KAWAN SLI: Covid-19 Tak Membuat Semangat Gapai Harapan Kami Luntur

Oleh: Fitri Asmawati, S.Pd.I (Wali Kelas 6 MIN 2 Kulon Progo)

 

 

Mempunyai perpustakaan yang cantik dan nyaman adalah harapan dan impianku jauh sebelum aku mutasi ke MIN 2 Kulon Progo. Bahkan ketika aku masih bertugas di MIN 1 Kulon Progo. Banyak mimpi dan ekspektasiku saat itu untuk sebuah perpustakaan. Namun semua kandas, musnah ketika selembar SK mutasi jatuh ke tanganku. Berhenti dalam diam tanpa harapan ketika aku masuk ke MIN 2 Kulon Progo. Ahh…perpus ini seperti gudang buku saja, pikirku. Sama sekali tak ada semangat untuk memasuki perpus itu. Hingga akhirnya aku dipertemukan dengan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Hingga aku “terpaksa” menjadi guru model dari madrasahku.

 

Perjalanan menjadi guru model SLI diawali dengan rasa keterpaksaan. Apalagi di semester 2 aku menjadi guru kelas 6. Aku membayangkan ini sangat sulit. Dimana aku harus fokus untuk anak-anak didik. Aku memohon dan meminta agar posisiku diganti oleh orang lain. Namun permintaanku tidak dikabulkan oleh ibu kepala madrasah, juga oleh Kawan SLI.

 

 

Pelatihan demi pelatihan aku ikuti sesuai jadwal. Sangat berat awalnya. Tapi siapa sangka setelah pelaksanaan School Strategic Discussion aku mempunyai sedikit gambaran tentang maksud dan tujuan SLI.  Tanggal 8 Februari 2020 aku mengadakan pertemuan paguyuban orang tua murid kelas 6. Kegiatan ini serempak dilakukan oleh tiap kelas. Dari pertemuan inilah aku mulai berubah. Aku banyak berkomunikasi dengan wali murid. Merencanakan program-program ke depan.

 

 

Program yang pertama kami lakukan adalah outing class untuk kelas 6. Betapa aku sangat terkejut dengan tanggapan orang tua yang sangat mendukung programku. Program outing class kami laksanakan pada tanggal 15 Februari 2020. Inilah awal aku menulis sebuah berita. Aku mencoba meski sempat sedikit ragu.

 

 

Program pertama dan berita pertamaku membuat aku bersemangat untuk melaksanakan program-program SLI selanjutnya. Termasuk impianku tentang perpustakaan.

 

 

Jumat Maret lalu aku bertemu dengan beberapa wali murid MIN 2 Kulon Progo. Aku mengutarakan niat dan programku untuk perbaikan perpustakaan ke depan. Mulailah kami merencanakan program perbaikan perpustakaan sejak 14 – 16 Maret 2020. Pada 17 Maret 2020 kami mulai melaksanakan kegiatan menata dan mempercantik perpustakaan madrasah sebelum adanya surat edaran yang memberikan arahan kepada madrasah untuk melaksanakan pembelajaran di rumah terkait Covid-19.

 

Kegiatan diawali dengan penurunan buku-buku dari rak. Selanjutnya buku-buku dipisahkan berdasarkan jenis, kelas, dan tema. Setelah itu buku-buku diturunkan kemudian rak dipindahkan agar mempermudah pengecatan dinding perpustakaan. Pada mulanya kegiatan diikuti oleh beberapa wali murid dalam jumlah lumayan banyak dengan penjadwalan pada tiap-tiap kelas. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan dapat selesai tepat pada waktu yang direncanakan. Aku melihat semangat yang luar biasa dari para wali murid. Akan tetapi dengan adanya wabah Covid-19 maka pengerjaan perbaikan perpustakaan dilakukan dengan pembatasan jumlah pelaksana. Kondisi ini tentunya membuat sedikit rasa kecewa di hati kami. Kami yang sedang memulai kebersamaan ini harus membatasi satu sama lain.

 

 

Kepala MIN 2 Kulon Progo, Etik Fadhilah Ihsanti, S.Pd.I., M.Pd. merasa sangat senang dan  mengungkapkan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang terlibat dalam perbaikan perpustakaan. Namun demikian, ia menyarankan agar pelaksanaan perbaikan perpustakaan tidak melibatkan banyak orang. “Saya sangat senang atas partisipasi wali murid dalam menangani perpustakaan, tapi dengan adanya edaran yang menghimbau untuk lebih mengedepankan kesehatan, maka saya batasi maksimal 5 orang setiap harinya.  Hal ini dimaksudkan untuk kehati-hatian kita bersama,” terangnya.

 

 

Siti Nurkhosiah salah satu wali murid merasa sangat senang bisa membantu perbaikan perpustakaan tersebut. Bahkan ia mengajak salah satu puteranya untuk membantu  melukis dinding perpustakaan. Sebenarnya ia berharap kegiatan melukis perpustakaan ini bisa selesai sebelum Ramadan tiba. “Bayangan saya, mengecat dinding perpus ini bisa kita selesaikan secepatnya. Agar segera dapat digunakan. Akan tetapi adanya himbauan dari pemerintah, maka kita harus mematuhinya karena ini untuk kebaikan kita bersama,” imbuh Nur.

 

 

Senada dengan Nur, Asih (ibu dari Tasya) mengatakan bahwa ia sangat senang mengikuti kegiatan mempercantik perpus ini. Ia berharap dengan suasana perpustakaan yang menarik, anak-anak akan lebih suka berkunjung ke perpustakaan. “Dengan suasana perpus yang menarik anak-anak pasti akan lebih bersemangat untuk datang ke perpustakaan,” ungkapnya.

 

 

Pada akhirnya pada 24 Maret kepala madrasah terpaksa secara tegas menghentikan dan menunda kelanjutan perbaikan perpustakaan menyusul adanya surat edaran dari Kelurahan Ngestiharjo yang menghimbau agar masyarakat tidak mengadakan kegiatan yang menyebabkan massa berkumpul dalam jumlah banyak. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

 

 

Banyak yang merasa kecewa dengan penghentian dan penundaan kegiatan ini. Semua  sebenarnya mempunyai harapan agar perbaikan perpustakaan dapat selesai secepatnya dan dapat segera digunakan. Sehingga anak-anak lebih rajin membaca di perpustakaan. Namun mereka semua menyadari bahwa kesehatan lebih penting.

 

 

Semoga penundaan ini tidak mengurangi atau melumpuhkan semangat serta kreatifitas bekerja di rumah. Hal ini diharapkan para wali murid dapat berkegiatan di rumah dengan kondisi sehat. Orang tua bisa mendampingi anak-anak belajar di rumah. Sementara itu, Bapak dan ibu guru tetap bisa berkreasi dalam pembelajaran di madrasah.  Semoga pandemi ini bisa tertangani sehingga kita semua dapat beraktifitas seperti sedia kala. Melanjutkan perbaikan madrasah menuju Madrasah Hebat Bermartabat.

 

Komentar

komentar