Ini Dia, Tiga Pemenang Call For Paper Pendidikan Berkeadilan

Acara inti Simposium adalah presentasi paper Pendidikan Berkeadilan. Paper merupakan karya peserta terbaik. Tahun ini, ketiga paper terbaik yang dipresentasikan merupakan karya tiga anak muda hebat. Mereka adalah Ridho Ilahi, Didiq Rosadi Ali, dan Arif Rahman Hakim.

Juara Pertama, Ridho Ilahi adalah mahasiswa S2 di program Magister Statistika Terapan di UNPAD juga PNS di BPS Kabupaten Bangka Tengah. Paper Ridho berjudul “Standar Pembiayaan Pendidikan (Studi Kasus: Pengaruh Jarak Rumah ke Sekolah dan Pengeluaran Rumahtangga Terhadap Partisipasi Sekolah di Provinsi Papua)”. Ridho memfokuskan penelitiannya pada rentang usia 7-15 tahun. Melakukan penelitiannya, Ridho menggunakan metode analisis regresi linear berganda. Dari penelitiannya, Ridho menemukan bahwa semakin jauh jarak rumah ke sekolah maka semakin rendah angka partisipasi sekolah usia 7-15 tahun, dan semakin tinggi pengeluaran rumahtangga per bulan maka semakin tinggi angka partisipasi sekolah.

Juara Kedua, Didiq Rosadi Ali, menuliskan paper berjudul “Daerah Prioritas Untuk Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi Bagi Rakyat Miskin Di Indonesia”. Didiq merupakan mahasiswa jurusan Statistika Ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Penelitian Didik dilakukan untuk mengkaji gambaran kemiskinan Indonesia secara makro yang dikaitkan dengan dimensi pendidikan sebagai faktor yang mempengaruhi kemiskinan tersebut. Didiq melakukan penelitiannya dengan metode analisis deskriptif dan cluster analysis. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat tiga provinsi dengan kategori prioritas 1 yakni perlu penanganan segera serta mendapatkan kebijakan yang tepat untuk peningkatan akses terhadap pendidikan tinggi bagi masyarakat miskin yaitu Provinsi Papua, Papua Barat, dan Maluku.

Arif Rahman Hakim, peringkat ketiga, adalah mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Karya Arif berjudul “Disrelevansi Privatisasi Pendidikan Tinggi Dengan Konsep MP3I Untuk Kelompok Marginal”. Pada penelitian tersebut Arif menemukan bahwa privatisasi pendidikan tinggi tidak relevan dengan rencana pemerintah untuk melakukan pembangunan ekonomi Indonesia dengan MP3I (Masterplan Pembangunan dan Percepatan Ekonomi Indonesia). Di satu sisi, akses masyarakat marginal sangat terbatas dengan adanya privatisasi perguruan tinggi, padahal mereka punya hak yang sama untuk menjadi sumberdaya manusia dengan kecapakan s skill berdaya saing tinggi sehingga mampu menjadi penggerak perekonomian negara. Sedangkan di sisi lain, pemerintah memiliki program untuk perbaikan ekonomi Indonesia melalui beberapa koridor ekonomi, program tersebut tertuang dalam MP3I.

Presentasi ketiga paper tersebut dimoderatori oleh Asep Sapaat, Direktur Sekolah Guru Indonesia. Hadir sebagai penanggap Totok Amin Soefijanto (Deputi Rektor Paramadina) dan Fuad Jabali (Direktur DRPM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Kedua penanggap juga merupakan juri kompetisi Call For Paper Pendidikan Berkeadilan. Lepas presentasi, sesi tanya jawab dengan audiens dibuka. Sesi ini berlangsung dinamis dan sangat interaktif. [siska]

{loadposition related}

{fcomment}

 

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044