KAWAN SLI: Karena Kolaborasi Adalah Kunci 

KAWAN SLI: Karena Kolaborasi Adalah Kunci

Oleh: Wahyu Widiyawati KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Kulon Progo

 

Zaman terus berubah dengan membawa kemewahan sekaligus tantangan bagi para pelaku zaman. Teknologi berkembang pesat sehingga arus informasi bergerak cepat dan dapat diakses oleh semua kalangan. Tak terkecuali anak-anak yang tak lagi menggenggam buku melainkan gawai. Gawai yang tidak dimanfaatkan dengan baik dan benar sesuai porsinya akan bermuara pada kecanduan. Tak jarang kita lihat anak-anak sering membawa gawai dan beramai-ramai duduk sambil bermain game. Tentu hal itu menjadi pemandangan yang kurang mengenakkan. Menurut suara.com, kecanduan gawai bukan hanya membuat anak-anak sulit produktif. Psikolog menyebut anak-anak yang kecanduan gawai juga bisa mengalami masalah perilaku hingga menjadi agresif.

 

 

Tak dapat dipungkiri ketetapan semesta berlaku memberi kehidupan dengan dua sisi positif dan negatif. Sisi positif dapat kita pandang sebagai hal baik yang memberi kemudahan dan kelancaran dalam setiap aktivitas. Sisi negatif dapat kita artikan sebagai tantangan yang muncul akibat perkembangan zaman, dan mengarah pada melemahnya tataran nilai serta karakter bangsa.

 

 

Sisi positif negatif dapat disiasti para pelaku zaman melalui ilmu, akhlak, dan pendidikan. Pendidikan akan selalu bersinggungan dengan para generasi emas penerus bangsa ini, karenanya kemajuan pendidikan tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah maupun sekolah seperti yang tertuang di dalam Undang-Undang Dasar 1945, melainkan tugas bersama. Sebab itulah Sekolah Literasi Indonesia (SLI) menjadi kepanjangan tangan dalam memajukan pendidikan Indonesia melalui Konsultan Relawan (KAWAN) di  Bima, Halmahera Selatan, Medan, Semarang, dan Kulon Progo. SLI merupakan program Dompet Dhuafa Pendidikan yang berkonsentrasi meningkatlan performa sekolah dalam lingkup kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah dengan kekhasan literasi.

 

 

KAWAN SLI Kulon Progo bertugas melakukan pendampingan di sekolah maupun madrasah di tiga kecamatan yaitu Wates, Pengasih, dan Sentolo, programnya sendiri kini tengah berjalan pada tahap pelatihan bersama sepuluh kepala sekolah dan kepala madrasah.  KAWAN SLI Kulon Progo menyadari bahwa tercapainya tujuan pendidikan perlu adanya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di sela-sela aktivitas pendampingan sekolah dan madrasah, KAWAN SLI Kulon Progo membangun sinergi dengan Taman Baca Masyarakat (TBM) atau Komunitas Baca (KomBa) di Kecamatan Wates, Pengasih, dan Sentolo.

 

 

Saat ini ada empat  TBM atau KomBa yang sedang melalui tahap penilaian dan pertimbangan antara lain KomBa Ringin Ardi Pengasih, TBM Sari Ilmu Sentolo, TBM Pustaka Pelangi Pengasih, dan KomBa Pondok Santri Zahrotul Jannah Wates. KAWAN SLI Kulon Progo bersama pegiat literasi melakukan kegiatan peningkatan literasi di masyarakat, TBM atau KomBa akan menjadi pelaku utama dan KAWAN  SLI Kulon Progo  sebagai pendamping, pemberi pelatihan, dan konsultan. Kehadiran TBM atau KomBa diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat, membentuk masyarakat yang berkarakter baik, dan dapat menjadi bagian pelaku kemajuan pendidikan di dusun, desa, maupun Kabupaten Kulon Progo.

Komentar

komentar