KAWAN SLI: Saatnya Menggelorakan Semangat di Kabupaten Asahan

KAWAN SLI: Saatnya Menggelorakan Semangat di Kabupaten Asahan

Oleh: Luthfia Azmi O. Nasution (KAWAN SLI angkatan 3 penempatan Kabupaten Asahan)

 

Silaturahmi, Meminta Saran,  Urusan Dimudahkan

Seminggu telah dilalui  Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) Asahan, sejak lokakarya yang digelar pada Rabu lalu, (06/11) di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Asahan, belum ada satu sekolahpun yang mengembalikan formulir pendaftaran. Beberapa upaya telah dilakukan, dari pembuatan brosur, dilempar di grup WA, dibagikan pada grup Kementrian Agama (Kemenag)  Kabupaten Asahan, Dinas Pendidikan, dan Koordinator Wilayah (Korwil) kecamatan, masih belum juga membuahkan hasil.

 

 

 

KAWAN SLI Asahan mulai merasakan kekahawatiran, “Waktu kita tersisa lima hari lagi hingga batas waktu pengumpulan formulirnya, apa yang bisa kita lakukan?” tanya KAWAN Alivia, kepada tim SLI Asahan.

 

 

 

Jadwal yang kami buat untuk dapat menjumpai sekretaris dinas dan kasi madrasah cukup menantang, pada hari yang telah diagendakan mendadak  diundur karena satu dan lain hal Kondisi ini sempat membuat KAWAN SLI merasa bimbang.

 

 

 

“Bagaimana kalau kita ke UPT Air Joman saja?” usul KAWAN Luthfia sembari berkoordinasi via WhatsApp (WA) kepada Korwil Air Joman dan korwil Silau Laut. “Oke, tidak ada pilihan guys, semua yang terjadwal hari ini telah  dibatalkan,” jawab KAWAN Nisa, seusai berkoordinasi via WA kepada pihak Dinas dan Kemenag sembari terus mengajukan  jadwal pertemuan yang baru.

 

 

 

Pertemuan dengan Zul Panjaitan, Korwil Air Joman di UPT Air Joman menghadirkan solusi baru bagi kemajuan program. “Begini saja, besok akan ada pertemuan untuk koordinasi wilayah Air Joman yang menghadirkan seluruh kepala sekolah dan para pengawas. Bagaimana kalau Tim SLI langsung memberikan penguatan kepada semua peserta, biar jelas urusannya. Jika perlu saya bantu menghubungi korwil Silau Laut untuk mengumpulkan seluruh kepala sekolah di wilayahnya,” usul Zul Panjaitan yang disambut antusias ketiga KAWAN SLI Asahan. Angin segar dari korwil Air Joman membuat semangat KAWAN SLI Asahan  bergelora kembali.

 

 

 

“Karena, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5-6).

 

 

 

Allah tidak lama-lama membuat kami bimbang, siang itu juga pihak Dinas Pendidikan dan Kemenag memberi kepastian jadwal pertemuan baru. Iya esok pagi! Antara senang dan berdebar kami dibuatnya.

 

 

 

 

Misi Kunjungan “Menjemput Bola” Dilakukan

Alhamdulillah jadwal kami mulai jelas. Kami mulai membagi tugas di tiga wilayah. UPT Air Joman ditangani KAWAN Luthfia, UPT Silau Laut oleh KAWAN Nisa, dan Dinas Pendidikan dan Kemenag disanggupi KAWAN Alivia. Pembagian peran dan tugas ini telah kami bahas matang-matang, hanya saja ada tantangan baru muncul yakni cara menjangkau lokasi pertemuan. Di sini moda tarnsportasi sangat jauh berbeda dengan di kota besar, di Kabupaten Asahan tidak ada transportasi umum selain becak motor, itupun jumlahnya terbatas dan biaya perjalanan setiap harinya cukup menguras dompet kami. Satu kali perjalanan dari Kecamatan Air Joman Ke Dinas Pendidikan di Kota Kisaran dikenakan biaya Rp40.000, pulang dan pergi walaupun seorang diri, sedikitnya uang selembar Rp100.000 hanya menyisakan Rp20.000 atau bahkan tidak sama sekali. Jika terus begini bias-bisa uang kami hanya habis untuk ongkos bebek motor.

 

 

 

Kondisi di atas menuntut KAWAN SLI Asahan berpikir kreatif dengan mengesampingkan rasa sungkan, daripada tidak makan. Kami mulai melobi sana sini, dari berkunjung ke tetangga sejak pukul 06.30 demi meminjam motor, minta dibonceng ke Kota Kisaran menemui sekertaris Dinas Pendidikan dan kasi Madrasah Kemenag. Sementara KAWAN yang lain berharap pada korwil untuk menjemput ke lokasi.

 

 

 

Kehidupan memang telah ditetapkan porsinya, setiap kita akan diuji sampai titik terlemah. Allahul Hakiim, Maha Bijaksananya Allah pada hambanya, ternyata misi yang kami bawa Alhamdulillah selalu tepat sasaran. KAWAN Alivia sukses menghadapi ketidaknyamanan dan kekecewaan pihak Kemenag dengan hasil yang mendamaikan, KAWAN Nisa yang dihujani pertanyaan dengan bijak menjawab segala desakan dan tekanan “atas nama tim, semua layak dipertimbangan bersama.” Pertanyaan tentang pembebanan biaya, manfaat yang didapat sekolah, serta alur program pendampingan adalah salah satu pembahasan yang cukup menghangatkan ruang pertemuan pada wilayah Air Joman.

 

 

 

 

Refleksi Menuai Hikmah Pertemuan

Selama di sini banyak hikmah pertemuan bisa dipetik, misalnya KAWAN Alivia yang mampu mnghadapi orang marah dengan istighfar, tetap tersenyum, merendah dengan berterimakasih atas kritikan serta meminta maaf jika ada tindak tanduk kurang berkenan. Kalau KAWAN Luthfia beda lagi, ia merasa bahwa silaturahmi mempermudah urusan dan mampu mengesampingkan sungkan apalagi ketika harus meminta saran pada stakeholder terkait sehingga mereka merasa dilibatkan sampai menemukan solusi terbaik.

 

 

 

Sedangkan KAWAN Nisa menemukan jika keterbukaan itu penting, sehingga arah yang akan dilakukan jelas. “Pak Korwil Silau Laut sangat kooperatif, aku tidak harus menjelaskan di mana titik pengumpulan formulirnya, beliau langsung menyanggupi dan menyampaikannya ke forum. Ternyata keterbukaan itu penting teman-teman,” tambahkan KAWAN Nisa.

 

 

 

 

Alhamdulillah hari ini sembilan formulir sudah dikembalikan, semoga antusias para kepala sekolah untuk mengembangkan kualitas sekolah/madrasahnya terus menggelora. Semoga upaya KAWAN SLI Asahan menjemput bola mampu menyulut optimisme para kepala sekolah/madrasah mendaftarkan sekolah/madrasahnya pada program pendampingan SLI membuahkan hasil yang membahagiakan. Aamiiin

 

 

 

 

Komentar

komentar