Guru Jalan Hidupku

Guru Jalan Hidupku

Oleh : Zakariah S.Pd. SD
Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 05 Saparan  

Sebuah tanggung jawab memerlukan dedikasi. Makin besar tanggung jawab yang membebani pundak seorang insan, maka makin besar pula dedikasi yang wajib dilakukan oleh insan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Yang jelas, di mana ada tanggung jawab disitu terletak dedikasi.

Mungkin di telinga kita, kata “dedikasi“ sudah bukan UFO yang jarang mampir di pendengaran umat manusia yang beradab dan berbudaya. Kata “dedikasi“ juga tidak hanya menjadi penghias bibir kalangan intelektual berdasi kala berorasi di depan umum. Namun kini, kata tersebut sudah bisa jadi obrolan rutin di kalangan menengah ke bawah. Sudah barang tentu bibir manis yang mampu mengurai kata tersebut adalah bibir yang sudah paham arti dan makna dedikasi walau dalam lingkup yang sempit.

Dedikasi menurut pengertian sempit penulis adalah sebuah hadiah kepada seseorang atau badan berupa keikhlasan dari dalam hati untuk melakukan apa yang sudah menjadi tanggung jawab yang membebani pundaknya. Dedikasi adalah bentuk nyata dari komitmen setelah keputusan diambil dengan keadaan sadar. Dedikasi itu berbentuk tindakan, bukan sekadar omong kosong belaka. Dedikasi bukan sebuah hobi untuk mencari muka, cari perhatian, tapi timbul dengan kesadaran sendiri tanpa mengharapkan sesuatu sebagai imbalan atas apa yang telah dilakukan.

Dedikasi yang menjadi topik pembahasan kali ini adalah dedikasi tanpa pamrih yang sebenarnya sudah penulis paparkan di paragraf sebelumnya. Penulis bukan orang yang ahli dalam menguraikan definisi tentang sesuatu, bukan juga bermaksud ingin mengubah suatu pengertian yang sudah disepakati dan diakui oleh umum, tapi penulis lebih cenderung memaparkan apa yang tersirat di hati untuk dibaca dan diberi masukan oleh pembaca. Dengan demikian khazanah penulis tentang definisi/pengertian yang dimaksud di atas lebih mendalam dan lebih kepada implementasi konkritnya.

Penulis yang notabene adalah seorang guru di pedalaman yang jauh dari kemajuan teknologi yang membantu perkembangan informasi, tak lain hanya mengandalkan pengalaman nyata yang disimpulkan sendiri dan sudah didiskusikan bersama rekan-rekan guru senasib dan seperjuangan di daerah terpencil, yang pernah mampir di telinga penulis hanyalah tulisan dari pakar atau ahli pendidikan di koran, dan koran tersebut adalah bekas membeli sesuatu di pasar kecamatan, lalu sempat terbaca kemudian menghubung-hubungkannya dengan pemahaman dan pengetahuan dangkal yang penulis miliki. Berdasarkan pengalaman itulah, akhirnya penulis melahirkan tulisan yang sangat sederhana ini.

Pengabdian tulus penulis selama 19 tahun menjadi “Oemar Bakrie“ di daerah pedalaman, terpencil dan perbatasan hingga kini masih tetap bertugas di sekolah dasar yang pertama didatangi setelah SK penempatan berada di tangan penulis. Berdasarkan pengabdian yang panjang inilah akhirnya penulis dengan berani sekali menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh penulis adalah sebuah dedikasi tanpa pamrih. Bagaimana tidak? Mulai dari gaji Rp 44.400,- tanpa modal kehidupan awal dari orang tua, penulis memasuki babak baru kehidupan tanpa bantuan dari orang terdekat, baik materi maupun bantuan moril, karena pada saat itu juga komunikasi terputus akibat jangkauan yang sangat jauh dan teknologi belum merambah daerah pedalaman ini.

Teknologi baru dirasakan oleh warga pribumi dan penulis sendiri baru sekitar dua tahun lalu. Untunglah rekan sejawat yang kategori pendatang juga merasakan hal yang sama lebih dahulu. Jadi kenyataan manis ini merupakan pengalaman berharga dan juga “bekal” bagi guru pendatang apabila sudah pensiun nanti.

Dedikasi tanpa pamrih yang dilakukan oleh penulis dan rekan-rekan guru lainnya juga tak kalah menariknya dengan pengalaman yang dialami oleh rekan guru di daerah lain yang berada di pedalaman. Bahkan tidak menutup kemungkinan lebih menyedihkan dari yang dialami penulis. Pangkat yang tertunda karena keterlambatan mengurus berkasnya, bahkan pernah gaji yang terlambat diterima karena jauhnya jangkauan transportasi yang memadai hingga ke tempat penulis bertugas.

Apa yang pantas kita lakukan sekarang, wahai rekan-rekan senasib dan seperjuangan? Apakah kita lantas menjauhkan diri dari yang namanya dedikasi ini? Tentu tidak, hal itu sudah merupakan hadiah yang sangat mahal bagi kita, jangan sampai apa yang kita perbuat pada masa lalu membuat kita kapok hanya karena melihat keadaan disekitar kita yang tak pernah berubah. Berusahalah lebih giat lagi. Penulis mengajak semua rekan-rekan seperjuangan membuktikan bahwa pendidikan yang di sutradarai oleh kita (guru pedalaman) sama mutunya dengan pendidikan yang dimotori oleh guru-guru di perkotaan yang penuh dengan fasilitas memadai.

Sebagai penutup, penulis menebar kata-kata mutiara, “Intan akan tetap berharga walau berada di air keruh“ artinya sesuatu yang sangat bernilai tidak hanya berasal dari lingkungan baik saja, tapi juga berasal dari lingkungan yang kurang baik juga. Mutu pendidikan di daerah pedalaman akan lebih maju ketimbang mutu pendidikan di kota, tinggal kita sebagai guru yang akan mengangkat ke permukaan.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044