KAWAN SLI: Pemimpin Sekolah Bak Seorang Penjahit

KAWAN SLI: Pemimpin Sekolah Bak Seorang Penjahit

Oleh: Irfa Ramadhani, KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Kulon Progo

 

Seorang penjahit membuat pola pada suatu bahan untuk dijadikan gaun yang indah. Ketika menentukan pola, ia menggunakan bantuan alat ukur (penggaris). Selanjutnya,  ia menggunting sesuai bentuk pola dan menjahit hasil guntingan pola-polanya menjadi satu kesatuan, gaun yang indah.

 

Sebagaimana tukang jahit memerlukan bantuan alat ukur untuk menciptakan gaun yang indah, maka pemimpin sekolah/madrasah juga memerlukan alat ukur untuk menciptakan sekolah/madrasahnya lebih berkualitas.

Dompet Dhuafa Pendidikan melalui tim riset Makmal Pendidikan, membuat inovasi alat ukur Metode Uswah. Sebuah metode yang diformulasikan dari pengalaman nyata mendampingi ratusan sekolah sejak tahun 2005 di seluruh penjuru Indonesia. Kriteria Metode Uswah dikembangkan secara selaras dengan beberapa kajian teoritik dalam pendidikan, dan sebaik mungkin tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dalam bidang pendidikan nasional.

 

Salah satu program Dompet Dhuafa Pendidikan yaitu Sekolah Literasi Indonesia (SLI) juga menggunakan alat ukur Metode Uswah dalam melakukan pengukuran performa awal sekolah/madrasah dampingan di Kabupaten Kulon Progo. SDN Karangwuni, SDN Giripeni, MI Muh Kenteng, SD Muh Sidowayah, SDN 1 Kulwaru, MI Muh Serangrejo, MIN 2 Kulon Progo, SD Muh Girinyono, SDN 1 Sentolo, serta SDN 2 Sentolo menjadi objek yang diukur oleh 2 orang Konsultan Relawan (KAWAN) SLI.

 

Sebagai tambahan, penilaian awal dengan menggunakan alat ukur yang sesuai penting dilakukan oleh setiap organisasi. Hal ini merupakan upaya pengumpulan data konkret sehingga penilaian tidak rentan terhadap penilaian pribadi penilai. Ringkasnya, kepala sekolah/madrasah tidak mudah terjebak pada penilaian pribadi ketika menentukan langkah perbaikan sekolah/madrasah. Selain itu, melalui hasil pengukuran, kepala sekolah/madrasah akan lebih mudah dalam menentukan skala prioritas proses perbaikan.

Pada proses pengukuran yang dilakukan di sepuluh sekolah/madrasah dampingan, KAWAN SLI berperan sebagai asesor. Tidak hanya sendiri, KAWAN juga didampingi satu “kepala sekolah/madrasah partner” sebagai observer. Sebagai contoh, kepala sekolah SDN Karangwuni (Aryati, S.Pd) menjadi observer atas pengukuran yang dilakukan MI Muhammadiyah Serangrejo yang dikepalai oleh Sumarsih S.Pd.I, M.S.I. Pengukuran dilakukan melalui wawancara khusus dengan kepala sekolah/madrasah bersangkutan, Forum Group Discussion dengan tim guru, pengukuran kecakapan literasi kepada delapan belas siswa/i (tiga siswa/i dari masing-masing jenjang), studi dokumen, observasi interaksi warga sekolah, serta observasi lingkungan kelas dan sekolah.

 

Alat ukur telah digunakan, hasil pengukuran sedang dinantikan, mereka tengah bersiap untuk merangkai pola guna meningkatkan performa. Bismillah, ini sebentuk ikhtiar mereka dalam meningkatkan negeri kita Indonesia.

 

Komentar

komentar