Melahirkan Pemimpin dari Membaca!

Oleh Dini Wikartaatmadja

 

Iqra! Read! Lesen! Lire! Letto! Yomu! Il-gi! Chitat’! Artinya adalah Bacalah! Kata yang mengandung perintah yang menghendaki sebuah perubahan dari pasif menjadi aktif,dari diam menjadi bergerak, dari tidak bisa menjadi bisa dan dari tidak tahu menjadi tahu. Perubahan ini menunjukkan telah terjadinya sebuah kemajuan dengan bukti bertambahnya ilmu dan keahlian. Dengan demikian, siapapun yang ingin ilmu dan keahliannya bertambah berarti ia harus membaca.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] baca,membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Selain itu, baca membaca juga diartikan sebagai mengeja atau melafalkan apa yang tertulis,mengucapkan, meramalkan dan menduga.

 

Dengan kata lain, kegiatan membaca terbukti bukan sebuah kegiatan pasif yang menangkap serangkaian huruf kata dan kalimat melainkan secara aktif memasukkan kata dan serangkaian kalimat tersebut ke dalam otak. Ada proses yang rumit ketika seseorang membaca. Setidak-tidaknya minimal ada tiga indera yang berperan dalam melakukan aktifitas ini, yakni mata untuk menangkap kata dan kalimat, mulut yang terkadang ikut melafalkan terutama saat menemukan kata yang sulit dipahami dan telinga ikut melakukan kerjanya,mendengarkan lalu tangan yang sibuk membalikkan ke halaman berikutnya.

 

Setelah semua indera itu selesai kemudian ada otak yang mengolah semua informasi yang masuk dengan kerja syaraf yang tentu saja begitu ajaib. Otak kemudian menghubung-hubungkan berbagai sensasi seperti kabel-kabel dan transistor menghubungkan aliran listrik. Karena itu tidak heran saat membaca buku yang sedih,sang pembaca pun bisa ikut menangis, atau saat menemukan bacaan yang lucu,sang pembaca pun bisa tertawa hingga terpingkal-pingkal. Dengan demikian, membaca juga tidak hanya sekedar aktivitas otak saja melainkan hati yang ikut tersambung di dalamnya. Karena itu, tidaklah heran, saat seseorang telah mengahabiskan satu bacaaan maka sang pembaca akan memperoleh “pencerahan” baik secara intelektualitas maupun mentalitas.

 

 

Pemimpin dan Membaca

‘Not all readers are leaders, but all leaders are readers.’ [Harry S. Truman]

Tidak berlebihan jika presiden Amerika yang ke 33 ini mengatakan demikian. Jika ditilik lebih jauh memang semua pemimpin besar baik di Indonesia maupun di dunia adalah seorang yang gila baca.

 

Sebut saja, Bung Karno yang begitu piawai berpidato berkat kegemarannya melahap pemikiran mulai dari timur hingga barat. Bung Hatta yang begitu cintanya dengan buku sampai mengatakan bahwa buku sebagai istri pertamanya. Juga ada Karl Marx seorang gila baca yang mampu bertahan di kamar selama 12 jam hanya untuk membaca tanpa makan dan minum.

 

Selanjutnya ada, Mahatma Gandhi yang merupakan seorang yang kutu buku yang suka merenung dan menuangkan pikirannya ke dalam tulisan yang jika dikumpulkan dapat mencapai 80 jilid. Tak ketinggalan, Barrack Obama yang disebutkan saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Harvard, Obama adalah seorang kutu buku yang mendalami masalah kemiskinan dan hukum. Ia mendalami pemikiran para mantan hakim agung seperti John Marshall, seorang negarawan tersohor AS, Oliver Wendell Holmes. Pendek kata ia menjadi seorang yang rakus membaca. Lalu, Steve Jobs, seorang inovator yang berhasil mengawinkan sastra dengan teknologi. Semua inspirasinya datang karena kesukaannya membaca karya sastra dan seni.

 

Dari beberapa pemimpin besar di dunia tersebut ada lagi kesamaan mereka selain menjadi pembaca yang gila adalah pengenalan aktivitas membaca sejak usia dini. Mereka dikenalkan buku baik oleh orangtua maupun teman di lingkungannya. Kemudian, membaca menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan dalam menemukan jati diri dan inspirasi dalam kehidupan.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.