KAWAN SLI: Ketika Jauh Mendekatkanku Pada Ibu

KAWAN SLI: Ketika Jauh Mendekatkanku Pada Ibu

Oleh: Cut Indah Putri, KAWAN SLI Angkatan 3, penempatan Halmahera Selatan

 

 

 

 

Aku adalah sosok introvert.

Aku tak pernah bercerita panjang lebar tentang perasaan, pengalaman, sedih, suka, duka, apalagi perihal cinta pada orang lain termasuk ibuku sendiri.

 

 

 

 

Lha! Kok bisa?

Ia, memang aku tidak dekat dengan ibu secara batiniah.

Apapun kejadian yang aku alami aku ceritakan pada adikku, aku menghabiskan waktu seorang diri di kamar dengan menulis puisi.

 

 

 

 

Pernah aku memendam penyakit impaksi gigi selama setahun setengah tanpa diketahui oleh keluarga, padahal kondisiku waktu itu tidak bisa membuka mulut secara normal dan menyebabkan tidak bisa makan makanan keras dan berat termasuk nasi.  Aku bahkan bolak balik berobat ke rumah sakit seorang diri sambil memperjuangkan skripsi.

 

 

 

 

Sampai pada suatu hari aku dirujuk ke rumah sakit yang memiliki dokter bedah rahang dan mulut.  Karena kondisi mulut sudah terkunci dalam jangka waktu lama membuat dokter memutuskan untuk dioperasi, sedihnya bahkan dokter bedah kesulitan menjalani operasi karena khawatir cedera atau membekas. Akhirnya dokter memutuskan melakukan pendongkrakan meski itu merupakan tindakan berat yang  dapat mengakibatkan beberapa syaraf terganggu dan mungkin akan menyebabkan alzheimer.

 

 

 

 

Dalam kondisi seperti di bawah titik nol pun aku tidak pernah bercerita pada orang tua. Beberapa hari sebelum operasi aku sudah konsultasi dengan dokter, kuutarakan bahwa tidak akan ada yang menemani atau membersamai selama di rumah sakit. Dokter tidak setuju, ia menjelaskan harus ada penanggung jawab atas tindakan yang akan dilakukan karena aku masih punya keluarga utuh. Karena itulah aku meminta abang tertua menemani selama operasi dan rawat inap di rumah sakit. Orang tua sama sekali tidak kuizinkan menjenguk.

 

 

 

 

***

 

 

 

 

Saat ini, aku berada di pulau Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Tentu sangat jauh dengam Aceh, tentu sangat jauh pula dengan orang tua. Hanya dengan menelpon mereka tahu kabar dan keadaanku di sini.  Hanya komunikasi yang mengeratkan kami. Setiap dua hari sekali ku telpon ibu selama berjam-jam, menceritakan segala hal yang terjadi baik suka maupun duka. Meminta pendapat dan solusi atas segala perihal sulit ataupun mudah. Ketika aku membuka diri seperti ini, orang tua terharu dan berasyukur bahwa anaknya sudah berubah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah terbuka dan seakan ada sebuah benteng pembatas timggi antara aku dan orang tua. Paling jengkel bila ditanyai apapun salah satunya perihal cinta atau jodoh. Sekarang aku dan ibu sudah saling terbuka tanpa rasa takut untuk bertanya dan memberi nasihat apapun.

 

 

 

 

Berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan ibu adalah hal yang kurindukan. Jika tidak bersua dengan ibu seperti ada sesuatu yang hilang,  kerap kali aku menangis karena rindu dan menyesal sebab dulu tidak pernah membagun kedekatan dengan ibu. Ketika jauh aku baru menyadari bahwa ibu adalah sosok yang paling kita rindukan dan tidak ada orang selain ibu yang mau mendengar memahami curhatan, memberi jalan keluar, dan menasihati tanpa menghakimi. Ternyata jauhlah yang mendekatkan kita ibu.

 

 

 

Komentar

komentar