Sekolah Pendampingan LPI-Dompet Dhuafa

Guru dan Karakter Peserta Didik

Menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia. Berkat jasa-jasa seorang guru telah lahir ilmuwan, praktisi, dokter, pengacara, dan banyak lagi yang lainnya. Seorang presiden sekalipun adalah hasil didikan dari seorang guru. Siapapun tak akan bisa membantah jasa-jasa dari pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sampai kapanpun peran guru takkan tergantikan. Maka berbanggalah jika anda adalah seorang guru. Atas perannya pulalah para peserta didiknya bisa cerdas dan berkembang yang semula tidak tahu apa-apa alias buta huruf. Tentu saja tidak hanya itu. Seorang guru berperan dalam membentuk karakter murid-muridnya. Apakah mau dibawa ke arah yang positif ataukah sebaliknya tergantung gurunya. Sebab, apalah artinya jika seorang murid cerdas tapi tidak berakhlak dan sering berkelahi di sekolah. Apa gunanya jika nilai si murid tinggi tapi suka melawan kepada gurunya. Adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru bila berhasil mendidik muridnya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara serta agama.  Kelelahannya terobati seketika jika ia mengetahui muridnya mendapatkan kesuksesan dalam hidup

Lalu muncul sebuah pertanyaan. Bagaimanakah cara mencapai tujuan mulia tersebut? Tentu saja ada hal yang mesti dipahami betul oleh seorang guru bahwa karakter seorang murid harus dibentuk terlebih dahulu. Lalu seperti apakah peran guru dalam membentuk karakter peserta didiknya? Peran seorang guru bukan hanya dalam hal mentransfer ilmu kepada murid-muridnya. Kalau seperti ini terlalu sempit sekali makna dari pendidikan itu sendiri. Padahal pendidikan juga berarti memberikan pengajaran, suri tauladan, membentuk sikap dan akhlak peserta didik. Inilah yang lebih penting. Sebab seorang murid bila sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi nantinya juga akan terjun ke masyarakat dan menerapkan apa yang telah didapatkannya selama belajar. Jika ia hanya diberikan teori-teori saja tanpa ada asupan nilai-nilai atau norma-norma maka akan terjadi dekadensi moral.

Bisa kita lihat hari ini. Banyak orang yang pintar tapi dengan kepintarannya itulah ia menghalalkan segala cara untuk mengambil yang bukan haknya. Banyak orang yang berdasi tapi pekerjaannya adalah merampok uang negara. Inilah yang akan terjadi jika seorang guru hanya sibuk memberikan teori-teori saja kepada murid-muridnya tanpa dibarengi dengan pembentukan sikap atau karakter. Harus ada keseimbangan diantara keduanya. Apa gunanya punya anak didik tapi akhlaknya bejat. Guru manapun tidak ingin anak didiknya seperti ini. Oleh karena itu guru punya tanggung jawab agar  murid-muridnya menjadi generasi penerus yang cerdas dan berakhlak mulia.

Guru harus memahami betul kebutuhan murid-muridnya. Ada murid yang memiliki daya tangkap yang cepat dan sebaliknya ada pula yang lambat. Oleh karena itu guru harus peka dan mengenali murid-muridnya agar ia mudah dalam menggali potensi yang mereka miliki. Sebab, setiap murid pasti punya potensi yang berbeda-beda. Mungkin ada diantara mereka yang suka meribut di kelas. Bukan berarti murid yang seperti ini langsung divonis yang bukan-bukan. Bisa jadi ia punya kelebihan lain yang mungkin tidak kita sadari.  Kesabaran mutlak dimiliki oleh seorang guru dalam hal mendidik murid-muridnya.  Jika tidak jangan harap akan lahir generasi-generasi unggul yang diharapkan.

Bila ada murid yang nakal dan susah sekali diatur maka jangan sekali-kali membentaknya apalagi jika sampai keluar bahasa yang kasar atau tidak baik untuk didengar. Kata-kata yang kasar akan ditangkap olehnya dan lambat laun  ia akan meniru prilaku kita yang demikian. Berilah nasehat dengan cara yang lemah lembut kecuali memang jika si murid melakukan kesalahan yang fatal atau pelanggaran berat. Jika seorang murid sering dibentak maka lambat laun ia akan minder dan tertekan. Jika seorang murid divonis gurunya bahwa ia bodoh maka ia merasa ia memang bodoh. Inilah yang akan mematikan potensi yang dimiliki oleh murid yang bersangkutan. Efeknya si murid akan sulit berkembang karena ada dinding penghalang antara dia dengan gurunya. Akibatnya dia akan malas mengikuti pelajaran. Kalaupun ia belajar yang ada hanyalah ketidaknyamanan.

Guru hendaknya menjalin kedekatan hati dengan anak didiknya sehingga suasana kekeluargaan bisa di rasakan di dalam kelas. Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif dan Menyenangkan (PAIKEM) sangat perlu diterapkan guna merangsang minat belajar peserta didik. Sebab tidak zamannya lagi metode ceramah dimana murid hanya menjadi pendengar, sementara guru menyampaikan di depan kelas. Jika seperti ini potensi siswa kurang tergali dengan baik karena menggunakan pola satu arah. Kalau dahulu murid adalah objek dalam belajar maka sekarang merekalah subjeknya. Dengan pola pengajaran PAIKEM murid-murid akan lebih terpancing untuk lebih aktiv dalam proses pembelajaran.

Guru juga sedapat mungkin memposisikan murid-muridnya sebagai anak kandungnya sendiri. Seorang ibu kandung tentu akan memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Seperti ini jugalah hendaknya cara berpikir seorang guru terhadap peserta didik. Guru harus menjadi teladan di kelas dan tempat bertanya bagi murid-muridnya. Jika ada yang tidak peduli dengan murid-muridnya bukanlah guru namanya. Kita sedih jika masih ada guru-guru yang mengajar seenak perutnya tanpa ada persiapan. Kita sedih jika ada guru yang tidak memiliki perencanaan pembelajaran. Bagaimana mungkin tujuan dari pendidikan yang tercantum dalam pembukaan UUD Negara RI tahun 1945 itu akan terwujud sementara kita sebagai pendidik tidak berusaha memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Tak hanya itu. Seorang guru dituntut untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya disamping ilmu yang telah ada. Ini dikarenakan ilmu terus berkembang dengan pesat dari waktu ke waktu sehingga mau tidak mau guru harus terus belajar dan belajar. Yang tidak kalah pentingnya adalah guru-guru harus rajin membaca untuk memperkaya wawasannya.

Peran guru dalam membentuk karakter peserta didik sejatinya adalah bagaimana menjadi guru yang baik bagi murid-muridnya. Jika seorang guru sudah memainkan peran seperti ini maka pendidikan yang berkualitas dapat tercapai.

Penulis :

Fauzul Izmi

Pendamping Sekolah Unggul Sumatera Barat

(Sekolah Pendampingan LPI-Dompet Dhuafa)

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044