Ibu Kangenkah Kau Padaku

Oleh: Suni Ahwa

Hanya satu pintuku tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu
Hanya satu pintuku tuk bercanda dan tertawa
dipangkuan seorang ayah

 

(Mocca)

 

“Purwita udah nggak sanggup lagi, bu”. Lirih suara Purwita dari dalam kamarnya. Kedua tangannya gemetar saat ia memegang selembar foto ibunya yang sedang berdiri di samping Ka’bah lama sekali. Tiba-tiba bulir airmatanya berkejaran. Ia tersedu-sedu. Airmatanya mengenai seragam merah putih yang masih dikenakannya.

 

 

Kejadian beberapa waktu lalu melintas lagi. Memenuhi pikiran Purwita. Gunjingan teman-temannya di sekolah dan masyarakat di rumah masih jelas terngiang di telinganya. Dan mengganggunya.

 

 

“Kenapa harus aku bu yang mengalami semua ini. Kenapa hanya aku yang lebih banyak diuji dibandingkan orang lain.” Purwita menghentikan menulisnya. Hanya pada sebuah surat cinta ia mengutarakan segala perasaannya. Seperti perasaan yang sedang menguasainya kala itu.

 

 

Surat cinta yang ditulis Purwita kelak ketika ibunya pulang akan dibaca. Sudah tak terbilang lagi berapa banyak surat yang dibuatnya. Surat cinta dari anak kepada seorang ibu yang begitu dirindukannya. Ia meremas pulpen pemberian Ibunya kuat-kuat. Pulpen yang dibelikan ibunya masih disimpan baik-baik oleh Purwita. Ibunya tahu kalau Purwita menyukai tulis menulis.

 

 

Purwita menyeka air matanya. Saat pintu kamarnya diketuk berulang kali dari luar. Ia bergegas menaruh surat cinta yang baru ditulisnya pada kotak biru di bawah lemari bajunya. Sejurus kemudian ia mengganti pakaiannya. Menggantungkan pakaiannya di lemari kayu yang telah usang.

 

 

“Wita mau salat Zuhur dulu ya oyot.” Seru Purwita dari dalam kamar. Ia buru-buru menuju kamar mandi di dapur. Mengambil air wudhu. Dan menunaikan salat dhuzur yang telah 15 menit berlalu.

 

 

Purwita berdiri mematung di depan pintu masuk warung. Pintu masuk warung yang hanya dibatasi selembar kain tipis. Sehingga ia dapat menyaksikan perempuan senja yang telah membantu proses kelahirannya lama. Tiba-tiba pikirannya kembali ditumbuhi berderet pertanyaan. Yang getir. Dan menyakitkan.

 

Mungkinkah ini adalah balasan Tuhan pada seorang ibu yang telah mencampakkan anaknya beberapa waktu lalu.

 

“Kenapa harus aku, bu.” Lirih Purwita. Matanya berair.

 

“Enek,” Oyot memanggil cucunya yang sedang berdiri mematung menyaksikan oyotnya. Purwita tersentak mendengar panggilan oyotnya. Ia langsung menghampiri oyotnya. Dua piring dengan lauk pauk seadanya dibawa Purwita cepat. Waktu telah menunjukkan pukul 12.45 WIB. Itu artinya dia harus menggantikan oyotnya menjaga warung.

 

“Ayo makan siang dulu, oyot.” Purwita tersenyum hampa sembari menyodorkan sepiring nasi pada oyotnya yang sedang duduk. Kedua tangan oyot begitu cekatan membereskan barang dagangan yang belum rapi.

 

Tangan kanan oyot melayang ke kepala Purwita. Ia mengusap lembut sembari memandangi Purwita. Cucu semata wayangnya yang sudah mengenakan kerudung. Oyot mengembangkan senyuman simpul. Purwita membalasnya. Di bawah terik matahari mereka begitu menikmati santap siang meski dengan ikan asin dan sayur asem.

 

**

 

Sudah lebih dari lima tahun kejadian itu berlalu. Namun, bayangan masa lalu itu bagai luka yang membekas di tubuh Purwita. Bekas luka yang tidak hanya dirasakan oleh ibunya tetapi juga dirinya. Kerinduan pada ibunya seketika menjelma menjadi mimpi buruk. Seperti malam itu. Mimpinya seolah nyata tergambar di depan matanya untuk kesekian kalinya.

 

“Rek sampe iraha aya di imah, akang. Dua tahun deui anak urang makin gede. Pasti ngabutuhkeun biaya gede.”1 Papar Wati pada suaminya yang sedari tadi asyik menonton televisi. Tidak ada tanggapan apa-apa yang keluar dari mulut suaminya. Wati geram. Kemudian ia menghampiri suaminya. Dengan langkah cepat remote kontrol televisi yang berada di genggaman suaminya berpindah tangan. Dia menekan tombol off.

 

 

“Kang!” Seru Wati. “dengerin saya ngomong nggak sih.” Katanya sekali lagi seolah memastikan.

 

“Ari dia kunaon?! Balik ti sawah marah-marah. Geura masak! Aing lapar! Ti tadi nungguan dia.”2 Samani membaringkan tubuhnya di kursi ruang tamu. Tanpa memedulikan pertanyaan dari isterinya.

 

Wati melihat lelaki yang sudah 6 tahun hidup bersama. Melewati masa-masa suka dan duka. Hingga seorang anak perempuan lahir ke dunia. Kelahiran anak pertama, Purwita seolah melengkapi kebahagiaan rumah tangganya. Ia meremas remote kontrol yang dipegangnya kuat-kuat. Penglihatanya sedikit kabur saat keringat sebiji jagung menetes bersamaan buih airmata yang ikut mengalir di pipi cekungnya. Bau lumpur bercampur keringat menyenguk ruang tamu.

 

PRAKK.

 

Wati membanting remote kontrol dari genggamannya ke ubin. Samani tersentak dari baringnya. Kedua bola matanya langsung melesat pada perempuan yang membelakanginya. Ia membalikkan badan isterinya dengan kencang.

 

“Kamu!” Samani melayangkan telunjuknya tinggi-tinggi. Giginya bergemeretak. Matanya memerah.

 

“Saya nggak kuat lagi sama akang. Saya udah nggak sanggup lagi, kang. Lebih baik kita cerai saja.” Wati menghempaskan kedua tangan yang mencengkram bahunya.

 

“Kamu berani minta cerai sama saya! Kenapa? Apakah karena saya tidak menafkahi keluarga ini lagi. Begitu!” Samani mencengkram bahu isterinya untuk kedua kalinya. Kini cengkramannya bertambah kuat. Ia memandang wajah isterinya dengan sorot mata tajam.

 

“Karena akang sudah berubah! Menjadi seseorang yang tidak lagi saya kenal.” Wati membuang pandangannya. Airmatanya jatuh satu persatu mengenai pipi yang tak lagi tampak terawat semenjak ia memutuskan menjadi pesuruh di sawah.

 

“Berubah!” Samani mengulang kata-kata isterinya. “kamu tahu kenapa saya sekarang berubah?! Itu semua karena kamu! Karena kamu!?” Samani berang.

 

“Karena saya? Maksud akang apa?” Wati berhenti menangis. Ia menyeka airmatanya cepat.

 

“Karena kamu tidak memberikan apa yang saya inginkan!”

 

Kedua mata Wati membelalak mendengar ucapan suaminya. Ia mengelus dadanya perlahan. Ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya masih mengungkit permintaan yang menurutnya tidak masuk diakal. Permintaan paling bodoh dikeluarkan dari mulut seseorang yang pada saat itu biaya rumah tangga dan putrinya seharusnya dinomor satukan.

 

“Jadi, kamu masih mengharapkan permintaan tolol itu! Masih kepikir kesana rupanya,” Wati mendengus. Tiba-tiba tubuhnya seperti tersulut api. Kepalanya panas. Darahnya bergolak. Ia mengambil langkah seribu. Menghampiri meja makan. Ia meraih sebilah pisau.

 

“Kenapa tidak bunuh saja saya, kang!” Ia melantangkan suaranya sembari mengacungkan sebilah pisau peranti memasak di depan wajah suaminya.

 

“Kamu sudah berani ya sekarang sama suamimu.” Samani melihat Wati dengan tatapan nanar. Kedua bola matanya seperti akan melompat keluar. Benda yang terangkat di depan matanya segera ditepis. Samani kalut. Ia mendorong Wati kencang. Seketika Wati tersungkur ke tanah. Pertengkeran semakin hebat. Suasana semakin panas dan tegang. Tiba-tiba terdengar suara Purwita dari balik gorden. Ia menangis sejadi-jadinya. Menyaksikan kedua orang tuanya yang saling menyakiti satu sama lain. Tanpa berpikir panjang Wati berlari menghampiri Purwita. Memeluk Purwita yang tersedu-sedu. Samani bergegas melangkah keluar rumah. Meninggalkan dua perempuan yang dirundung kesedihan. Purwita menatap lepas punggung bapaknya dengan sorot mata berkilat.

 

**

 

“Ibu, ibu, ibu….” Purwita memanggil-manggil ibunya dari dalam kamar. Perempuan tua yang tengah khusyuk bertafakur di sepertiga malam itu bergegas menghampiri sumber suara. Ia tertatih-tatih menghampiri kamar Purwita yang bersebelahan. Oyotnya sudah paham betul dengan teriakan itu. Teriakan yang tidak hanya sekali namun hingga berkali-kali. Itu merupakan sebuah pertanda. Tanda bahwa saat itu cucunya sedang dilanda mimpi buruk.

 

“Enek, enek.” Oyot mengelap keringat yang membasahi wajah Purwita pelan. Tangannya gemetar meraih tangan Purwita yang dingin. Ia segera membangunkan Purwita cepat. Bibir oyot tak kunjung berhenti melafalkan ayat-ayat Allah. Beberapa menit kemudian Purwita tersadar dari tidurnya. Ia memeluk oyotnya penuh haru erat.

 

Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Purwita terjerembab dalam mimpi panjang masa lalunya. Seperti malam itu, dan entah mengapa mimpi buruk itu datang tepat di hari kelahiran Purwita. Dan di hari kelahiranya yang ke 11 tahun. Naluri seorang ibu memang kuat. Telepon genggam Purwita berdering. Tertulis di layar telepon genggamnya nama ibu. Ia langsung menjawab teleponnya.

 

“Assalamualaikum.”

 

“Waalaikumsalam.”

 

“Selamat ulang tahun ya anak ibu yang cantik. Semoga bertambahnya usia Wita semakin bertambah pula ilmunya. Makin sholehah dan membanggakan ibu di sini ya, sayang.” Tutur perempuan paruh baya dari seberang jalan. Tutur katanya tampak sekali diselimuti kebahagiaan.

 

“Bu….” Purwita memanggil dengan suara sendu.

 

“Iya anakku sayang. Maafkan ibu ya nak. Ibu nggak bisa pulang tahun ini. Insya Allah tahun depan jika diizinkan. Oh ya, ibu nggak bisa lama-lama meneleponnya ya. Sedang sibuk di sini. Assalamualaikum.” Wati menutup teleponnya cepat.

 

Kebahagiaan yang sempat menyelimuti Purwita seketika menghilang. Senyum simpul Puwita yang mengembang berganti muram. Ketidakpulangan ibunya ke Indonesia tiba-tiba mengundang tanya. Pertanyaan itu muncul berlompatan dari kepalanya.

 

Kejadian tempo hari itu melintas lagi. Apakah ada hubungannya dengan masalah di rumahnya. Tapi bagaimana bisa kabar buruk itu tersiar hingga ke telinga ibu. Purwita menafsirkan jawabannya sendiri. Kalau bukan dari seseorang yang sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya itu, siapa lagi yang bisa menyampaikan kabar ini.

 

“Masih dapatkah lidah ini sanggup memanggilmu, ayah.” Lirih Purwita dalam hati. Gagang teleponnya masih menempel di telinga. Disepertiga malam itu airmatanya pecah. Ia tergugu pilu.

 

***

 

[1] “Rek sampe iraha aya di imah, akang. Dua tahun deui anak urang makin gede. Pasti ngabutuhkeun biaya gede

[2] “Ari dia kunaon?! Balik ti sawah marah-marah. Geura masak! Aing lapar! Ti tadi nungguan dia.”

[1] Mau sampai kapan ada di rumah kang. Dua tahun lagi anak kita makin besar. Pasti membutuhkan biaya yang besar.

[2] Kamu kenapa? Pulang dari sawah marah-marah. Cepat masak sana! Saya sudah lapar! Daritadi nungguin kamu!

Komentar

komentar