma sebatas kesamaan kampung kelahirannya?

Dunia pendidikan yang diidealkan Hatta ternyata selama ini terlanjur terabaikan. Menjadi cerdas seolah sudah anugerah dari langit hingga tidak perlu ada kreativitas. Maka, gempa bumi 30 september 2009 tidak semata soal teknis pergeseran lempeng bumi, tapi juga bisa dipandang sebagai penegur atas laku tidak syukur atas kelebihan selama ini.

Hadirnya Dompet Dhuafa bersama beberapa donatur ditengah gempa sejatinya ingin menyulut jiwa-jiwa tangguh yang pernah terlahir di tanah Minang. Etos Hatta, Natsir, Agus Salim, Ning, hingga Hamka ingin dibangkitkan sebagai inspirasi majunya pendidikan Sumatera Barat. Program sekolah pendampingan pasca-bencana gempa tidak semata bicara pembangunan fisik sekolah, tapi yang lebih utama adalah bagaimana menggugah dan menyulut jiwa-jiwa yang masih tenggelam pelik bak Kelok Ampek Puluah Ampek.