Mengenal Batik Gedog di Hari Batik Sedunia

Selamat Hari Batik Sedunia Makmalian. Seperti yang sudah Makmalian ketahui jika Batik merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia, bahkan telah disahkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki ciri khas batik tersendiri seperti halnya Jawa Timur. Berbagai referensi menyebutkan bahwa batik yang berkembang di Jawa Timur terpengaruh dari kebudayaan cina yang dahulu dibawa oleh para pedagang, pengaruh ini biasanya dapat dilihat dari motif-motif batik yang kebanyakan berbentuk burung atau bunga-bunga. Batik awalnya merupakan sebuah seni melukis di atas kain dengan menggunakan cairan malam yang dilukis menggunakan canting tetapi kini dengan berkembangnya zaman proses membatik tidak hanya dilukis tetapi juga bisa dicap atau bahkan hasil pabrikan.

Salah satu daerah yang memiliki ciri khas batik adalah Kabupaten Tuban, sebuah kabupaten yang termasuk dalam kawasan provinsi Jawa Timur. Batik khas Tuban ini dinamanakan Batik Gedog, dari segi motif tidak terdapat perbedaan mencolok dari batik gedog apabila dibandingkan dengan batik jenis lain di jawa. Perbedaan yang mendasar serta menjadi andalan batik gedog adalah kainnya. Kain yang dipakai untuk batik gedog merupakan kain hasil tenunan yang dinamakan gedog kata ini diambil dari suara yang dihasilkan alat tenun pada saat melakukan proses penenunan benang menjadi kain. Suara ini berasal dari kayu alat tenun saling berbenturan dan menghasilkan bunyi “gedog”.

Jika kita melihat lebih dalam maka kita akan menemukan daerah asal batik gedog, yaitu kecamatan kerek. Saat anda memasuki kawasan ini makan anda akan menemukan orang-orang terutama wanita yang membatik hampir disetiap rumah. Secara turun temurun keahlian membatik diwariskan, sehingga bisa dikatakan 90% wanita di Kecamatan Kerek memiliki kemampuan membatik.

Proses pembuatan batik gedog diawali dengan memintal kapas menjadi benang, biasanya proses ini dilakukan pada saat musim kemarau saat tidak ada kegiatan bertani. Kemampuan memintal benang tidak dimiliki oleh mayoritas pembatik, biasanya kemampuan ini hanya dimiliki oleh para orang-orang tua yang diturunkan oleh orang tuanya terdahulu. Proses ini bisa memakan waktu sampai satu bulan untuk mencukupi kebutuhan benang yang selanjutnya akan dipakai untuk ditenun. Bahan dasar pembuatan benang adalah sejenis kapas yang diambil dari tanaman disekitar ladang ataupun dibeli.

Setelah didapat benang yang cukup selanjutnya benang-benang ditenun menggunakan alat tenun tradisional. Proses ini juga memerlukan waktu yang cukup lama dan dikerjakan oleh orang-orang tertentu terutama mereka yang sudah berumur. Kain yang ditenun biasanya memiliki panjang tiga meter dan lebar 80 sentimeter. Proses tenun dilakukan di rumah-rumah produksi batik karena tidak semua rumah memiliki alat tenun. Salah satu rumah produksi yang cukup terkenal di kerek adalah rumah produksi batik milik bapak Zaenal.

Setelah kain selesai baru tahap selanjutnya membatik, proses ini bisa dilakukan di rumah sendiri maupun beramai-ramai di rumah produksi. Proses membatik juga bisa menentukan harga jual dari batik yang dihasilkan. Semakin rumit atau susah motifnya akan semakin mahal harga batik tersebut, selain itu faktor kerapian juga menjadi nilai tambah sebuah batik tulis. Perbedaan batik tulis dan batik cap juga dapat kita lihat dari motifnya, motif batik tulis biasanya akan sulit benar-benar simetris antar motifnya hal ini dikarena pengerjaannya yang manual seperti layaknya orang yang menggambar atau melukis sedangkan pada batik cap kita dapat melihat motif yang simetris karena dihasilkan dari cap yang sudah didesain terlebih dahulu.

Proses akhir dari pembuatan batik adalah pewarnaan, Dahulu proses pewarnaan masih menggunakan pewarna alami untuk memberikan warna pada kain batik, warna-warna alami di dapat setelah melalui proses ekstraksi. Beberapa bahan yang bisa dipakai adalah kulit luar buah kelapa, the, kunyit, dan kayu secang. Namun saat ini untuk menekan harga para pembatik lebih memilih menggunakan pewarna buatan. Penggunaan pewarna buatan juga dipakai jika kain yang dipakai untuk membatik berbahan dasar sintetis. Padahal jika ditinjau dari segi kesehatan pewarnaan menggunakan pewarna buatan justru lebih beresiko terhadap kesehatan kulit dan merusak lingkungan karena belum ada proses pengelolaan limbah yang baik dari rumah-rumah produksi batik. Biasanya para pembatik mandiri menjual hasil batiknya hanya sampai pada tahap pembatikan, hal ini dikarenakan kurangnya kemampuan utntuk melakukan pewarnaan batik. Faktor lain adalah para pengumpul atau pemilik toko batik lebih memilih menerima batik yang belum diwarnai karena harganya lebih murah. Proses pewarnaan batik sebenarnya tidak memerlukan biaya yang mahal tetapi harga jual batik yang sudah diwarnai bisa naik 100% dari pada batik yang belum diwarnai oleh sebab itu para pengumpul lebih memilih membeli batik setengah jadi atau yang belum diwarnai kemudian mereka mewarnai sendiri. Hal ini juga menjadi salah satu faktor penghambat untuk pengembangan usaha kecil batik. Sebagai salah satu penanggulangan hal ini Dompet Dhuafa melalui Klaster Mandiri memberikan pelatihan pewarnaan batik bagi masyarakat di kecamatan kerek.

Batik Gedog asli Tuban sudah sangat jarang diproduksi, hal ini dikarenakan karena membutuhkan waktu yang lama, harga yang cukup tinggi, dan kesulitan dalam pemasaran. Saat ini kebanyakan pembatik tetap menamai batik gedog meskipun mereka menggunakan jenis-jenis kain lain yang langsung mereka beli dipasaran. Dahulu batik gedog masih dapat di jual bagi turis-turis mancanegara yang dibawa berwisata ke desa-desa penghasil batik tetapi 5 tahun belakangan ini sudah tidak ada kunjungan-kunjungan oleh wisatawan asing.

Peningkatan daya guna produk sepertinya harus dilakukan untuk menyelamatkan batik gedog, penyuka batik di Indonesia biasanya memanfaatkan batik menjadi pakaian yang dipakai untuk kegiatan-kegiatan resmi, dan mereka juga rela membayar mahal untuk sebuah model pakaian batik dengan kualitas kain yang baik. Hal ini bertolak belakang dengan pengrajin batik saat ini yang hanya menjual dalam bentuk kain, daster, dan T-shirt, sangat sedikit dari mereka yang menjual dalam bentuk pakaian dengan model atau desain yang menarik. Ini menyebabkan mereka tidak mungkin memproduksi batik gedog yang ditenun karena tentunya harus dijual dengan harga yang cukup tinggi.

Langkah-langkah penyelamatan batik gedog sebenarnya juga sudah menyentuh ranah pendidikan, dimana beberapa sekolah dasar (SD) menjadikan membatik sebagai pelajaran muatan lokal disekolahnya. Membatik tingkat sekolah dasar ini juga sering diperlombakan untuk tetap menanamkan kecintaan anak-anak terhadap budaya asli daerah mereka.

Dompet Dhuafa Melalui program klaster mandiri juga membantu para pembatik agar menigkatkankan nilai jual produk batik mereka. Kegiatan ini berpusat di Desa Gaji Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban Jawa Timur. Program pendampingan ini memberikan peningkatan kemampuan pembatik seperti pelatihan pewarnaan baik menggunakan pewarna alami maupun buatan, memberi kemasan yang lebih menarik, memberikan tempat berupa rumah produksi, dan membantu pemasaran produk batik yang dihasilkan

Setelah melihat beberapa kendala dalam penjualan batik gedog tentunya kita menyadari bahwa peningkatan daya guna produk adalah hal utama yang harus mendapat perhatian. Sebuah kain batik yang belum di warnai akan naik harganya setelah proses pewarnaan untuk itu kemampuan pewarnaan batik harus dimiliki pembatik. Kain batik yang memiliki motif bagus dan warna yang baik pula tentu akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi jika dijadikan pakaian dengan desain yang modern dan di jahit dengan kualitas yang bagus pula. Kemampuan mendesain dan menjahit ini yang juga harus dimiliki para pembatik guna meningkatkan nilai jual batik gedog, sehingga nantinya bisa bersaing dengan berbagai jenis batik lain di Indonesia.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.