KAWAN SLI: Membaca Bukan Sekadar Membaca

KAWAN SLI: Membaca Bukan Sekadar Membaca

 

 

Kita sering mendengar bahwa kemampuan literasi siswa Indionesia berada pada peringkat 70 dari 72 negara. Salah satu komponen dari kemampuan literasi adalah kemampuan membaca. Kendala yang dihadapi oleh sebagian besar guru di sekolah di Kabupaten Asahan adalah kemampuan membaca siswa sangat rendah. Bagaimana mungkin, padahal pelajaran membaca dipaksakan, bahkan di usia balita?Bagaimana mungkin, saat banyak buku dan informasi media menyajikan banyak cerita dan fenomena? Lantas, apa yang salah dari pendidikan kita?

 

 

Kemampuan membaca dalam literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan mengeja dan membaca siswa. Terdapat suatu hal yang lebih dalam daripada itu yaitu memahami apa yang dibaca dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Dunia pendidikan memang tidak bisa dilihat sederhana. Namun, sering kali guru terpaku pada perhitungan seberapa banyak buku yang siswa baca bukan seberapa paham siswa dengan buku yang dibaca. Gerakan literasi sekolah (GLS) yaitu membaca lima belas menit menjadi rutinitas yang kurang bermakna karena siswa hanya sekadar membaca namun tidak memahami apa yang dibaca. GLS hanya sebatas siswa diberikan waktu lima belas menit untuk membaca, kemudian mengisi judul buku dan halaman berapa yang dibaca.

 

 

Pentingnya kesadaran bahwa peran pendidikan tidak hanya membuat anak bisa membaca. Tapi juga mampu membuat anak mahir menulis dan mewarnai pemikiran global sehingga mampu menoreh prestasi yang mampu mengubah dunia. Lalu bagaimana mungkin mampu mengubah dunia, jika yang tersaji adalah buku usang dengan perpustakaan yang seperti gudang? Padahal rasio perbandingan bangunan perpustakaan kita dengan penduduk adalah salah satu yang terbaik di dunia. Di saat pemerintah mulai menggencarkan usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ada satu fobia yang menjangkiti siswa kita. Fobia itu adalah kutu buku. Siswa takut dibei gelar kutu buku padahal, sebagian besar manusia yang mengubah dunia adalah dari kaum kutu buku. Kutu buku bukanlah jaminan mutu jika hanya terpaku pada lembaran kertas dan layar.

 

 

Dekat dengan buku merupakan hal yang mutlak untuk mampu mengubah dunia. Karena sebagian besar manusia yang mengubah dunia adalah para kaum kutu buku. Kutu buku bukanlah jaminan mutu jika hanya terpaku pada lembaran kertas dan layar. Bermimpi besar dan berjalan jauh agar kebermanfaatan sebagai khalifah menjadi utuh.

Komentar

komentar