Guru Harus Upgrade Diri

Rutinitas seorang guru di setiap pagi adalah bersiap berangkat ke sekolah, namun pada Jum’at, 29 Januari 2016 dua puluh enam guru tidak melangkahkan kakinya ke sekolah seperti hari – hari sebelumnya, melainkan berangkat ke Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa untuk menimba ilmu dan bersua dengan kawan – kawan guru KOMED.

Memilih menjadi guru artinya siap untuk mengajari dan siap untuk diajari, dua puluh enam guru ini membuktikannya bahwa

Kasih guru kepada siswa
Tidak hanya sekedar mengajar saja………

Menjadi guru tidak hanya sekedar datang ke sekolah, menyapa anak – anak , mengajarkan materi pelajaran, menilai ulangan dan mengisi raport, dan terus menerus aktivitas tersebut berulang. Sedangkan di luar sana ada banyak aktivitas dan  perubahan yang begitu cepat dan meninggalkan siapapun yang tidak mau ikut berubah dan menyesuaikan zaman. Seorang guru mungkin akan dihormati murid dan orang tua murid ataupun masyarakat, tetapi zaman tidak mengendaki demikian. Karena itu penting sekali guru bergabung dengan komunitas dan mengikuti pelatihan – pelatihan atau membaca literature pendidikan terkini, baik untuk pengembangan dirinya maupun pengajarannya.

Tidak hanya melihat murid senang lantas kita berkesimpulan bahwa pembelajaran berhasil, namun  perlu analisa untuk mengukur sejauh mana efektivitas media pembelajaran dinilai berhasil. Untuk alasan inilah, dua puluh enam guru semangat berkumpul di ruangan ini, seolah ingin membuktikan komitmen dan menunjukan diri bahwa diri mereka tidak hanya sekedar pengajar, tetapi mereka juga sekaligus pembelajar.

Media pembelajaran adalah sebuah media atau sarana yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi/pesan, dimana media tersebut telah disiapkan dan direncanakan untuk pembelajaran. Di KOMED guru – guru tidak hanya asal – asalan menggunakan media pembelajaran, ada 4 tahapan yang harus dilakukan, yaitu perencanaan, pembuatan, penggunaan dan evaluasi.

Di pelatihan ini guru – guru fokus pada tahap keempat, yaitu bagaimana melakukan evaluasi media pembelajaran untuk melihat pengaruh dan efektivitasnya bagi proses pembelajaran. Pelatihan diawali dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya melakukan evaluasi, dilanjut dengan memberikan materi bagaimana melakukan riset uji kelayakan hingga menyimpulkan hasil uji kelayakan. Semua peserta terlihat aktif dan antusias mengikuti pelatihan ini, bahkan ada tanya jawab yang seru antara pemateri dengan peserta.

Masing – masing kelompok peserta diberikan sebuah media untuk dianalisa dan diperagakan, selanjutnya mereka diminta untuk membuat kuesioner dari hasil analisa tersebut, lucunya ada satu kelompok peserta yang terlalu anteng melakukan analisa media pembelajaran, mereka mencoba memperagakan media Monofruits, Monofruits adalah board game edukatif hasil modifikasi monopoli yang ditujukan untuk membantu anak – anak memahami konsep pasar tradisional serta penggunaan rupiah dalam kehidupan sehari – hari, gurunya saja senang dengan permainan tersebut apalagi jika yang memainkan adalah anak didiknya.

Setelah peserta berhasil membuat kuesioner, peserta diminta untuk menyebar kuesioner tersebut ke kelompok peserta lain untuk diisi, selanjutnya kuesioner tersebut diinput dan diolah. Hasil olahan data tersebut mereka definisikan menjadi kesimpulan singkat dan disajikan di power point.

Di sesi presentasi masing – masing kelompok saling berlomba untuk mempercantik tampilan presentasinya agar tidak kalah menarik dari kelompok lain. Tidak ada kata lain selain amazing untuk menggambarkan aktivitas mereka hari ini. Saking asiknya dengan pelatihan ini bahkan mereka lupa memperhatikan waktu yang molor setengah jam dari waktu yang telah ditetapkan, bahkan saat pulang masih ada peserta yang asik nongkrong dan mulai merencanakan uji kelayakan di sekolah mereka.

Guru yang asik dan dicintai murid, ia tidak hanya datang ke sekolah tepat waktu hari ini. Tetapi ia juga datang ke tempat lain untuk update dan upgrade ilmu untuk disuguhkan pada pembelajaran di kelas hari esok.

Komentar

komentar