KAWAN SLI: Buku Kronik Tulisan Bermakna Penuh Keberagaman Cerita

Oleh: Harni Astuti, M.Pd. (Kepala SD Negeri Giripeni, Sekolah Dampingan KAWAN SLI 3 Kulon Progo)

 

Tugas-tugas yang dikirim anak, baik dalam bentuk foto, video rekaman anak, menjadi hiburan tersendiri bagi saya selaku guru, karena masih bisa melihat wajah, ekspresi, dan bisa mendengarkan suara anak didik saya sebagai pengobat rindu karena sudah seminggu ini diberlakukan siswa belajar di rumah, sehingga saya tak pernah bisa  bertatap muka dengan anak-anak didik saya ketika pembelajaran berlangsung. Walaupun terkadang, jika mengingat pembelajaran di kelas anak-anak ada yang usil, ngeyel, namun ketika tidak bertemu rasanya kangen dengan segala tingkah dan celoteh mereka. Wah, itulah sepenggal kisah yang ditulis oleh Ibu Sumaisah, S.Pd., M.Pd., guru kelas V SD Negeri Giripeni dalam buku kroniknya.

 

 

Jika Ibu Sumaisah mengungkapkan kerinduannya kepada anak didiknya, lain pula curahan hati yang ditulis oleh Ibu Sumanti, S.Sos., M.Pd., guru kelas IV. Hari ini, Selasa 3 Maret 2020 jadwal saya untuk disupervisi oleh kepala sekolah. Setelah selesai supervisi, ibu kepala sekolah mengajakku untuk berdiskusi tentang pembelajaran yang baru saja saya laksanakan. Saya ditanya tentang bagaimana perasaanku dalam pembelajaran yang baru saja saya laksanakan. Bagaimana guru ideal menurutku. Jika dinilai, pembelajaran yang saya laksanakan mendapat nilai berapa. Apa kesulitan dalam pembelajaranku, dan sebagainya. Dalam diskusi, ternyata ada beberapa kelemahan dalam pembelajaran, meskipun juga banyak kelebihannya. Metode yang saya gunakan Based  on Learning. Ternyata, media yang saya gunakan kurang mengakomodasi pembelajaran. Ibu kepala sekolah menyarankan membuat “Papan Pepurarit”. Apa pula itu? Saya harus mencari tahu, dan akan saya tulis dalam bentuk PTK. Semangat menulis!

 

 

Satu lagi tulisan Ibu Fajarwati, S.Pd., guru kelas III. Seperti ini bunyinya. Pada hari ini, Jum’at 27 Maret 2020. Kegiatan pembelajaran masih online lewat WA grup. Kegiatan pembelajaran yang saya kirimkan adalah anak menonton video praktik cuci tangan dengan benar. Setelah itu anak mempraktikkannya. Pembelajaran selanjutnya adalah membuat bagan/siklus pembuatan pakaian. Alangkah serunya jika pembelajaran dilaksanakan di kelas. Saya bisa memantau seluruh kegiatan anak-anak secara langsung. Bagaimana saya bisa memantau pembelajaran ini? Saya meminta wali murid untuk merekam tugas putra/putrinya dalam bentuk foto/video, kemudian mengirimkannya kepada saya.

 

 

Tulisan di atas ialah sebagian kecil tulisan yang dibuat oleh para guru dalam buku kroniknya. Terlihat bahwa setiap guru mempunyai keberagaman cerita, begitu pula dengan cara mereka menghadapi situasi pembelajaran. Ada yang menulis dengan gaya bercerita/berita dengan tujuan memberi informasi. Ada pula yang mencurahkan perasaan dan permasalahan yang dihadapi, solusi pemecahan masalahnya, bahkan menuliskan semangatnya untuk menulis dalam bentuk PTK.

 

 

Ada istilah asing yang kalian dapatkan? Iya, benar sekali. Apa ya buku kronik guru itu? Buku kronik guru merupakan buku catatan khusus untuk menulis semua kegiatan harian yang dilakukan oleh guru selama pembelajaran, baik di dalam maupun di luar sekolah. Di SD Negeri Giripeni, setiap guru diarahkan untuk menulis apapun yang sedang mereka lakukan dan rasakan di hari itu pada buku kroniknya masing-masing. Banyak hal yang ditulis guru-guru di SD Negeri Giripeni. Sejauh ini diantaranya menulis materi pokok pembelajaran yang akan disampaikan, sehingga guru mengetahui batasan materi yang telah diberikan untuk dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Selain itu, guru juga dapat mengecek dan menuliskan jumlah peserta didik yang mengikuti pembelajaran dan yang tidak hadir. Kemudian, guru dapat menuliskan kemajuan belajar siswa, tingkat pemahaman siswa, antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran, kelemahan pembelajaran, dan bagaimana cara-cara mengatasinya. Dengan demikian, buku kronik akan memudahkan guru untuk mengorganisir kegiatan pembelajaran.

 

 

Bagaimana dengan peran Kepala Sekolah dalam kegiatan menulis buku kronik guru? Sesuai kesepakatan bersama dalam School Strategic Discussion (SSD) bahwa setiap hari Senin, para guru mengumpulkan buku kroniknya di meja Kepala Sekolah. Selanjutnya kepsek akan membaca satu per satu tulisan para guru. Kemudian kepsek memberi umpan balik berupa catatan komentar, pujian atas keberhasilan yang telah dicapai, langkah penyelesaian masalah jika guru belum menuliskan penyelesaian atas masalahnya, dan terus memotivasi untuk menulis dalam bentuk karya tulis, baik yang ditulis dalam media sosial maupun dalam bentuk karya tulis ilmiah (PTK).

 

 

Adanya kegiatan menulis buku kronik ini, Kepala Sekolah dapat mengetahui kesulitan guru, mengendalikan, memengaruhi, dan mendorong para guru untuk menjalankan tugas dengan jujur, semangat, tanggung jawab, efektif, dan efisien. Kepala Sekolah dapat mengingatkan kembali tujuan organisasi (dalam hal ini sekolah) dan misi yang perlu dikerjakan bersama-sama dengan cara yang persuasif tanpa paksaan melalui umpan balik di catatan buku kronik guru tersebut.

 

 

Kegiatan menulis buku kronik tidak hanya bertujuan agar para guru terbiasa menulis, namun yang lebih penting adalah bahwa isi dari tulisan tersebut bisa dimanfaatkan untuk melakukan refleksi dan perbaikan diri. Sebagai contoh, ketika guru melakukan pembelajaran dan merasa ada kekurangan dalam pembelajarannya maka guru segera menuliskannya di buku kronik. Di hari berikutnya (ketika guru membacanya), diharapkan tidak mengulangi lagi kekurangannya dan ada usaha serta semangat untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya.

 

 

Kesadaran guru SD Negeri Giripeni dalam menuliskan semua kegiatan pembelajarannya, disebabkan salah satunya karena adanya kerja sama dengan Dompet Dhuafa Pendidikan (DDP) melalui pendampingan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Kerja sama ini melibatkan dua guru yang dilatih dan dijadikan role model pengembangan literasi. Guru model tersebut selanjutnya diberi amanah untuk mengimbaskan ilmu pengetahuan maupun praktik dari pelatihan yang sudah didapatkannya kepada guru-guru lainnya untuk bersama-sama menggerakkan budaya literasi di SD Negeri Giripeni. Termasuk salah satunya ialah kegiatan menulis buku kronik guru. Jadi, tidak hanya siswa yang perlu ditingkatkan budaya literasinya. Sebagai pendidik dan teladan bagi para siswa, penting agar guru juga meningkatkan budaya literasinya.

 

Komentar

komentar