KAWAN SLI: Kudapatkan Pelajaran Hidup Berharga dari Ibu Batik 

KAWAN SLI: Kudapatkan Pelajaran Hidup Berharga dari Ibu Batik

Oleh: Putri Ria Utami, KAWAN  SLI Angkatan 3, penempatan Semarang
“Bekerja tidak melulu fokus pada tujuan, tetapi untuk mencapai tujuan itu haruslah diimbangi dengan aktivitas sosial pada orang-orang yang ada disekeliling kita”- Putri Ria.
Setelah lelah bertugas, aku bersama Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) Semarang kembali ke penginapan. Aku dan KAWAN Husni meluangkan waktu mengunjungi Sanggar Pembuatan Batik yang  tepat berada di lantai bawah penginapanku. Sembari melihat para karyawan yang sedang asik membatik, tak lupa aku berkenalan dan berbincang dengan seorang Ibu (sebut saja Ibu Batik). Beliau adalah salah seorang karyawan Batik Tulis di Sanggar Batik Semarang16 di  daerah Meteseh, Kecamatan Tembalang.
Perbincangan kami kala itu sangat mengasyikan, ketika Ibu tersebut menceritakan pengalamannya selama bekerja menjadi karyawan Batik tulis. Meskipun aku tidak lancar berbahasa Jawa, namun sedikit-sedikit aku paham yang dikatakan Ibu Batik.
Beliau bercerita, bahwa sebelum bekerja di Semarang, ia pernah bekerja di Bekasi. Kesulitan pernah ia rasakan ketika harus menempuh jarak cukup jauh untuk bekerja sedangkan ia menetap di Pekalongan, Jawa Tengah. Pada saat itu ia harus menyicil kos dan sesekali pulang kampung, tetapi semangatnya tidak pernah luntur.
Di era millenial ini kita tahu bahwa batik tidak hanya dikenal sebagai corak pakaian semata, melainkan juga sebagai identitas bangsa. Bagiku menjadi seorang pengrajin Batik tulis bukanlah hal mudah, sebab setiap hari harus berjibaku dengan panasnya lilin. Di sela-sela perbincangan ia memberikanku kerupuk sebagai camilan; “matur nuwun bu, kerupuknya,” jawabku sambil tersenyum.
Selain menceritakan pengalamannya selama bekerja, ia juga bercerita tentang latar pendidikannya. “Saya hanya lulusan SD,” ungkap Ibu Batik. Ia sangat bangga dengan anak muda yang masih semangat meningkatkan pendidikan di negeri ini. “Bekerja memberikan pelatihan ke guru-guru itu adalah kerjaan yang bagus dan bermanfaat, jangan lupa jaga kesehatanya ya,” pesan Ibu Batik.
Namun, ada satu pesan yang membuatku terharu dengan logat Jawa medoknya ia berkata jika perempuan cantik harus betah kerja di daerah, harus tetap semangat. Aku hanya bisa terpaku mendengar kalimat yang terlontar dari mulutnya.
Rasa kagum membuncah karena sosok di depanku sangat menginspirasi. Perbincangan singkatku dengan Ibu Batik membuka pikiranku jika di mana pun kaki ini berpijak, Batiklah yang menyadarkanku akan asal usul, aku bangga menjadi seorang Indonesia dengan segala ceritanya.

Komentar

komentar