Mempertahankan Eksistensi dengan Karya

Abad 21 ditandai dengan pesatnya penggunaan internet dan teknologi. Sebelum abad ini, masyarakat awam memiliki akses yang terbatas terhadap teknologi seperti penggunaan handphone. Hanya kaum menengah ke atas yang bisa memiliki alat komunikasi itu.

Namun saat ini, hampir di saku setiap orang terdapat smartphone yang canggih terlepas bisa tidaknya si empu dalam memanfaatkan telepon pintar tersebut. Paling tidak fenomena ini menjadi penanda bahwa kini setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam akses informasi dan bisa melakukan komunikasi secara bebas.

Banyak perubahan signifikan dalam masyarakat yang disebabkan oleh berkembangnya teknologi. Saat ini kita tidak perlu bersusah payah pergi ke bank untuk transfer uang, cukup duduk manis menyentuh smartphone kita. Kita tidak perlu selalu mengagendakan rapat secara tatap muka, bisa mengandalkan skype, koordinasi pun terlaksana. Seseorang bahkan tidak perlu berangkat kerja, cukup membuat video kreatif, saldo rekening pun bertambah. Orang tidak perlu menunggu menjadi dewasa untuk menambah penghasilan, karena sekarang semua usia memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh penghasilan.

Pun, hal ini terjadi dalam dunia pendidikan. Perubahan yang begitu cepat, menuntut setiap kita berlari mengejar ketertinggalan. Guru yang dulu dipandang orang yang serba tahu, kini tidak berguna lagi jika tidak punya kemauan belajar dan berkarya. Tidak perlu manajer atau agensi untuk mengubah seseorang menjadi artis, cukup dengan karya dan kemauan berkolaborasi maka ia akan menginspirasi. Begitu juga dengan guru, tidak ada yang bisa menjadikan dirinya tetap dipandang luar biasa, kecuali ia sendiri mempertahankan eksistensi dengan karya.

Karya apa yang mungkin dihasilkan oleh guru? Tentunya sesuatu yang berguna bagi pengembangan dirinya, pengembangan murid–muridnya dan dapat menginspirasi orang lain. Apa pun bentuknya, tidak masalah. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan membuat karya berupa buku dan media pembelajaran. Di KOMED, guru–guru yang tergabung didorong untuk bisa menghasilkan karya. Kami mengadakan pelatihan Cipta Lagu Pembelajaran, mengadakan pelatihan membuat Board Game, mengadakan workshop membuat diorama, memberikan pelatihan menulis dan banyak lagi.

Pelatihan–pelatihan tersebut bertujuan untuk memberi pengayaan dan pembekalan, serta motivasi bagi guru akan pentingnya mengoptimalkan kemampuan mereka dalam karya. Sehebat apa pun guru di kelas, ia hanya akan diingat sepanjang masa oleh siswa yang pernah diajarnya. Itu pun jika sang guru bisa meninggalkan kesan yang dalam bagi para siswa. Namun bagi guru yang berkarya dan menginspirasi lewat karya itu, ia tidak hanya akan dikenal oleh siswanya saja, tetapi juga oleh banyak orang di luar sana.

 

“Berkaryalah, dengan begitu namamu akan dikenang bahkan oleh orang yang tak kau kenal.” (Anonim)

Komentar

komentar