Membangkitkan Minat Belajar

IMG-20161125-WA0003

Oleh: Yuyu Yuliati Rahayu, M.Pd.

Kisah ini berawal dari sebuah buku hadiah yang diberikan SGI kepada saya buku ini berjudul: “ MENYIBAK MUTU PENDIDIK”  jilid 2 yang diterbitkan oleh Dompet Dhuafa Makmal  Pendidikan. Buku ini isinya cukup menginspirasi saya untuk menuliskan sekelumit pengalaman yang pernah saya alami ketika saya mengajar di SDN Sukacai II kecamatan Jiput kabupaten Pandeglang pada kurun waktu mulai tahun 1991 s.d 1998.

Awalnya saya berfikir bahwa apa yang pernah saya alami ini tidak akan ada manfaatnya apalagi di Zaman yang sudah maju sekarang ini dimana di daerah saya khususnya tingkat kesadaran akan pendidikan sudah mulai nampak. Namun pikiran saya mulai terbuka setelah membaca buku tersebut bahwa mungkin saja masih ada sekolah–sekolah di negeri tercinta ini yang kondisinya sama dengan sekolah saya pada saat itu, dimana kesadaran masyarakat akan pendidikan belum terpatri di hati para peserta didik dan orang tuanya.

Saya berharap pengalaman saya ini bisa menjadi aspirasi bagi guru, kepala sekolah, atau siapa saja yang ada di daerah pedalaman atau dimanapun yang berada di lingkungan tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikan ini masih lemah.

Pengalamannya adalah pada  tahun 1991 diawal saya diangkat menjadi PNS di SDN Sukacai II yang lokasinya berada di kampung Sukacai desa Sukacai kecamatan Jiput kabupaten Pandeglang yang dulu masuk ke propinsi Jawa Barat dan sekarang sudah berubah menjadi Banten. Saat itu keadaan sekolah masih terbelakang , sarpras pun masih seadanya, halamannya pun hanya dipagar dengan tanaman kecil yang siapa saja bisa bebas keluar masuk meski tampa izin dari kepala sekolah atau guru.   Kesadaran masyarakat untuk bersekolah masih minim hal ini ditunjukan  oleh prilaku peserta didik yang lebih memilih menonton hiburan film layar tancap yang isinya menyajikan cerita kehidupan remaja usia 17 tahun ke atas, atau menghadiri acara hajatan serta  perayaan budaya setempat dari pada belajar di Sekolah.

Suatu contoh pada saat bulan Safar tiba masyarakat di kampung Sukacai kecamatan Jiput itu memiliki budaya atau kebiasaan yang turun temurun, hingga saat ini pun budaya tersebut masih terpelihara dengan baik yaitu budaya (ngaleupeut) dimana setiap keluarga membuat ketupat yang bermacam-macam ada yang bahan dasarnya dari beras ketan, kacang tunggak dan kelapa parut dicampur dengan bumbu-bumbu, atau  bisa juga dari beras biasa, bahan tersebut  dimasukan kedalam janur (daun kelapa muda) yang telah di anyam sedemikian rupa kemudian di masak.

Ketupat ini dibuat untuk dimakan dengan lauk pauk atau sayur soto secara bersama-sama dalam acara riungan di Mesjid, bahkan terkadang dijadikan alat untuk bersilaturahmi dengan keluarga yang agak jauh tempat tinggalnya. Yang membuat saya prihatin adalah peserta didik tidak mau masuk sekolah untuk belajar sementara orang tuanya membiarkan begitu saja jika ada acara hajatan, atau tontonan gratis seperti layar tancap atau ngaleupeut. Hal ini akan memberikan dampak negatif untuk perkembangan moral peserta didik jika dibiarkan berlarut-larut.

Padahal jika bulan Safar tiba dan orang-orang di masyarakat sudah mulai memasak ketupat biasanya pagi-pagi sekali bahkan baru bangun tidur sebelum mandi dan hanya cuci muka saja mereka sangat semangat dan berbondong-bondong datang ke Sekolah. Karena mungkin takut dimarahi oleh guru jika ketahuan, jadi sebelum guru datang dan pintu kelas belum di buka masih terkunci mereka sudah menyiapkan karung dari rumah dan datang ke Sekolah dengan membawa ketupat yang mereka sediakan untuk guru maksudnya,  padahal kami para guru tidak pernah sekalipun meminta.

Ketupat itu mereka kumpulkan berdasarkan kelas masing-masing dan di simpan didalam karung di depan setiap pintu kelas. Setelah selesai mengantarkan ketupat mereka pulang kembali ke rumah masing-masing. Saya sebagai guru pendatang baru merasa heran, kok setiap kali ada yang hajatan , atau tontonan gratis seperti layar tancap atau pada saat perayaan budaya ngaleupeut ini sekolah terasa sepi hanya ada beberapa orang saja peserta didik yang datang ke sekolah itu pun peserta didik yang kebetulan berbeda tempat tinggalnya,  setelah saya tanya pada penjaga di sekolah tersebut yang kebetulan datang paling awal karena rumahnya dekat jika dibanding dengan tempat tinggal saya yang agak jauh dan membutuhkan 2 kali naik kendaraan. Saya bertanya kepada penjaga sekolah dan penjaga warung yang ada disekitar Sekolah, ternyata hal ini sudah berlangsung sekian lama dalam arti sudah beberapa tahun sejak sekolah itu berdiri hingga beberapa periodesasi kepala sekolah. Tindakan kepala sekolah saat itu hanya membiarkan saja dengan alasan hal itu adalah sudah menjadi kebiasaan  adat dan budaya masyarakat, yang tidak perlu di usik toh mereka para wali murid juga sudah memahaminya, sejauh itu tidak menimbulkan masalah bagi sekolah katanya tidak apa-apa menurut cerita guru yang ada di sana. Pernah satu waktu di kampung Sukacai itu ada 3 orang yang hajatan di bulan Agustus kalau tidak salah, secara berturut-turut meskipun harinya berbeda yang satu orang hajat  di hari Senin, kemudian hari Selasanya berganti  di rumah warga yang lain dan seterusnya ditambah lagi dengan perayaan budaya ngaleupeut,  sekolah bisa sepi terus menerus sampai 5 hari lamanya dalam seminggu. Kami pun para guru hanya diam disekolah tidak pulang kerumah sambil melakukan pekerjaan apa saja yang bisa kami lakukan ada yang membereskan kelas sambil menata ruangan, ada yang membersihkan rumput dihalaman kelas, ada yang membaca buku, atau ada juga yang meneruskan pekerjaan yang masih tertunda seperti menilai hasil pekerjaan peserta didik dan sebagainya, jika pekerjaan telah selesai kami pun menjadi bosan di buatnya.

Saya merasa prihatin dengan situasi begitu, saya pikir selaku guru saya merasa ikut bertanggung jawab akan keberlangsungan kegiatan pembelajaran di SDN Sukacai II tersebut, saya harus melakukan sesuatu untuk mengubah kebiasaan buruk tersebut dan saya harus segera mengambil tindakan yang tepat yang kira-kira tidak memunculkan masalah baru di lingkungan warga Sekolah. Saya berpikir mungkin Sekolah perlu mengadakan kegiatan yang lebih menarik peserta didik agar mereka meninggalkan kebiasaan buruknya, sebab untuk berbicara kepada orang tua murid atau masyarakat secara langsung sepertinya kurang efektif, selain membutuhkan waktu lama juga tidak semua masyarakat menyadari betapa pentingnya pendidikan, saya tidak berhenti berpikir dan selalu mencari cara yang lebih efektif untuk meningkatkan minat belajar peserta didik, saya berharap mereka akan lebih memilih untuk datang kesekolah dan belajar dari pada hanya sekedar menonton acara hajatan, atau menonton acara layar tancap yang isi ceritanya kurang sesuai dengan anak usia SD yaitu menyajikan tentang prilaku usia 17 tahun ke- atas. Saya berfikir anak usia SD ini rata-rata berusia 6 s.d 12 tahun dimana pada usia seperti ini anak lebih senang bermain-main. Dan kemumungkinan besar dengan mengadakan lomba kegiatan berupa permainan peserta didik akan merasa senang,  mengingat permainan tradisional anak-anak pada saat itu banyak jenisnya seperti main gobag, bebentengan, lomba makan kerupuk, balap karung, membawa kelereng dengan sendok yang digigit, bermain kasti dan sebagainya.

Dan Sekarang ternyata ada juga teori yang memperkuat pendapat saya Masa kelas-kelas rendah SD kira-kira umur 6/7 tahun sampai 9/10 tahun.  Menurut Yusuf (2014:24) beberapa sifat anak-anak masa ini adalah sebagai berikut:

  1. Ada hubungan positif yang tinggi antara kondisi jasmani dengan prestasi, misalnya bila jasmaninya sehat maka banyak mendapatkan prestasi.
  2. Sikap mematuhi kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
  3. Terdapat kecenderungan memujim diri sendiri (menyebut nama sendiri).dan lain-lain.

Jika lomba melakukan permainan ini dilaksanakan di sekolah mungkin bisa menarik simpati peserta didik untuk bisa datang ke sekolah. Di samping itu hal ini dapat membantu  mengembangkan kemampuan peserta didik sesuai dengan bakatnya.

Tetapi saya sempat ragu sebab untuk mengadakan acara tersebut pasti membutuhkan biaya  setidaknya untuk membelikan hadiah bagi para juaranya, sementara gaji saya saat itu hanya berkisar Rp 129.000,- untuk ongkos tiap hari kesekolah selama sebulan pun belum mencukupi apalagi untuk membantu jalannya kegiatan pembelajaran di kelas, atau untuk membelikan alat sebagai sarana untuk bermain seperti bola kasti, karung dan lain-lain, sementara sekolah tidak punya uang lebih untuk melakukan hal itu sebab saat itu belum ada bantuan dari pemerintah (BOS) untuk sekolah.

Sekolah hanya boleh memungut uang BP3 yang besarnya ditentukan oleh hasil musyawarah wali murid dan besarannya pun sangat kecil hanya sekitar Rp150,00,- per peserta didik per bulan. Karena mayoritas wali murid yang bersekolah di SDN Sukacai II itu tergolong masarakat yang kurang mampu. Jika di hitung uang yang berasal dari sumbangan peserta didik itu per bulan Rp 150,00,- dikali 12 hanya mendapatkan Rp1.800,00- per tahun dikali jumlah peserta didik yang hanya 98 orang hanya mencapai Rp, 176.400,00,- per tahun. Itupun yang masuk hanya sekitar 50 % nya. Hal ini hanya cukup untuk membeli kapur tulis belum lagi kebutuhan ATK lainnya.

Saya berpikir keras bagaimana  caranya agar ide saya bisa berjalan dengan baik sambil berdo`a kepada Allah agar masalah ini bisa segera terpecahkan, Keberuntungan pun datang tibalah musim panen buah melinjo dan di Sukacai ini banyak sekali pohon melinjo milik masyarakat, hampir setiap keluarga memiliki pohon melinjo tersebut, bahkan di samping sekolah saja berserakan , banyak buah melinjo yang jatuh dari pohonnya yang dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya,  tiba-tiba terpikir oleh saya kenapa tidak saya berdayakan saja situasi tersebut, peserta didik yang ada di SDN Sukacai II sebanyak 98 orang kiranya bisa untuk mengumpulkan buah melinjo dan membawa buah melinjo kesekolah pada saat musim panen melinjo tiba seperti itu.  Dari satu orang peserta didik dalam sepuluh hari bisa mengumpulkan 100 biji saja sudah banyak yang terkumpul dan setelah terkumpul buah melinjo itu bisa dijual dan hasilnya bisa dipakai untuk biaya lomba.

Mula-mula saya mencoba berbicara dengan guru-guru disela waktu istirahat sambil ngobrol dan membicarakan tentang pemikiran saya itu, sebab untuk berbicara langsung kepada kepala sekolah rasanya sungkan, karena saya masih baru bertugas disana dan belum tau tentang karakter kepala Sekolah,  saya berpikir ada baiknya jika melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan teman sejawat. Al hasil teman-teman pun menyambut baik ide saya tersebut  maka kami sepakat untuk membicarakan hal ini dengan kepala sekolah apabila nanti ada acara rapat rutin di Sekolah.

Waktu rapat pun tiba pada saat giliran saya untuk berbicara saya menyampaikan unek-unek tersebut kepada kepala sekolah, awalnya kepala sekolah merasa ragu tetapi berkat dorongan dari teman-teman yang lain akhirnya setuju juga. Maka diputuskanlah pada saat rapat tesebut setiap anak diwajibkan untuk membawa buah melinjo ke Sekolah setiap hari berapapun banyaknya  bergantung sekemampuan mereka, tanpa ada batas bagi yang tidak punya pun bisa membawa sebab dapat memungut / mulung dari lingkungan sekitar yang biasanya oleh yang si empunya juga tidak dimanfaatkan.

Setelah di praktekan al hasil dalam satu minggu kami bisa mengumpulkan 5 liter buah melinjo kemudian buah melinjo yang terkumpul itu dibeli oleh salah seorang guru pak Effendi namanya yang sekarang sudah meninggal dunia. Kebetulan istri pak Effensi ini suka mengolah buah melinjo tersebut menjadi emping atau keceprek sejenis snek makanan ringan. Satu liter buah melinjo yang sudah dikupas kulitnya hanya dihargai Rp 2.000,00,- dikali 5 liter kami bisa mendapatkan uang sebesar Rp 10.000,-  dalam satu minggu begitu seterusnya sampai musim panen melinjo habis dan kegiatan ini berulang setiap kali musim panen tiba dan anak sudah terbiasa mengumpulkannya tampa harus disuruh lagi oleh guru. Bahkan kami sempat mengumpulkan botol bekas yang dijual seharga Rp.50,00,- per buah dari pada berserakan di sekitar lingkungan membuat pemandangan tidak nyaman dan lingkungan menjadi kotor, kami berusaha memanfaatkannya meskipun untuk satu buah botol harganya murah sekali tetapi lumayan sebagai biaya tambahan jika musim melinjo tidak terlalu banyak buahnya. Selain menggerakan peserta didik kami pun mengadakan pendekatan kepada masyarakat dan membicarakan secara pelan-pelan bahwa kami bermaksud mengadakan lomaba disekolah. Singkat ceritera kami bisa mengadakan kegiatan tersebut dengan lancar berkat kerjasama antara peserta didik, guru dan masyarakat,  yang ada di sekitar Sekolah, bahkan mereka ada yang menyumbang untuk sekedar meminjamkan karung untuk alat lomba balap karung ada juga anak-anak remaja alumni dari SDN Sukacai II yang ikut membantu membuatkan lapangan gobag, dihalaman sekolah dengan menggunakan abu bekas pembakaran kayu bakar, karena untuk membeli cat harganya terlalu mahal. Dan hasilnya Alhamdulillah sangat menggembirakan peserta didik sudah mulai  meninggalkan kebiasaan buruknya dan sekolah pun  mulai ramai lagi meskipun ada acara hajatan atau perayaan budaya tersebut bahkan keadaan malah terbalik ada sebagian warga masyarakat yang menyempatkan diri untuk nonton acara lomba tersebut disekolah, karena banyak pengunjung yang datang pedagang disekitar sekolah pun kebanjiran rezeki, barang dagangannya ikut habis terjual Dan kegiatan mengumpulkan buah melinjo tersebut selalu kami laksanakan karena sangat efektif.  Selain hasilnya dipakai untuk membiayai lomba dalam hal menarik minat siswa untuk belajar, kami juga bisa mengikut sertakan regu Pramuka di sekolah untuk ikut kemping yang biasa di adakan setiap tanggal 14 s.d 15 Agustus oleh Kwaran Jiput dalam rangka memperingati HUT Pramuka setiap tahunnya.

Keadaan ini terus berlanjut sampai saya mutasi ke SDN Batutulis dan berakhir pada sekitar tahun 2003 ketika pemerintah meluncurkan dana BOS untuk sekolah berdasarkan cerita teman-teman yang masih bertugas di SDN Sukacai II tersebut. Tetapi meskipun kegiatannya berakhir sekolah melakukan inovasi dan  mengembangkan potensi yang ada di masyarakat dengan menjadikan home industri pengelolaan emping melinjo menjadi prodak unggulan di SDN Sukacai II sampai  kini, dan masyarakat pun  ikut merasakan manfaatnya dimana anak-anak mereka yang lulusan SDN Sukacai II pada umumnya sudah bisa dan terampil membuat emping melinjo.

Komentar

komentar