JALAN JUANG KAWAN SLI

JALAN JUANG KAWAN SLI

Oleh: Ikrimah Vella R[1]

Kepada sebuah perjuangan

Ia tak harap balas

Kepada sebuah pengabdian

Ia meninggalkan dan ditinggalkan

Kepada masa depan

                                                                              Ia menyalakan diam                                                                                                                                                                    .

 

Sejatinya kebahagiaan bukan terletak pada jabatan dan gaji setiap bulan. Kebahagiaan ialah membahagiakan, seperti Hadis Riwayat Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir Nomor 13280 sebagai berikut:

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid sebulan penuh”.

 

Tepat sekali! Saya tidak sedang membicarakan perihal duniawi, melainkan kehidupan setelah kematian. Suatu keputusan yang begitu lucu bagi mata banyak orang ketika memilih meninggalkan pekerjaan dengan jabatan dan gaji yang menggiurkan yang tidak bisa didapatkan semua orang untuk perjalanan menuju pengabdian.

30 Juni 2018, terasa berat meninggalkan Cirebon. Perihal birokrasi dan kecerdasan ekologi—masih harus dibenahi bersama para relawan di sana. Namun, dengan Kuasa-Nya, Tuhan berkehendak sesuai kebesaran-Nya. Saya dipanggil untuk melakukan perjuangan terhadap pendidikan. “Keputusan Tuhan tidak akan keliru, tidak akan pula mengecewakan”, kalimat yang menjadi penguat rindu pada daerah kelahiran.

Bumi Pengembangan Insani (BPI) sebuah rumah yang menunjukan indahnya jalan juang, begitu yang dikatakan oleh Angger Sutawijaya selaku kakak yang memberikan surat rekomendasi kepada saya untuk melangkah di jalan ini. 1 Juli 2018, untuk pertama kalinya berkumpul dengan orang-orang aneh seperti saya di jalan yang sama dan berasal dari berbagai wilayah: Manokwari, Bima, Padang, Makasar, Medan, Aceh, dan daerah-daerah lain yang belum sempat terjamah oleh saya. Seru. Menarik.

Kondisi tempat tinggal selama masa pembekalan—paviliun sebutannya, FIX! serasa di pesantren. Saling belajar dan mengingatkan.

“Embernya dong gantian”

“Pakaian yang sudah kering dijemuran diangkaaaat, gantiaaaan”

“Shalat dulu shalat”

“Ayooo ke pantry…. waktunya makan”

“Jangan telat masuk kelas cepet sepuluh menit lagi”

Itulah beberapa kalimat yang sering terdengar tiap hari di paviliun. Mulanya minder, banyak yang sudah SM3T dan PPG, tidak sedikit pula yang memiliki segudang pengalaman mengajar dan mengenyam nikmatnya bangku pasca sarjana. “Saya siapa? Kenapa di sini? Apakah panitia melakukan kesalahan dalam perekrutan sehingga tercantum nama saya di laman resmi saat pengumuman penerimaan?” Kalimat tersebut benar-benar mengganggu selama beberapa malam. Namun, menariknya, mereka selalu menguatkan. Melalui itu, saya tersadar bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi, memiliki teman baru (read: keluarga baru) pun adalah rezeki yang tidak dapat diuangkan.

Izinkan saya menjelaskan mengenai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI), yaitu program dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa yang bermitra dengan beberapa sekolah di nusantara dengan kategori: Beranda, Desa, Urban dan Kota. Sekolah Literasi Indonesia setiap tahunnya didampingi oleh KAWAN dengan tugas mengembangkan sekolah melalui program-program yang kreatif serta melatih pendidik dan tenaga kependidikan agar lebih inovatif. Bukan hanya itu, KAWAN akan dihadapkan dengan beragam permasalahan di wilayah sekitar sekolah yang harus diselesaikan. Sebagai contoh, di Sekolah Urban yang notabene terjadi ketimpangan sosial dengan permasalahan generasinya terbiasa menjadi pengantar narkoba, juga di Sekolah Beranda yang permasalahannya tidak lain mengenai kondisi yang benar-benar menyayat hati.

Kedatangan KAWAN ke lokasi penempatan tidak hanya sekadar datang lalu pergi, sebelumnya kami ditempa menjadi pejuang yang siap menghadapi beragam situasi dan kondisi. Mulai dari attitude hingga grooming. Ditempa menjadi coach, trainer dan consultant. Ilmu yang didapat di sini tentu tidak akan bisa digantikan dengan rupiah, seberapapun banyaknya. Bangga? Tentu, membahagiakan mereka yang menanti kami di sana. Bertemu dengan generasi penerus bangsa yang akan kami didik menjadi pribadi berkarakter yang bisa berkontribusi untuk perbaikan negeri.

Mengutip ucapan Bapak Hikmat Hardono, Direktur Utama Indonesia Mengajar, ketika membuka acara peresmian Konsultan Relawan SLI 2, “Pembangunan bisa ditunda, namun setiap hari anak-anak selalu bertumbuh besar, kita tidak bisa menunggu”. Dari situ saya simpulkan, bahwa kritikan tanpa aksi sama dengan nol besar. Lebih baik bergerak bersama menyalakan dian untuk perbaikan pendidikan.

Mari berkontribusi!

[1] Penulis, kontak: ikrimahvee@gmail.com | 0852-9474-2100

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044