KAWAN SLI: Tiga Se-KAWAN Halmahera Penggerak Pendidikan

KAWAN SLI: Tiga Se-KAWAN Halmahera Penggerak Pendidikan

Oleh: Pelangi A. Salsabila
KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Halmahera Selatan.

———————————————————–

Pembicaraan tentang pendidikan tak akan pernah habis dan membosankan untuk dibahas. Dinamika dan perubahan-perubahan pendidikan akan terus berkembang seiring munculnya pemikiran-pemikiran baru sebagai refleksi pemikiran sebelumnya, untu mengupayakan perbaikan kualitas dan mutu pendidikan. Tidak sedikit hasil pemikiran-pemikiran tersebut dijadikan terobosan bagi para pelaku pendidikan, baik lingkup lembaga maupun personal.

 

Melihat dan mengamati berbagai artikel dan pemberitaan yang ada, tak bisa dipungkiri terobosan yang dilakukan para pelaku pendidikan memberikan efek imbas yang sangat signifikan dan menjadi era pergolakan pergerakan pendidikan. Terbukti dengan bermunculannya berbagai program pengembangan pendidikan, yang dilakukan oleh lembaga pemerhati pendidikan di Indonesia. Indonesia Mengajar, Pemuda Penggerak Desa, Kelas Inpirasi dan lain sebagainya.

 

Dompet Dhuafa sebagai lembaga ZISWAF pun menjadi salah satu lembaga yang sangat peduli dengan pendidikan. Dompet Dhuafa Pendidikan (DDP) menjadi pilar program utamanya yang berfokus pada pengembangan pendidikan dengan berbagai program yang sangat mendukung pesatnya pergerakan untuk kemajuan dan perkembangan pendidikan di Indonesia. Dari lini pendidikan dasar sampai jenjang perguruan tinggi, dari mulai murid, mahasiswa, guru, kepala sekolah, aktivis pendidikan semuanya menjadi fokus utama untuk pengembangan mutu pendidikan di negeri ini.

 

Berkorelasi dengan itu, kini pemerintah melalui Kemendikbud pun meluncurkan program baru yaitu ‘Organisasi Penggerak’. Melalui program ini kemendikbud mengajak seluruh organisasi kemasyarakatan bidang pendidikan bergerak bersama secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia. Bagi organisasi penggerak terpilih maka akan mendapatkan dukungan moril dan meteriil untuk melaksanakan programnya.

 

Program Organisasi Penggerak diharapkan membantu menginisiasi Sekolah Penggerak yang idealnya memiliki empat komponen, yaitu kepemimpinan Kepala Sekolah yang baik, Guru yang peduli terhadap tahapan perkembangan anak, peserta didik yang aktif, kreatif, senang belajar dan terakhiir para stake holder terkait yang mampu mendukung sekolah meningkatkan kualitas belajar peserta didik.

 

Pertaanyaannya sekarang, apakah sudah ada organisasi dan relawan pendidikan yang sudah bergerak sesuai konsep yang dicanangkan pemerintah?

 

Jawabannya Ada, yaitu Sekolah Literasi Indonesia sudah sejak tiga tahun yang lalu.

 

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) merupakan salah satu program DDP yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan sekolah dengan tiga komponen utama yaitu kepemimpinan sekolah, budaya sekolah dan sistem pembelajaran berdasar pada kekhasan literasi. Dari program ini, semua stake holder terkait difungsikan demi mendukung keberhasilan pendidikan yang pastinya akan berimbas pada mutu peserta didik sendiri.

 

Proses peningkatan kualitas di sekolah akan didampingi secara intensif selama 6 bulan dan monitoring serta evaluasi selama 6 bulan pula, jadi total masa pendampingan program adalah selama 1 tahun. Adapun target sekolah yang dituju oleh program adalah sekolah-sekolah dhuafa atau berpotensi yang berada di daerah pelosok maupun urban yang mempunyai komitmen untuk maju.

 

“Daerah program SLI dipilih dengan beberapa kriteria assesment diantaranya daerah baru yang belum pernah mendapatkan program sebelumnya, mempertimbangkan neraca pendidikan daerah, dan daerah dengan mayoritas ekonomi penduduknya adalah menengah ke bawah”, terang Andi Ahmadi koordinator SLI.

 

Pendampingan sekolah dilakukan oleh fasilitator program yang disebut sebagai Konsultan Relawan disingkat KAWAN. KAWAN dipilih berdasarkan seleksi nasional dari seluruh Indonesia yang meliputi seleksi berkas, wawancara dan FGD. Sebelum ditugaskan ke daerah penempatan, para KAWAN dibina terlebih dahulu selama dua bulan, dengan berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk menjalani program.

 

KAWAN memiliki peran sebagai trainer, coach, konsultan dan relawan. Di kurun waktu tiga bulan, KAWAN akan melakukan tugasnya sebagai trainer pelatihan bagi para kepala sekolah dan guru yang sekolahnya terpilih untuk didampingi. Sebagai upaya peningkatan mutu sekolah KAWAN pun menjalankan tugas sebagai coach dan konsultan dalam membersamai dan mendampingi kepala sekolah menjalankan implementasi program SLI. Selain itu, KAWAN juga harus memerankan tugas sebagai relawan di daerah penempatan, dengan memaksimalkan atau memaksimalkan TBM (Taman Baca Masyarakat) sebagai upaya pemberdayaan literasi masyarakat berbasis sekolah.

 

Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara adalah salah satu daerah yang dituju sebagai target program. Terdapat tiga se-KAWAN yang bertugas berasal dari tiga daerah berbeda di Indonesia dengan jarak yang tak bisa dikatakan dekat. Namun, mereka rela, ikhlas dan semangat menjalankan tugas demi pendidikan yang lebih baik, di Indonesia umumnya dan Halmahera Selatan khususnya.

 

Cut Indah Putri berasal dari Pidie, Aceh. Putri asli aceh ini tak goyah dan tak gentar saat mendapat pengumuman harus ditempatkan jauh dari kampung halamannya. Rindu yang mungkin tersimpan dalam, terkadang masih harus ditahan. Namun, itu semua dapat ditampik bersamaan dengan semangatnya untuk pendidikan.

 

Pelangi Apriliandini Salsabila, putri asal Indramayu, Jawa Barat namun memiliki KTP Denpasar, Bali. Jadi, mungkin bisa dikatakan dari Indramayu-Denpasar. Meski terdapat sedikit konflik dengan sang kakak saat hari keberangkatan, karena tak diizinkan dengan jarak yang jauh bahkan akan dijemput paksa, serta harus meninggalkan ibunya kembali setelah sembilan tahun merantau di Bali. Langkahnya tetap tegar untuk mengabdikan diri demi pendidikan.

 

KAWAN terakhir, menjadi pria satu-satunya dalam tim ini. Selfiardo Eka Prasetya, berasal dari Toli-toli, Palu, Sulteng. Dengan ingatan bencana besar yang masih belum sepenuhnya hilang, dia tetap memantapkan hati dan berangkat mengabdikan diri untuk pendidikan.

 

“Karena pendidikan bukan berbicara hanya untuk saat ini. Namun, jauh ke depan dan sampai selamanya. Dan semoga dengan ini kami bisa menjadi bagian yang berkontribusi untuk pendidikan Indonesia meski sedikit peran yang bisa kami lakukan.”, ujar mereka.

Komentar

komentar