Jangan Pernah Berhenti Belajar Makmal Pendidikan

Jangan Pernah Berhenti Belajar

Pemudi energik asli Desa Engkerengas lahir dan dibesarkan di desa pinggiran sungai yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Letak geografis membuatnya menjadi sosok wanita yang tangguh. Ia merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara yang juga anak seorang kepala desa di Desa Engkerengas. Diapun memiliki saudara kembar yang saat ini sedang melanjutkan kuliah di Pontianak.

Usianya masih terbilang muda yaitu 22 tahun, tetapi kepeduliannya terhadap pendidikan mengalahkan pemuda yang seusia dengannya di desa ini. Keseharian bu Sumi adalah menjadi satu-satunya guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cahaya Bunda dan menjadi salah satu guru MTs Attaqwa Filial Engkerengas. Walaupun pendidikan terakhirnya hanya sebatas SMA dia terus berusaha menjadi sosok guru pembelajar.

Menjadi guru dengan segala keterbatasan tentu banyak menghadapi berbagai rintangan, tak sedikit yang menyepelekan dan meragukan kemampuan, dari sosoknyalah aku sadar bahwa S1 pendidikan bukan jaminan seorang layak menjadi guru melainkan mereka yang tulus berbagi den terus belajarlah yang layak menjadi seorang guru. Tentu kekurangan masih banyak terdapat disana-sini tapi kemauannya untuk terus belajar dan terus tampil percaya diri patut untuk diberi apresiasi.

Bertahan ditengah keterbatasan

Bu Sum biasa beliau disapa sudah aktif mengajar sejak tahun 2015 yaitu tahun pertama berdirinya sekolah MTs Attaqwa Filial Engkerengas, beliau merupakan satu-satunya guru pendiri yang tersisa di sekolah MTs tersebut hingga kini, saat guru-guru lain memilih hengkang mencari penghidupan yang layak beliau masih tetap bertahan sebab ini adalah sekolah satu-satunya dan harapan untuk kemajuan desa kedepan. Kemudian di tahun 2017 beliau aktif mengajar di PAUD Cahaya Bunda yang merupakan tahun pertama PAUD itu didirikan. Jadi bisa disimpulkan bagaimana peran besar beliau terhadap pendidikan di Desa Engkerengas ini.

Tak Pernah Berhenti Belajar

Saat awal-awal sekolah MTs berjalan yang saat itu hanya Bu Sumi saja guru yang ada, tentu banyak rintangan dan hambatan. Kegiatan belajar mengajar diadakan di Kantor Desa Engkerengas karena belum memiliki bangunan sendiri. Fasilitas penunjang belajarpun belum memadai, bahkan setiap usai mengajar baju dan celana menjadi kotor akibat debu kapur tulis yang digunakan menjadi hal yang biasa dirasakan oleh bu Sumi. Menjalankan sekolah seorang diri dengan bekal ilmu yang tidak ada belum lagi ditambah gunjingan para masyarakat yang mengatakan tak layak menjadi seorang guru karena hanya tamatan SMA, sering membuatnya putus asa. Bahkan beliau pernah ingin berhenti mengajar dan bahkan terkadang beliau tidak masuk mengajar karena begitu beratnya dan kebingungan bagaimana menjalankan sekolah. Hingga akhirnya datanglah tim dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melakukan asesmen sekolah yang kelak akan mendapatkan pendampingan dari Konsultan Sekolah Literasi Indonesia. Sejak kedatangan merekalah sekolah kembali memiliki arah dan tujuan, apalagi sejak dikirimkan 2 orang konsultan untuk mendampingi sekolah MTs Attaqwa Filial Engkerengas membuat bu Sumi kembali bersemangat. Hingga suatu hari ia diberangkatkan menuju bogor untuk mendapatkan pelatihan tentang bagaimana menjadi seorang guru pada program Sekolah Guru Indonesia (SGI). Bukan perkara mudah membujuk bu Sumi untuk ikut pelatihan di Bogor, sebab selain anak bungsu diapun belum pernah pisah sejauh itu dengan orang tua. Ia merupakan anak yang paling dekat dengan kedua orang tuanya. Bahkan ini menjadi kali pertama beliau naik mobil dan pesawat. Namun demi keinginannya untuk menjadi guru beliau memberanikan diri untuk pergi ke Bogor, dan setibanya disana beliau tersadar dan tercerahkan bahwa menjadi seorang guru memang butuh perjuangan dan pengorbanan.

Bertemu dengan berbagai guru dari seluruh penjuru nusantara begitu banyak memberikan pelajaran yang berarti bagi beliau. Hingga itu memberikan bekal kepercayaan diri baginya untuk tetap berkecimpung di dunia pendidikan hingga kini. Segala keraguan masyarakat sekitar dijawabnya dengan penampilan penuh percaya diri, bahkan ia selalu siap dan mengambil bagian dalam agenda-agenda yang ada di desa. Itulah sosok pahlawan masa kini yang dimiliki Indonesia, teruslah belajar, karena tiada kata berhenti belajar bagi seorang guru.

Komentar

komentar