Melihat Istimewanya Kota Yogyakarta dari Kacamata KAWAN SLI

Melihat Istimewanya Kota Yogyakarta dari Kacamata KAWAN SLI

 

Oleh: Irfa Ramadhani, KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Yogyakarta

 

 

 

Seorang teman mendapatkan makanan dari guru.

Dengan segera, ia menerima dan mengucapkan terima kasih.

Ketika guru meninggalkannya, tanpa pikir panjang ia hendak membuka bungkusan makanan itu.

Namun, dengan sigap teman yang lain mengambil makanannya kemudian berkata :

“jangan dulu dimakan sebelum kamu yakin bahwa makanan ini dari Allah”.

 

 

 

 

Hari itu adalah hari pertama kami datang ke wilayah penempatan setelah mendapatkan pembinaan selama dua bulan menjadi Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) Dompet Dhuafa Pendidikan Kota Bogor. Meskipun demikian, aku dan satu temanku tidak merasa asing dengan wilayah penempatan tersebut. Hal ini karena kami merupakan dua ‘perwakilan wilayah’ yang dititipkan untuk mendapatkan pembinaan dari pusat dan dikembalikan ke wilayah ketika menyelesaikan pembinaan. Sementara itu, dua belas teman kami mendaftar secara pribadi ke kantor pusat (bukan perwakilan wilayah) sehingga mereka tidak mengetahui wilayah penempatan sebelum pengelola mengumumkannya.

 

 

 

“Jogja Istimewa”, seringkali teman-teman menyebut jargon tersebut ketika kami mendapatkan perlakuan yang berbeda dari pengelola. Sebenarnya birokrasi pelaporannya saja yang sedikit berbeda, tetapi hak yang kami dapatkan, bisa dikatakan sama seperti teman-teman kami lainnya.

 

 

Mengingat hal tersebut, jargon “Jogja Istimewa” memang benar adanya. Bagiku, Yogya sangat istimewa. Bukan hanya berkaitan dengan kantor wilayah saja, tetapi Allah berkenan mengantarkanku menjadi pribadi yang berbeda melalui kota ini. Harapannya menjadi pribadi yang lebih baik dan perubahan itu juga nyata dirasakan oleh orang-orang sekitarku. Semoga.

 

 

 

Hal pertama ketika datang ke Jogja setelah melakukan silaturahim dengan pimpinan Dompet Dhuafa Jogja dan jajarannya, tentu berkunjung ke tempat tinggal orang-orang teristimewa adalah prioritas utama. Ummi dan Abiku (guru) berada di sana, dan saudari-saudariku seangkatan juga sebagian besar masih berada di sana. Selalu saja…. mendapatkan pelajaran tak ternilai ketika kaki ini menjejakkan langkahnya di sana.

 

 

 

Hanya beberapa jam saja bertemu dengan mereka, tiba-tiba saja kantong-kantong semangat itu kembali meluap-luap. Melihat teduhnya wajah guru, mencium dan memeluk beliau, menyentuh kaki beliau, hhhhhhh… Haru itu kian sulit dibendung. Kembali teringat masa-masa itu, ketika beliau membangunkanku tersebab beliau kesulitan tidur, ketika beliau memintaku ‘memetani’ (membersihkan kulit kepala beliau, padahal kulit kepala beliau sudahlah bersih), ketika aku terkantuk-kantuk dalam kepura-puraan pengambilan ketombe di kepala beliau. Kadang beliau sampai tertidur dan aku berupaya untuk tidak menimbulkan suara ketika meninggalkan beliau dalam tidurnya, tetapi….. seringkali beliau tetap saja tidak tertidur.

 

 

 

Melihat wajah-wajah teduh lainnya, para saudariku yang menyambut aku dengan senyum dan pelukan, hangaat! Rindu……. rindu ketika kami berproses bersama, rindu ketika kami bahagia dan bahagia bersama. Akhirnya, rindu kepada mereka Allah urai pada hari itu.

 

 

 

Oiya, ada satu cerita di hari itu. Seorang teman mendapatkan makanan dari guru. Dengan segera ia menerima dan mengucapkan terima kasih. Ketika guru meninggalkannya, tanpa pikir panjang ia hendak membuka bungkusan makanan itu. Namun, dengan sigap teman yang lain mengambil makanannya kemudian berkata “jangan dulu dimakan sebelum kamu yakin bahwa makanan ini dari Allah”.

 

 

 

Ngiiiiing… tiba-tiba ada ‘dengungan keras’ yang membuat hati ini bergeming. Cerita tersebut merupakan perbincangan antara saudari-saudariku. Ya Allah, apa kabar dengan diri ini? Sudahkah aku menyadari betul bahwa apa yang aku dapatkan adalah rezeki dari Allah dan bukan hasil kerja kerasku? Dan kini ‘semakin menjadi’, sejak bergabung sebagai volunteer Dompet Dhuafa, hari-hariku difasilitasi oleh uang umat! Katanya aku fi sabilillah. Tapi…. bukankah itu merupakan amanah yang begitu besar? Sudahkah aku menancapkannya kuat-kuat dalam hati, sehingga niat itu dapat mendorongku sedemikian rupa untuk beramal dengan lebih baik? Sudahkah aku memastikan bahwa setiap apa yang aku lakukan sesuai dengan apa yang Allah suka? Sudahkah aku memahami betul bahwa semuanya akan aku pertanggungjawabkan dihadapan Allah?

 

 

 

…. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa

atau kami melakukan kesalahan….

 (Al-Baqarah : 286)

 

 

Komentar

komentar