Langkah Guru Rahayu

Oleh: Usni Yadi

 

Langkahnya selalu riang kala melewati jalan setapak setiap pagi. Sebelum matahari memunculkan sinarnya di ufuk timur, ia sudah lebih dulu melesat untuk mengemban tugas. Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi Rahayu daripada mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengajar murid-muridnya.

 

Dengan segenap kemampuan yang ia miliki, Rahayu berharap bisa membimbing anak muridnya untuk menjadi pribadi yang membanggakan. Tidak peduli seberapa jauh dan becek jalan yang ia lalui, Rahayu selalu melewatinya penuh rasa senang. Kadang ia membawa sandal cadangan agar sepatunya tidak kotor ketika dipakai untuk mengajar.

 

Rahayu dikenal sebagai salah satu guru paling menyenangkan di sekolah tempatnya mengajar. Selain karena cara mengajarnya yang tidak membosankan, Rahayu juga hafal seluruh wajah dan nama setiap murid di setiap kelasnya.

 

Suasana kelas kerap kali riuh menyambut kedatangan Rahayu ketika ia melangkahkan kaki memasuki ruangan bernuansa biru itu. Dengan tangan membawa beberapa buku sebagai bahan mengajar, ia menyapu pandang. Papan tulis yang masih kotor menyambutnya. Suara riuh para siswa pun seketika senyap.

 

Lantunan salam Rahayu menggema di seluruh sudut kelas. Langsung sukses menghentikan seluruh murid yang sedang mengobrol. Tanpa ragu, Rahayu mengambil penghapus yang bahkan sudah amat berdebu itu. Dihapusnya papan tulis putih itu dengan cepat tanpa meminta bantuan murid atau mengandalkan jadwal piket kelas. Selalu seperti itu.

 

Setelah mengumandangkan doa sebelum belajar, tanpa membuang waktu, Rahayu membuka buku. Seperti biasa ia bertanya sampai mana pelajaran yang diberikannya minggu lalu.

 

“Menurut kalian kisah cinta siapa yang paling romantis?” tanya Rahayu. Selalu seperti itu, ada cerita sebagai pembuka pelajaran.

“Romeo dan Juliet!” Seru salah satu muridnya yang duduk di kursi pojok.

“Bukan!”

“Kisah romansa di novel!” Jawab muridnya yang lain.

“Bukan juga!”

“Rama dan Shinta!” Seru yang lain lagi. Masing-masing murid menyumbangkan pendapatnya tanpa ragu.

“Cleopatra dan Mark Anthony?”

“Paris dan Helena?”

“Pasti Odysseus dan Penelope!”

Para siswa bersemangat menyebutkan kisah cinta paling romantis yang pernah mereka ketahui. Dengan senyum hangat, Rahayu pun buka suara.

 

“Kalian pernah dengar nggak cerita tentang Nabi Muhammad waktu beliau pulang malam?! Nabi memilih tidur di depan pintu karena tidak ingin membangunkan sang istri, Aisyah. Aisyah sendiri tidur di belakang pintu menunggu Nabi Muhammad pulang lho. Romantis kan?!”

 

Semua muridnya mengerjap tak percaya. Mereka selalu terhipnotis dengan cara mengajar Rahayu yang nyaris terlalu nyaman dan mudah menjaga komunikasi.

 

“Cerita mana lagi yang lebih romantis dari itu?” Tanya Rahayu sebagai pemungkas cerita pengantar materinya hari itu.

 

Rahayu kerap kali menceritakan sedikit kisah nabi yang ia ketahui, dan menjelaskan apa pelajaran yang tersirat di dalamnya. Bukan hanya untuk membuat para muridnya nyaman dan tidak terlalu jenuh, tapi Rahayu juga ingin memperkenalkan betapa indah kisah nabi pada zaman dahulu. Kisah-kisah yang tidak usang digilas zaman.

 

Rahayu selalu memperbanyak interaksi dengan semua muridnya, tanpa membedakan satu dengan yang lain. Entah si pintar, si rajin atau si malas, semua ia perlakukan sama. Rahayu pun berusaha membuat suasana kelasnya menarik. Ia mulai dari menghafal satu per satu nama muridnya, melempar pertanyaan setiap membuka pelajaran, hingga melempar humor agar suasana kelas menjadi cair.

 

Siapa pun akan merasa nyaman begitu mengenal sosok Rahayu. Ia yang tidak segan mengulang materi jika ada salah satu murid yang tidak mengerti. Diulanginya lagi dan lagi sampai semua muridnya benar-benar paham. Karena bagi Rahayu, semua anak memiliki potensi yang sama untuk meraih masa depannya yang cerah. Tidak selalu tentang yang pintar akan lebih dulu sukses, atau yang malas hanya akan jadi anak luntang-lantung tidak jelas. Karena Rahayu selalu mengajarkan, “Jika kita mau berusaha, bahkan bintang di langit pun bisa kita genggam.” Kalimat itu tentu saja hanya kiasan, sebagai gambaran akan banyaknya keberhasilan yang bisa kita raih jika kita mau berusaha, tidak hanya diam.

 

Itulah sekelumit kisah Guru Rahayu, guru ideal yang selalu dirindu. Semoga banyak guru yang seperti itu. Karena para siswa hanya akan merasa nyaman dan mendengarkan guru yang mampu menyentuh kalbu.

Komentar

komentar