Meneliti Dekat dengan Kegiatan Sehari-hari. Gak Percaya? Ayo Buktikan…

Oleh: Yulya Srinovita

 

Nah, sebelum kita membahas apa itu penelitian dan antek-anteknya (haha, kayak apa aja), mari kita simak dulu cerita di bawah ini, tentang dua orang sahabat (Awa dan Nadin) yang baru berbelanja via daring.

 

Nadin: Awa..aku baru beli blazer online lho.. Bagus banget.. Liat deh…(sambil dengan bangga memperlihatkan baju yang dia beli ke Awa sahabat baiknya)

Awa: Oh, Nadin juga beli.. Aku juga baru habis beli blazer via online ni, baru aja barangnya datang (sambil membuka bungkusan paket yang baru dia terima)

Nadin: Lho..blazer kita kok modelnya sama? Awa beli dengan harga berapa? (wajah bingung)

Awa: Aku sih beli dengan harga 100 ribu, bahannya lembut kan? Ini jenis kain leather. Kalau dari referensi yang Aku baca sih ini tuh jenis kain yang tergolong mahal, karakteristiknya lembut dan kencang, cocok deh untuk blazer. Aku dapat harga murah lho..karena sebelum beli, Aku bandingin harga dari beberapa situs. Kisaran harganya 100 ribu sampai 300 ribu. Nah aku dapat yang harganya 100 ribu tapi kualitasnya bagus.. Kalau Kamu beli dengan harga berapa?

Nadin: Oh ya? Murah ya… hehe (Cengar-cengir sambil diem-diem menyembunyikan blazer yang dia beli dengan harga 300 ribu tapi bahannya tidak sebagus punya Awa karena dia tak meriset terlebih dahulu).

 

Berbicara mengenai topik penelitian, pastinya akan muncul di benak kita bahwa PENELITIAN ITU SYEREM, MENAKUTKAN, RIBET, MAKAN WAKTU, MEMUSINGKAN, DLL.. Bener gak? Nah lho..hati-hati kalau kata trainer NLP, fikiran semacam ini adalah “internal teroris” (hehe). Tapi wajar juga sih, ada yang berfikiran seperti itu (mencoba menghibur, hihi) karena ketika berbicara tentang penelitian pasti yang terbayang pertama kali adalah SKRIPSI. Bagaimana dulu hari-hari saat mengerjakan skripsi, makan tak enak tidurpun tak nyenyak, ditambah lagi dosen pembimbing yang galak. Lengkap deh pokoknya penderitaan, sehingga karena skripsi jadi mahasiswa abadi (hayoo ngaku siapa yang mengalami ini??haha).

 

Nah, mulai saat ini ayo buang pikiran buruk tentang penelitian, karena itu semua hanyalah PERSEPSI kamu aja.. Gak percaya? Mari kita balik kepercakapan dua sahabat di atas, kesimpulan apa yang kamu-kamu bisa ambil? Yups benar, Awa memperoleh harga yang murah dengan kualitas yang tak kalah bagus melalui penelitian. Tanpa sadar dia sudah melakukan penelitian sederhana dengan mencari referensi (tinjauan pustaka) dan mengambil beberapa situs sebagai sampel untuk melakukan uji beda/ perbandingan (nganalisis data).. Penelitian itu mudah bukan? Penelitian itu dekat bukan dengan keseharian? Ini baru satu contoh lho..masih banyak buangat contoh yang lain dalam keseharian kita.

 

Begitu juga dengan aktifitas kita dalam dunia kerja baik di NGO maupun institusi lainnya. Apa jadinya jika sebuah program atau kebijakan diambil tanpa adanya data/ hasil penelitian? Bisa terbayang kan? Bukan tak mungkin dong, program yang kita buat tak sesuai harapan karena memang dibuat atas PERSEPSI sendiri tanpa DATA yang menyertai.

 

Nah, udah tergambar kan bahwa penelitian itu sangat dekat dengan keseharian. Tunggu apa lagi… Yuk budayakan riset dalam kehidupan sehari-hari.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.