KAWAN SLI Asahan: Tumbuhkan Budaya Literat Melalui Pelatihan Khas Literasi

MIS Al Washliyah Lubuk Amat, Kecamatan Silau Laut Nampak berbeda dengab kehadiran empat puluh  orang dari sebelas Sekolah Dasar (SD) dampingan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Kabupaten Asahan. Keempat puluh orang ini merupakan peserta Pelatihan Khas Literasi yang diadakan Konsultan Relawan S (KAWAN) SLI dan Kementrian Agama Kabupaten Asahan.

Pelatihan kali ini merupakan salah satu cara KAWAN SLI mengenalkan literasi kepada sekolah/madrasah Kabupaten Asahan. Meskipun belum mahir menulis, namun tekad para peserta membuat pelatihan semakin semarak. Pelatihan yang digelar dalam dua sesi ini dikemas dengan menarik oleh Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI). Sesi pertama diisi materi Khas Literasi yang dibawakan oleh KAWAN Alivia. Sementara sesi berikutnya dibagi dalam dua kelas berbeda, Kelas Efektivitas Membaca dibersamai oleh KAWAN Nisa dan Kelas Pemetaan Kompetensi Literasi Siswa (Peta Taktis) 2.1 dibawakan oleh KAWAN Luthfia.

 

Pelatihan Khas Literasi dilakukan dengan tujuan agar para peserta mampu memahami dan menyusun aktivitas pengembangan literasi sekolah, utamanya peserta dapat mengimplementasikan program khas SLI (ceruk ilmu, kronik guru, Small Learning Comunity) untuk guru dan siswa; Juga mampu memberi pelatihan membaca efektif dan guru memahami cara melakukan pengukuran serta dapat menggunakan instrumen Peta Taktis 2.1 sebagai alat ukur efektivitas literasi di sekolah.

“Sebuah budaya literasi yang baik, akan tercipta dengan perencanaan terpadu (program khas literasi) yang melibatkan komponen pendidikan (baik guru, siswa, dan masyarakat), diprogramkan dan dilaksanakan berkelanjutan (penerapan efektivitas membaca), lalu dievaluasi berkala (diukur dengan intrumen Peta Taktis 2.1),” ujar KAWAN Luthfia. Ia menegaskan jika setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan para guru mampu menanamkan paradigma baru bahwa literasi tidak cukup hanya diperuntukan bagi siswa.

“Budaya literasi yang efektif mampu membentuk kualitas manusia lebih baik, hal ini berkaca dari firman Tuhan yang pertama kali diterima Nabi Muhammad saw., yaitu perintah membaca. Bahwa masa beliau, tercatat sebagai pengubah sejarah manusia, sesempurna teladan dalam akhlak, mengenalkan manusia pada kesempurnaan derajat, sebab ilmu, kesemua dimulai dari perintah membaca. Maka terlebih para pemimpin sekolah/madrasah dan para guru, sebagai teladan, sepantasnya selalu terdepan dalam aktivitas berliterasi untuk menghadirkan generasi terbaik penentu masa depan abad ini,” tutupnya.

Komentar

komentar