Kehidupan dan Perjuangan Kawan SLI

Kawan SLI antarkan 2 anak bersyahadat di Meranti

Untuk menjadi seorang pejuang, tidak melulu harus berada di medan perang, mengacungkan parang dan menebas lawan. Menjadi pejuang itu sebenernya cukup sederhana. Lakukan apa yang menjadi tugas, tanggung jawab, dan profesimu sebaik mungkin, dengan penuh komitmen. Ya, cukup dengan itu, seseorang bisa menjadi pejuang. Pejuang untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara. Untuk kehidupan yang lebih baik.

Indonesia dengan segala kemajemukannya, tentu memberikan warna tersendiri. Berbagai suku, bahasa, budaya, pun dengan profesinya. Mulai dari kalangan pedagang kaki lima hingga pengusaha hotel bintang lima. Mulai dari petani hingga hakim negeri. Semua tentu sama-sama berjuang di bidangnya dan (semoga) termasuk saya

Saya adalah seorang Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Sekolah Literasi Indonesia merupakan salah satu program dari Yayasan ternama di Indonesia, Dompet Dhuafa Republika. Lama waktu bekerja saya di Dompet Dhuafa baru 3 bulan. Kalau kata orang, masih seumuran jagung. Masih panjang perjalanan saya untuk meniti karir di Dompet Dhuafa Republika sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI). Dan semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik dari apa yang saya miliki untuk yayasan ini.

Bekerja di Dompet Dhuafa sebenarnya tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Program-program yang sangat identik dengan wilayah pedalaman membuat saya sangat takut. Saya berusaha untuk tidak berurusan dengan hal yang satu ini. Tapi kembali lagi pada sesuatu yang tidak bisa kita tolak, takdir. Justru akhirnya saya menjadi salah satu bagian dari para pejuang daerah pendalaman negeri ini.

Awal perjalanan saya dimulai ketika saya menandatangani kontrak kerja untuk siap ditempatkan di seluruh wilayah kerja Dompet Dhuafa. Kemudian mengikuti pelatihan selama 2 bulan di kota Bogor. Tidak hanya dibekali ilmu tentang pendidikan, tapi juga ditempa fisik dan mental dengan kedisiplinan ala militer. Setelah menjalani pelatihan selama 2 bulan, kami kemudian ditempatkan di unit kerja. Saat-saat penentuan unit kerja adalah hal yang cukup mendebarkan bagi saya. Dalam hati berharap bisa mendapatkan penempatan kerja tidak jauh dari kota kelahiran, syukur-syukur bisa mendapatkan tempat di kota kelahiran. Tapi mungkin, Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Takdir berbicara Kepulauan Meranti menjadi tempat penempatan kerja saya. Bekal yang saya dapat selama pelatihan, saya coba terapkan sebisa mungkin. Butuh waktu lama bagi saya untuk beradaptasi di daerah disini. kurang lebih 1 bulan. Namun alhamdulillah, masyarakat disini sangat menyukai tamu-tamu baru yang datang ke desa mereka. Waktu demi waktu terus berlalu masyarakat terus berdatangan kerumah dengan membawa buah-buahan ke tempat saya tinggal saya walau kami berbeda agama. Begitu juga dengan anak-anak disini yang rajin ke rumah untuk belajar.

Hal yang paling saya takuti adalah saat anak-anak non muslim meminta kepada saya untuk mengajari shalat dan mengaji tanpa pemberitahuan dari orang tuanya. Dalam benak pikiran saya “Akan ku pasrahkan kepada yang Kuasa jika ini takdir saya, jika tempat ini tempat terakhir saya hidup, saya sudah relakan. Asalkan anak2 ini masuk ke agama islam”

Seminggu kemudian setelah saya mengajarkan mereka shalat dan mengaji, anak-anak tanpa saya ketahui mereka meminta masuk islam kepada orang tuanya. Hal tersebut membuat saya takut. Beberapa anak datang kerumah saya serta melaporkan tanggapan dari orang tuanya.

“Pak saya tidak boleh masuk islam sama orang tua saya pak” celoteh seorang anak. Begitu juga dengan ketiga teman yang lainnya, mereka merasakan hal yang sama.

Satu jam berselang datanglah seorang anak yang melaporkan bahwa ia telah diizinkan oleh orang tuanya untuk masuk islam dan meminta untuk segera disyahadatkan. Hatiku ragu ketika anak tersebut mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan izin dari orang tuanya. Maka saya beranikan diri untuk datang kerumah anak tersebut.

Sesampai dirumahnya, orang tua anak tersebut mengatakan kepada saya,

“Pak tolong ajari anak saya shalat agar menjadi anak yang lebih baik dan berguna untuk desa ini kedepannya”. Sayapun sangat terharu dengan perkataan orang tuanya tersebut.

Tak berhenti disana, sepulang dari rumah anak tersebut, saya mengajak teman saya untuk kerumah pak komite. Disana kam dihidangkan dengan air mineral dan makanan ringan lainnya. Ditengah canda tawa, tiba-tiba pak komite mengajak kami berbicara serius.

 “Pak bolehkah anak saya, masuk islam?”

Hatiku tiba-tiba terhenti untuk menjawab pertanyaan pak komite (apa saking senangnya mendengarkan ya heheh), akhirnya saya menjawab

“Boleh pak, sangat boleh”.

“Jadi kapan anak saya di syahadat kan pak”. Tanya pa Komite.

“ Tunggu pak ustad pulang dari Jakarta ya pak hehe” jawab saya.

“ ohhh baik pak” balas pa Komite.

Karna waktu sudah jam 10 malam kami izin pulang, lalu pak komite berteriak kepada kami

“Pak tolong ajari anak saya tentang shalat ya pak???.”

Sayapun menjawab

“Insyaallah siap pak”

Itulah sekelumit kisah perjuangan saya menjadi relawan. Saya sangat berterima kasih pada Dompet Dhuafa yang sudah menjadikan saya bagian dari keluarga ini. Bekerja di sini memberikan sebuah tantangan sekaligus kebahagiaan untuk bisa mengabdi kepada masyarakat dan bangsa melalui profesi. Menjadi seorang pejuang tanpa harus mengangkat senjata. Semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik untuk Sekolah Literasi Indonesia.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044