Membaca Buku di Kantor Guru

Oleh: Eko Nurhaji Purnomo

Jika kamu bermain ke sekolah kami, akan kuajak engkau bermain petak umpet. Pertanyaannya, di mana kah perpustakaan tempat anak-anak membaca? Pasti kau akan lama menemukanya. Di sekolahku hanya ada enam ruangan, lima ruang kelas dan satu ruang kecil untuk kantor guru. Coba tebak, yang manakah perpustakaannya? Kamu pun pasti bingung, untuk ruang kelas saja kurang apalagi untuk perpustakaan.

Tetapi kamu akan mengetahui jika mengamati ke mana pergi siswa-siswaku ketika istirahat. Ayo, tebak! Mencari kantin? Di sini tak ada kantin, dan janganlah berpikir banyak gerobak pedagang makanan yang bisa nangkring di depan pagar sekolah seperti sekolah di perkotaan. Jika ada yang menjual makanan atau es, para siswa sendirilah yang berjualan, tempatnya bukan warung tapi hanya termos kecil yang dibawa kesana kemari.

Jika istirahat sekolah, lihatlah ke mana mereka berlari mengikutiku bukan menuju ke kantor, bukan untuk mendapatkan hukuman karena terlambat sekolah atau membayar iuran sekolah. Anda akan melihat anak-anak duduk jongkok di depan rak yang memisahkan antara kantor guru dan ruang tamu.

Itulah perpustakaan kami, beberapa jam tiap harinya sering dihabiskan di sini, meski buku-buku yang kami miliki sudah lama. Tapi mereka masih memiliki semangat membaca yang tinggi, mengambil beberapa buku dan membacanya di luar sembari menyeruput minuman es, ada yang duduk di balai sekolah, depan lorong selah sekolah yang menjorok ke depan, tetapi banyak juga yang memilih untuk duduk di sofa tamu. Banyak sekali yang ingin mereka ketahui, salah satunya adalah mereka ingin mengetahui seperti apa bentuknya Monas. Mereka penasaran, Meski tak bisa melihat langsung, melihat gambarnya saja mereka sangat tertarik. “Wah, Monas itu tinggi ya pak! Dari emas lagi, pasti bagus dan mahal harganya!” ucap salah satu murid yang bernama Ridwan kepadaku.

“Iya, bapak pernah ke sana,” jawabku sambil tersenyum. “Wah, bapak hebat!” celetuknya.
“Makanya belajar yang rajin ya, biar bisa pergi ke sana!” jawabku menanggapi celetukannya.
Ini adalah sepenggal cerita bagaimana mereka ingin tahu, secara tak langsung sebenarnya mereka telah memiliki kesadaran diri bahwa membaca itu penting. Meski di rak yang sudah rapuh dan berdebu. Mereka sadar bahwa di buku-buku yang sudah lama ini banyak sekali pengetahuan-pengetahuan yang akan mereka dapatkan. Sayangnya buku yang kami miliki buku-buku lama. Andai saja buku-buku di sini baru, maka tidak mustahil suatu saat ada anak-anak jenius yang akan keluar dari desa terpencil yang kurang perhatian ini.

Tetapi tak apalah, meski buku-buku yang kami miliki lama dan lusuh, tetapi semangat anak-anak ini yang tetap baru. Mereka sadar, bahwa ini adalah dunia baru yang selalu memberinya sejuta petualangan yang menarik. Ini adalah salah satu percakapan yang pernah terucap dariku.

“Makanya kamu banyak membaca, nanti seperti Pak Habibie, bisa buat pesawat terbang, Pak Habibie bisa membuat pesawat terbang dari membaca buku-buku lusuh seperti ini!”

“Iyakah, Pak? Tanya mereka. Aku menjawab, “Kamu tak percaya? Ayo baca!”

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044