KAWAN SLI: Panik dan Sabar

 

Oleh: Inayatul Asmaiyah, Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Kabupaten Bima

 

Kepanikan adalah separuh penyakit,

Ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan

Kata-kata bijak dari bapak pengobatan modern kita “Ibnu Sina”.

Duka kembali menjabat jari-jemari Indonesiaku…

Sekali lagi kita kehilangan saudari

Saudari setanah air “Shelly Ziendia Putri”, seorang perawat dan petugas ambulan yang dengan sigap berada dibaris garda terdepan…

Indonesiaku…

Tetaplah kuat

Tetaplah tenang

Tetaplah tegar

Tetaplah tabah dan sabar

Meski telah banyak jatuh berguguran

Penjaga-penjaga garda terdepan dalam perang melawan makhluk tak kasat mata dengan nama Corona maksudnya atau istilah kerennya “covid 19”

Namun tetap tenang dan tetap sabar adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan, selain dari isolasi dan menjaga kesehatan dalam melewati keadaan ini…

Badai dengan pasti akan berlalu

Entah ini musibah ataukah berkah

Yang pasti adalah apapun itu, dibalik musibah ataukah berkah akan hadir bersamanya hikmah dan berkah…

Berkah pertama yang sudah kita rasa dan nikmati adalah masih dapat bersua dengan bulan terbaik yang penuh dengan ragam kemuliaan “Ramadhan”

Tunggulah… janji Allah Swt. selalu nyata

Karena tak pernah sekalipun Ia mengingkarinya…

Tolong!

Sekalipun dalam gelap, tetaplah bersabar…

Karena meski akhir dari kisah drama covid 19 yang masih samar dan lekat dengan ketidakpastiannya, pasti akan hadir cahaya

Cahaya yang dengan siap dan sigap untuk menuntun dan membawamu kemuara kebahagiaan

Jadi bersabarlah, seperti sore yang selalu sabar menanti senja bersama dengan mega

Seperti pasir yang tak pernah lelah menunggu ombak dipinggir pantai

Seperti mendung yang tak lelah menunggu hujan

Dan seperti pagi yang tak pernah lelah menunggu mentari…

 

Komentar

komentar