Guru Berkualitas, Ciptakan Generasi Cerdas

 

Pendidikan, sudah menjadi wacana umum untuk dibicarakan khususnya di Indonesia membahas pendidikan memiliki makna yang sangat luar biasa. Baik dalam ruang lingkup Nasional hingga lokal daerah, dalam hal ini tentunya adalah mekanisme yang sifatnya berpusat sampai pada turunan tingkat daerah sudah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Namun ada hal yang unik apabila kita lihat fakta di lapangan, ada hal banyak perbedaan ketika kita lihat sistem atau mekanisme pendidikan yang diterapkan belumlah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan faktor turunan di setiap daerah yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan pada setiap daerah sulit untuk menyesuaikan standar Nasional. Contoh kasus misalnya adalah Pemerintah pusat menetapkan nilai standar ujian Nasional rata untuk seluruh Indonesia, hal seperti ini menjadi sebuah beban bagi Sekolah-sekolah di setiap daerah terlebih adalah guru-guru.

Disisi lain misalnya, fakta siswa kelas 6 di suatu daerah yang belum bisa membaca sama sekali harus tetap diikutsertakan dalam ujian Nasional. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, siswa mendapat sebuah tekanan, pendidik menjadi sebuah pacuan dan Sekolah mendapatkan ancaman. Artinya pemerintah pusat boleh saja melakukan standar pendidikan nasional, namun harus mempertimbangkan hal-hal lain. Khususnya adalah tentang standar atau karakter yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru, meskipun pemerintah sudah memiliki standar bagi para pendidik namun fakta di lapangan sangat berbeda untuk bisa disesuaikan. Dalam hal ini empat kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh para pendidik sesuai perundang-undangan yang ada diantaranya: 1. Keterampilan paedagogik, 2. Kepribadian, 3. Sosial dan 4. ……………….

Empat hal mendasar itulah yang menjadi landasan bagi para pendidik, namun ada hal yang harus ditambahkan ketika empat hal tersebut sudah bisa dijalankan dengan baik yaitu; kesadaran dan komitmen yang tinggi. Sebab  menjadi pendidik saat ini seperti hanya menjadi sebuah batu loncatan saja, maksudnya adalah keterpaksaan dikarenakan keterbatasan lowongan pekerjaan misalnya sehingga menjadi pendidik adalah pilihan yang tepat meskipun terkadang fakta di lapangan tidak memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pendidik tanpa harus dilatih terlebih dahulu. Hal ini tentunya akan berdampak meskipun hal sepele, namun sekali lagi kembali kepada kesadaran dan komitmen yang tinggi untuk bisa menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas.

Maka, pada hakikatnya adalah ketika seseorang sudah terjun menjadi seorang pendidik pada saat itu harus sudah memiliki tekad yang bulat tidak setengah-setengah untuk menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas. Karakter guru yang berkualitas bisa kita lihat dari 4 tahapan, 1. Persiapan yang matang 2. Pelaksanaan penuh dengan ketelitian, 3. Evaluasi dalam meningkatkan mutu atau kualitas diri 4. Dukungan masyarakat dan efektifitas manajemen sekolah yang baik. Apabila empat hal tahapan tersebut dijalankan dengan baik dimungkinkan para pendidik menjadi guru yang berkualitas sehingga menciptakan generasi yang cerdas, standar pendidikan nasionalpun bukan menjadi sebuah hambatan tapi menjadi sebuah tantangan. (Noly)

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.