Konsultan Relawan: Memeluk Sekolah Dampingan SLI

Konsultan Relawan atau lebih akrabnya di sapa Kawan adalah sebutan bagi pendamping Sekolah Literasi Indonesia. Peran ini membawa aku mengenal pendidikan lebih dekat, menyapa pendidikan lebih sering, dan mengenggam pendidikan lebih erat. Meski dalam skala kecil di lima sekolah Kab. Indramayu, sebuah daerah baru dengan peran baru memiliki tantangan tersendiri.

Masih terekam jelas saat kunjungan perdana ke tiap-tiap sekolah dampingan. Sambutan yang hangat adalah kesan pertama khas orang jawa yang ramah, namun sambutan hangat tak selalu berbanding lurus dengan penerimaan. Jamuan penyambutan tak bisa mewakili semua pihak menyambut baik kehadiran kita. Tentu ada segelintir yang juga memasang tameng pembatas dengan kedatangan kami, menyelidik penuh curiga, meragu penuh kesangsian. Kemudian ada beberapa guru yang mempertanyakan “Apa yang akan kami dapatkan dari program ini? Apakah program ini menjamin karakter yang baik bagi siswa di luar jam sekolah hingga setelah lulus dari sekolah ini?”. Ada juga yang menyerah sebelum bergerak, “yang namanya program pasti membutuhkan dana dan kondisi sekolah kami begini dan begitu”. Belum lagi yang mencibir “apa keuntungan yang didapatkan lembaga anda, padahal inikan tugas pemerintah?”. Percayalah menjelaskannya dalam bahasa yang sederhana dan sesantun mungkin itu tidak semudah yang dipahami.

Akan kusampaikan juga tentang sarana dan prasarana. Aku tidak percaya. Di pulau jawa ini, kabupaten yang dinobatkan sebagai lumbung padi nasional, masih ada meja kursi yang lebih tak layak pakai dibanding yang kugunakan di puluhan tahun lalu. Masih ada ruang kelas yang seharusnya menjadi gudangpun sudah tak layak. Mungkin wajar jika di pelosok, tapi di sini bukan pelosok. Aku juga tercengang dengan ruang kelas dibagi 2 rombongan belajar, kelas 4 dan kelas 5 yang hanya dibatasi tripleks mading. Tapi faktanya kelas tersebut sudah berjalan sepanjang semester ganjil ini. Jangankan mencari fasilitas pendukung, mendapati ruangan tergembok berisikan buku yang berserakan penuh debu dan sarang laba-laba dengan sisa-sisa gigitan tikus adalah sebuah nafas kelegaan.

Akan kuceritakan juga tentang jarak, kunjungan ke Sekolah harus menempuh 20an Km di tiga Sekolah Dampingan, bahkan kadang menghabiskan 1 jam perjalanan. Belum lagi soal akses jalanan bebatuan rusak di salah satu sekolah yang menjadi momok terberat tiap kunjungan kesana. Ditambah akses kendaraan pulang-pergi yang memberatkan. Namun di hamparan bebatuan jalan dan jarak yang jauh aku mendengar banyak perjuangan. Tentang Guru-guru yang setiap harinya pulang pergi melintasinya, hanya dengan harapan Rp.300.000an per bulan yang harus di rapel pula,  bukan satu-dua, bukan sekali-dua kali, bukan setahun-dua tahun tapi hingga puluhan tahun. Tentang paradigma dan komitmen adalah wilayah hati dan memang tak pernah punya tolak ukur.

Diketerbatasan sarana dan prasarana yang kuanggap sebagai kekurangan, selalu ada kisah antik dibaliknya. Tentang gedung yang kusebut tak layak telah menjadi saksi belajarnya ribuan generasi penerus bangsa. Dititik ini, di purnama pertama yang sudah terlewati, aku mengakui bahwa amanah ini memang tidak bercanda. Saat kamu harus memberikan sesuatu kepada orang lain, maka yang paling pertama adalah memastikan kita punya sesuatu. Saatnya meluruskan niat, membenahi presepsi dan mengolah semua hal dengan positif. Wejangan saat pembinaan bahwa “Fokus utama kita adalah pada yang mau menerima, pada yang siap bekerja bersama” menjadi penguat.

Pada akhirnya, makin kesini makin melihat lebih luas, masih ada yang jauh lebih banyak menerima kita. Justru keberadaan kita di sini adalah kehadiran yang diharapkan, tantangannya sekarang adalah bagaimana memeluk sekolah dampingan, membentang kebaikan dengan erat pada mereka yang ada. Bersama Dompet Dhuafa mari menjawab panggilan zaman “saatnya turun tangan, saatnya berkarya, saat melakukan apapun untuk Indonesia, untuk Pendidikan, untuk sekolah, dan untuk diri sendiri kepada Yang Maha Benar menitipkan amanah ini”. (Jumrawati, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Komentar

komentar