KAWAN SLI

KAWAN SLI: Hati-Hati 1000 Kebaikan Bermula Dari Sini!

 

Oleh : Wahyu Widiyawati KAWAN SLI Angkatan 3 Penempatan Kulon Progo

 

Bung Tomo, tokoh pahlawan yang berhasil mengumpulkan massa untuk berjuang melawan penjajah. Pikiran-pikiran Bung Tomo selalu dipenuhi dengan ide  membuat perubahan demi kepentingan orang banyak. Dunia pendidikan membutuhkan sosok yang demikian. Pemimpin berpengaruh, tegas, inovatif, dan disenangi banyak orang dan  membawa dampak positif bagi lingkungan di sekitarnya. Baik itu di sekolah/madrasah, lembaga, maupun masyarakat. Kita dapat membayangkan dan merasakan satu kata, ide, dan keteladanan yang diupayakan para pemimpin akan mengular menjadi 1000 perubahan. Kita berupaya meningkatkan dan membentuk kepsek/kamad menjadi pembicara yang berpengaruh. Hal tersebut kita raih melalui pelatihan dan implementasi, kemudian dibiasakan.

 

Dompet Dhuafa Pendidikan dengan pelatihan Training for Trainer yang merupakan rangkaian program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) meningkatkan pendidikan bermula dari akarnya yaitu kepala sekolah/kepala madrasah. Konsultan Relawan (KAWAN) telah menempuh hari-hari yang cukup panjang bersama para pemimpin hebat di 10 sekolah/madrasah dampingan. Hari yang panjang, tapi terasa kurang karena berada di sekitar pemimpin yang hebat dan kuat ternyata membuat hidup terasa ringan. Kepsek dan Kamad menempuh perjalanan menuju tempat pelatihan di SDN Karangwuni dengan diiringi hujan cukup deras, melewati jalan yang sisi kanan-kiri dipenuhi genangan banjir, dan angin yang berhembus cukup kencang. Melihat mereka datang dengan senyum terkembang, membuat KAWAN semakin bersemangat berjuang.

 

Training for trainer (TFT) merupakan serangkaian kegiatan untuk menempa peserta menjadi seorang trainer yang mampu memengaruhi orang lain untuk kebaikan. Tujuan pelatihan ini agar Kepsek/Kamad dapat menjadi pembicara handal yang mampu menggugah, memengaruhi, dan mengajak para guru/karyawan, para siswa, dan orangtua/wali siswa pada perubahan yang lebih baik lagi. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan training yaitu persiapan dan pasca training, materi, serta delievery. Ketiganya perlu disampaikan dengan berani, sistematis, dan menggugah. Selain itu gerakan tubuh dan intonasi seorang trainer harus tepat dengan situasi yang ada.

 

Barangkali bila kita tak terbiasa berada di hadapan banyak orang apalagi memegang mic akan merasa takut, malu, grogi, bingung, dll. Perasaan demikian ialah hal yang wajar, yang perlu dilakukan yaitu mengelola perasaan itu sendiri. Senyum, berpikir positif, mengapresiasi peserta pelatihan ialah beberapa cara membuka training yang dapat mengendurkan ketegangan kita. Selanjutnya ajak peserta pelatihan untuk melakukan aktivitas ice breaking. Upaya ini dilakukan agar peserta tidak tegang dan menjadi bersahabat dengan trainer. Lakukan hal menggugah di awal, tengah, dan sampai akhir.

 

Kepsek/kamad sebagai peserta pelatihan TFT diberi tantangan untuk mencoba praktik menjadi seorang trainer di hadapan para peserta dengan materi bebas. “Bu nanti setelah pulang dari sini praktik di sekolah, guru-guru kaget semua nanti,” ucap salah satu peserta kepada kepsek/kamad yang praktik. Mereka sangat antusias untuk latihan praktik TFT ke depan kelas. Kita optimis, kepsek/kamad ini nantinya dapat menjadi trainer di kapanewon, kabupaten, provinsi, maupun nasional sehingga kebaikan terus berlanjut tanpa surut.

 

Komentar

komentar