Belajar Literasi mencegah Hoax

Kemampuan Literasi bisa cegah hoax

Dalam bahasa latin, istilah literasi disebut sebagai literatus, artinya adalah orang yang belajar. Selanjutnya, National Institut for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Kata “literasi” adalah kata serapan, seiring berkembangnya zaman makna tersebut juga semakin berkembang ada yang mendefinisikan literasi adalah melek baca dan tulis, ada juga yang mendefinisikan bahwa literasi adalah kemampuan membaca dan mengimplementasikan apa yang dibacanya dalam kehidupan sehari-hari guna untuk memecahkan suatu masalah yang sedang terjadi di suatu lingkungan.

Literasi menjadi sangat penting seiring dengan perkembangan zaman yang serba cepat dan instan, semua information mudah didapatkan tidak perlu lagi menunggu koran atau menonton televisi dirumah. Namun, dengan gadget pribadi dapat mengakses berjuta-juta informasi. Hal ini membuat timbulnya berita yang tak bertanggung jawab, simpang siur bahkan menjadi hoax. Kejadian ini sering sekali dirasakan oleh masyarakat terlebih mereka tidak mengecek kebenerannya terlebih dahulu dan hanya langsung membagikan tanpa menelaah terlebih dahulu. Ketika mendapatkan informasi salah maka akan menjadi masalah pagi pembaginya akibat kurangnya pemahaman budaya literasi di masyarakat.

Pemerintah sudah mulai bergerak untuk mengatasi persoalan minat baca dan literasi tersebut. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 yang merupakan tahun pertama Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015—2019 memperlihatkan jumlah penduduk dengan buta aksara di Indonesia tinggal 5.629.943 orang atau 3,49%. Sementara itu, data BPS dan PDSPK tahun 2015 memperlihatkan tingkat melek aksara masyarakat Indonesia usia 15—59 tahun sebesar 96,51%. Dengan berbagai program pemberantasan buta aksara yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)

Pemerintah pusat maupun daerah telah mengiatkan kegiatan Gerakan literasi nasional (GLN). Gerakan ini meliput gerakan literasi sekolah, gerakan literasi keluarga dan gerakan literasi masyarakat. Budaya literasi juga dapat kita implementasikan pada kehidupan sehari-hari. Sebagai masyarakat pembaca berita, kita harus cerdas menyeleksi dan menganalisis bahan bacaan yang ada, membaca dari media resmi yang berkualitas tinggi dan mempunyai nilai pengetahuan yang tinggi.

 Dalam pelaksanaannya diperlukan peran pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dalam menunjang keberlangsungan budaya literasi di masyarakat. Dengan ini, pemerintah dan lembaga yang terkait diharapkan agar mendukung penuh dan memfasilitasi masyarakat agar mau dan mudah untuk mendapatkan sumber bacaan dan tulisan yang baik. Seperti halnya Dompet Dhuafa Pendidikan menyediakan inkubasi bagi para penggiat Literasi. Program inkubasi tersebut bertujuan untuk membina para pegiat literasi. Dengan demikian, jika semua berperan, maka akan lebih mudah menyelesaikan permasalahan budaya literasi di masyarakat, sehingga angka hoax bisa ditekan. (BZ)

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044