Guru cilik dadakan ditengah keterbatasan!

Guru cilik dadakan ditengah keterbatasan!

Hari ini saya mengajar sendirian lagi di sebuah dusun di tengah hutan. Di tengah hutan seperti ini ternyata saya bisa mengatakan: “Kemana rimbanya?” Kalau ditanya rimbanya ke mana, jawabannya rimbanya tidak ke mana-mana. Masih ada di depan, belakang, di sebelah kanan, dan di sebelah kiri, semuanya rimba. Namun sebenarnya saya menanyakan rimba yang lain yaitu Rimba, partner guru saya. Sudah hampir dua minggu ia tidak menemani murid-murid mengajar di sini. Jika bukan karena tidak ada perahu boat yang tersedia mengantar, bisa jadi alasannya adalah karena tidak ada bekal yang cukup untuk bertahan hidup di tengah rimba.

Benar, mengajar di dusun ini butuh perjuangan. Masalah paling utama yang menyulitkan guru untuk mengajar di Dusun Nunusan adalah akses jalan sulit juga mahal. Jika berhasil sampai di dusun dengan selamat, guru harus segera bersiap-siap untuk menghadapi masalah lain yaitu bertahan hidup di tengah rimba. Akibatnya, jika bahan makanan yang dibawa oleh guru sudah mulai habis, ya sudah perlu segera ke hilir. Jangan sampai gurunya kenapa-kenapa.

Permasalahan di sekolah ini memang sulit, namun prinsipnya lakukanlah apa yang bisa dilakukan semaksimal mungkin. Kadang miris melihat murid-murid kelas 1 dan 2 yang digabung dalam satu local. Mereka datang ke sekolah dengan sedikit muatan pembelajaran, sisanya dihabiskan untuk bermain, bertinju, menangis, baikan, lalu bermain lagi. Padahal sebagai putra dan putri Indonesia, mereka juga berhak atas berbagai layanan dan realisasi janji yang diberikan pemerintah. Bahkan jika saya mengajar sendirian artinya saya akan mengajar lima level kelas dalam dua lokal yang berbeda, cukup melelahkan memang.

Hingga saya terpikir sebuah ide yaitu “berdayakan murid kelas tinggi untuk mengajar murid kelas rendah.” Wah, ide yang boleh juga tuh gumam saya. Keesokan harinya saya sampaikan ide itu kepada siswa pada saat apel pagi. Awalnya, wajah murid-murid kelas tinggi terlihat tidak yakin. Namun setelah beberapa siswa saya tunjuk, saya berikan motivasi, saya kuatkan, akhirnya mereka mengangguk setuju untuk mengajari siswa kelas rendah. “Mengenai konsep dan manualnya, nanti saya beritahu setelah masuk kelas” kataku.

Pelajaran jam pertama hari ini selesai. “Kelas tinggi boleh untuk beristirahat namun yang tadi saya tunjuk untuk mengajari adik kelas saya antar ke kelas sebelah” kataku. Inginku, semua kelas tinggi bersedia untuk mengajari si adik kelas, tetapi tidak semuanya bersedia karena ada yang tipe pemalu

Di kelas sebelah suasananya riuh sekali. Anak-anak berlarian, teriak, tertawa, bermain, minta perhatian dan sebagainya. Bagus karena itu tandanya siswanya sehat dan energik seperti seharusnya. Aku memulai memperkenalkan cikgu cilik ini. Awalnya cikgu cilik ini terlihat bingung mengenai materi apa yang perlu diajarkan dan bagaimana caranya. Kubilang, “Materinya adalah A, B, C, D dan seterusnya sedangkan caranya adalah seperti mengajari membaca iqro saat magrib itu loh yang biasa kita lakukan.”

Kupilih materi ini karena kebanyakan murid kelas satu belum mampu untuk membaca. Mengenal huruf pun hanya beberapa. Mungkin hanya abjad A dan B saja. Selebihnya tebak-tebak berhadiah. Supaya si adik kelas bisa belajar dengan baik, kita cukup membuka jendela untuk mereka dan biarkan mereka sendiri yang belajar dari buku-buku yang ada. Kupilih metode iqro adalah karena meskipun murid-muridku belum bisa menyebutkan keseluruhan alfabet dengan benar namun ternyata kebanyakan dari mereka sudah pandai menyebutkan huruf hijaiyah yang biasanya saya dan murid kelas tinggi latihkan kepada murid kelas rendah.

Begitulah keseharian kami di sekolah. Disini kami dituntut berfikir kreatif untuk menyelesaikan masalah yang hadir tanpa kami prediksi. Semua ini menjadi pengalaman berharga yang akan menjadi mozaik perjalanan sukses anak-anak disini. Anak-anak yang dituntut memiliki skill mengajar sebelum waktunya. Dimana keterbatasan memaksa mereka untuk berjuang lebih keras dari yang lainnya.

Ditulis oleh : Oki Dwi Ramadian – Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Editor : Marketing Komunisi DD Pendidikan

 

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044