KOMED: Kolase Bermakna

 

Oleh: Amalia Burhani Wulandari

 

“Ibu, aku udah bawa kacang sama lem!”

“Bu Ama, kita mau ngapain sih?”

“Buuu, aku bawa kacang kedelai sama kacang hijaunya sedikit. Nggak apa-apa kan?”

Namaku Amalia, saat ini aku mengajar Kelas 1 di MI Muhammadiyah 2 Bandung. Seperti biasa, baru saja sampai di kelas aku sudah disambut oleh celotehan-celotehan siswaku yang penuh keceriaan. Kelas sudah sangat ramai, mereka antusias karena kuberi tugas yang tidak seperti biasanya. Aku hanya bisa tersenyum tanpa menjawab pertanyaan yang mereka berikan. Seru rasanya membuat mereka penasaran.

 

Anak-anak kuberi tugas membawa bahan-bahan untuk pelajaran SBDP (Seni Budaya dan Prakarya). Terdiri dari satu plastik kecil kacang hijau, satu plastik kecil kacang kedelai, dan lem putih dengan merk Fox. Kami akan membuat sebuah kolase menggunakan bahan–bahan alam.

 

“Anak–anak, boleh sekarang Ibu gantian yang bicara ya?!” seruku seraya berdiri di hadapan mereka. Kuungkapkan bahwa kami akan membuat sebuah kolase. Anak-anak tampak bingung, karena kolase masih asing di telinga mereka.

 

Aku menjelaskan bahwa kolase adalah menghias sebuah gambar dengan cara menempelkan macam-macam bahan. Bisa dengan bahan alam seperti dedaunan kering atau kacang–kacangan. Bisa juga dengan bahan buatan seperti kertas lipat. Kemudian kujelaskan kepada mereka bagaimana langkah-langkah membuat kolase. Anak-anak mengangguk–anggukan kepala pertanda telah paham.  Aku memilih sebuah kaligrafi sederhana bertuliskan lafaz Allah, anak–anak antusias melihatnya.

 

Kami pun mulai membuat kolase. Anak-anak mengoleskan lem tipis-tipis di atas lafaz Allah, lalu menempelkan satu per satu biji kedelai dan kacang hijau. Aku biarkan mereka bebas berekspresi dengan kolasenya masing–masing. Tiga puluh menit pertama, semangat anak–anak begitu berapi–api. Menit–menit berikutnya mulai deh mereka bosan. Keluhan mulai terdengar di sana-sini. Anak-anak mengeluh karena lama, pegal dan capek.

 

“Bu, aku mah pengen dibawa pulang aja!”

“Ibu… masih banyak… pegel!”

 

Kurang lebih seperti itu ungkapan mereka. Karena memang menempelkan kacang–kacangan memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk mengobarkan semangat yang telah mulai padam, aku kemudian menceritakan kisah kura-kura dan kelinci yang berlomba lari.

 

Inti dari kisah itu adalah kesabaran yang membuahkan hasil. Aku meminta kepada anak–anak untuk meningkatkan kesabaran mereka dalam mengerjakan kolase ini. Karena dengan demikian akan menghasilkan karya kolase yang indah. Anak–anak akhirnya bersemangat kembali menempelkan butir demi butir kacang hijau dan kacang kedelai yang mereka bawa. Senyuman yang tadinya sirna sejenak karena lelah, akhirnya muncul kembali.

 

“Ibu, aku udah! Boleh dikumpulkan di mana?” tanya Hafiz salah satu muridku.

“Boleh Nak, sini kumpulkan di meja Ibu ya!” jawabku.

“Aku juga beres bu. Alhamdulillah…” seru anak–anak yang lain.

“Alhamdulillah, nah kan apa kata ibu?! Kalau kalian bersabar insyaallah semua akan selesai dan hasilnya bagus. Ibu lihat kolasenya indah–indah sekali!” tambahku. Anak-anak pun dengan bangga mengumpulkan hasil karyanya.

 

Sebenarnya, dengan membuat kolase ini selain meningkatkan motorik anak, ada pelajaran akhlak yang ingin aku sampaikan.

 

“Anak–anak, Ibu senang sekali dengan kegiatan hari ini. Selain kalian belajar tentang kolase, kalian juga belajar tentang makna sabar,”  jelasku.

 

“Ibu ingat, saat tadi kalian bilang kalau kalian capek, pegal dan nggak mau meneruskan kolase kalian. Itu kira–kira kalian sudah sabar belum ya?” tanyaku untuk memancing tanggapan mereka.

 

Tentu dengan kompak mereka bilang, “Tidak!”

 

“Kalau tadi kalian berhenti tidak meneruskan menempel, kolasenya tidak akan sebagus ini. Ini jadi indah banget karena hasil dari kesabaran kalian. Allah itu sangat menyukai hambaNya yang bersabar, karena jika kita bersabar Allah akan beri pahala yang amat besar,” tambahku panjang lebar.

 

SABAR, inilah salah satu akhlak yang ingin aku tanamkan pada anak–anak. Dari butir demi butir biji kacang hijau dan kedelai, mereka mampu memaknai lebih dalam apa itu sabar. Mereka bisa memahami lebih mudah tentang arti sabar dengan kegiatan yang nyata. Harapannya, aku ingin mereka bukan hanya tahu akan materinya saja, namun bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari–hari.

Komentar

komentar