KAWAN SLI: Makmalian Perlu Tahu Jika Coaching Itu Penting!

Oleh: Pelangi A. Salsabila
KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Halmahera Selatan, Maluku Utara
Peran guru dalam pendidikan sangatlah penting, mengingat guru adalah aktor utama dalam lakon penyampaian ilmunya.  Meski kondisi proses pembelajaran dari masa ke masa mengalami perubahan-perubahan, namun tak bisa dipungkiri guru tetap menjadi peran utama di dalamnya. Bahkan peran sebagai fasilitator tak cukup membuat peran guru menjadi berkurang, malah menambah perannya menjadi manajer pembelajaran yang harus sanggup memanajemen proses pembelajaran berjalan aktif, interaktif dan menyenangkan agar peserta didik maksimal menyerap ilmu pengetahuan.
Program Kemendikbud tentang ‘Merdeka Belajar’ membuat guru harus lebih dahulu menguasai konsep dan esensi ‘kemerdekaan berpikir’ sebelum mengajarkan kepada peserta didik. Guru diharapkan lebih kreatif dan inovatif membawakan pembelajaran  berdasarkan penerjemahan kompetensi dasar dan kurikulum yang ada. Bapak Mendikbud menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.
Kepala Sekolah yang memiliki peran di kepemimpinan pembelajaran menjadi point center bagi para guru. Kepala sekolah harus mampu mendampingi para guru untuk tetap maksimal menjalankan peran tersebut dengan memaksimalkan potensi yang sudah ada pada pribadi masing-masing guru. Upaya-upaya nyata harus dilakukan untuk mewujudkan itu, mengingat kompetensi para guru yang belum tentu sama.
Pertanyaannya adalah bagaimana cara kepala sekolah memaksimalkan potensi guru?. Apakah cukup dengan memgikutsertakan guru pada pelatihan peningkatan kompetensi ?.
Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Halmahera Selatan memiliki jawabannya.
SLI Halsel mengajak 11 Kepala Sekolah belajar bersama, membahas cara memaksimalkan potensi guru dengan pelatihan “Coaching for Teacher”. Kegiatan tersebut diadakan di SMP IT Insan Kamil, desa Hidayat, Kec. Bacan, Kab. Halmahera Selatan, Malut.
Pelatihan ini bertujuan agar para kepala sekolah memahami pentingnya coaching untuk meningkatkan kinerja guru, memahami bagaimana dan kapan perlu menggunakan keterampilan coaching, training, mentoring dan konseling. Kegiatan ini akan ditindaklanjuti dengan praktek supervisi menggunakan keterampilan coaching di sekolah masing-masing dengan pendampingan KAWAN SLI.
Kehadiran ketua Forum Dampingan Sekolah Literasi Indonesia (FDSLI) Halsel, yang merupakan Kepala Sekolah dampingan SLI angkatan pertama, membuat proses pembahasan menjadi makin semarak.
Bapak Aziz Siradju, S.Pd. sebagai trainer tamu mendampingi Trainer Utama KAWAN Pelangi, menampilkan kolaborasi yang sangat apik, menarik, aktif dan interaktif. Penyampaian jelas dan terarah oleh pak Aziz pada sesi awal, menggugah rasa ingin tahu para peserta pelatihan tentang apa itu Coaching.
“Berdasarkan data dari International Personnel Management Association, ternyata peningkatan kinerja karyawan tidak cukup hanya dengan pelatihan atau training saja. Namun harus dibersamai dengan proses coaching.”, terang aziz.
Melanjutkan pembahasannya, aziz menjelaskan bahwa coaching adalah proses membantu membuka kunci potensi seseorang untuk mencapai targetnya. Coaching sangat bisa menjadi solusi tepat kepala sekolah memaksimalkan potensi yang ada pada diri guru, sehingga kinerja guru semakin meningkat. Selain itu, aziz mengajak peserta membedakan antara proses coaching dengan training, mentoring, dan konseling agar pemahaman tentang coaching lebih maksimal.
Sesi awal dilanjutkan dengan diskusi kelompok tentang kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan coaching, mentoring, training dan konseling pada guru. Proses diskusi berjalan seru, masing-masing kelompok menuangkan pemikirannya dalam ‘mind mapping’ kreatif yang kemudian dipresentasikan di muka forum kali ini. Perbedaan persepsi antar kelompok pun terjadi, menambah keaktifan forum, namun akhirnya dapat disatukan kembali dengan arahan Trainer Pelangi.
Menurut International Coach Federation, Coaching adalah bentuk kemitraan bersama orang lain untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses kreatif dan saling berbagi.
Proses coaching dibantu oleh seorang ‘coach’ yang hanya perlu bertanya dan menggali ide dan pemikiran coachee, tanpa memberikan saran atau masukan pada coachee. Ketepatan waktu, pertanyaan yang tepat, dan active listening menjadi  tiga kompetensi penting yang harus dikuasai oleh seorang coach untuk bisa menguasai keterampilan coaching.
Pelangi menjelaskan bahwa ada tiga aspek dalam proses coaching yang dapat disingkat menjadi WWH  yaitu Why, What dan How. Tiga aspek tersebut memuat empat hal penting yang harus ada dalam proses coaching yaitu tujuan, realita, cara mencapai dan rencana konkrit.
Supaya memudahkan peserta semakin memahami proses coaching, pelangi menjelaskan dua metode/model yang dapat digunakan. Metode COMBAT dan GROW memuat langkah-langkah coaching dari awal hingga akhir. Peserta dapat memilih metode mana yang dirasa lebih mudah dikuasai masing-masing.
Pada akhir sesi, trainer mengajak peserta untuk praktek coaching. Peserta dibagi dalam krlompok beranggotakan tiga orang. Masing-masing peserta berperan sebagai coach, coachee dan pengamat secara bergantian di tempat yang nyaman baik di kelas maupun di luar kelas. Aktivitas praktek memberikan ruang bagi para peserta untuk mengeksplor pengetahuan yang telah didapat. Trainer mendampingi sesi praktek ini dengan berkeliling mengamati jalannya proses dengan sesekali memberikan feedback jika ada pertanyaan.
Sesi ditutup dengan refleksi praktek, berkenaan dengan kendala yang ditemukan saat praktek maupun hal yang masih belum dipahami peserta. Pengulangan point-point penting dalam coaching pun dipandu terarah oleh trainer.
“Coaching ini sangat bagus sekali untuk guru, bahkam bisa juga untuk murid. Di Bangladesh terdapat satu desa yang memiliki ide penemuan yang dipantik dengan keterampilan coaching,” ujar salah satu peserta.

Komentar

komentar