KAWAN SLI: Ramadan Bentuk Syukur Kami

 

Oleh: Fia, KAWAN SLI Penempatan Asahan

 

Tak pernah terbayangkan.

 

Kondisi libur panjang yang semua orang dipaksa untuk bekerja dari rumah atau work from home, bagi yang terpaksa bekerja di luar rumah harus memenuhi prototipe dari pemerintah tentang upaya menjaga dari tertularnya wabah.

 

Sementara ribuan jiwa, yang terinfeksi Covid-19, bertaruh nyawa, masihkah dipinjami nafas untuk ia tetap bersama raganya? Bagi yang telah habis rezeki usia, wabah menjadi sebab wafat dan hidup pun tamat. Indonesia dan ratusan negara terdampak Pandemi Covid-19 mengalami masa sulit. Ratusan  manusia telah mendahului kita.

 

Semua orang diminta menjaga kesehatannya, jarak aman, dan menghindari keramaian. Bagaimana dengan Ramadan? Semua mukmin yakin Ramadan bulan barokah, bulan pengampunan. Namun ikhtiar tetap saja harus dijalankan. Ramadan identik dengan silaturahmi dan berkumpulnya jamaah untuk sujud pada belasan atau puluhan rakaat pada tiap malam, penghambaan yang dipandu satu imam.

 

Berbeda, tarawih berjamaah di mesjid tidak dapat dilakukan semua mukmin pada saat ini, terlebih wilayah zona merah. Bersyukur masih diberi kesehatan, mampu untuk menjalani hari-hari pada Ramadan. Ramadan bagi kita tetaplah barokah, sebagaimanapun peliknya negeri dilanda wabah, Ramadan ini mendekatkan keluarga, momentum untuk perbanyak sedekah, memelas ampunan, meskipun amalan masih luluh lantah.

 

Hikmahnya, kita benar-benar tau, bahwa persaudaraan kita lintas suku, agama, hanya sebab kita satu rasa, Indonesia. Bentuk syukur bagi kita yang sehat, dan berkecukupan, dapat membantu saudara kita yang mungkin sekarang sedang sekarat, entah dapurnya, entah kesehatannya.
“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.” (HR. Imam Baihaqi).

 

Mengenal lembaga terpercaya #dompetdhuafarepublika khususnya bagi saya warga #sumaterautara sungguh sebuah kesyukuran

 

Komentar

komentar