KAWAN SLI

Dunia Digital, Apakah Guru Tetap Penting?

 

Sadar atau tidak, mayoritas orang saat ini fokus menikmati apa yang ada di genggamannya. Benar sekali, termasuk saya sendiri. Saya pun termasuk yang tidak bisa jauh dari genggaman itu. Pertanyaannya, apakah itu? Yang selalu kita pegang di sebagian besar waktu? Ya, tepat sekali, smartphone!

 

Gawai yang satu ini selalu ada dalam jangkauan kita. Memang begitulah kehidupan saat ini, di mana semua orang membutuhkannya. Lalu untuk apa orang-orang jamak menjadikan telepon pintar ini “wajib” berada di tangan mereka?

 

Smartphone seolah menjadi kebutuhan utama dalam aktivitas sehari-hari. Pada dasarnya memang fungsi utama benda ini adalah untuk berkomunikasi, terutama bagi mereka yang lokasinya berjauhan. Namun sekarang, fungsi smartphone telah berkembang, jauh lebih kompleks daripada sebuah alat komunikasi.

 

Pengemudi ojek online selalu berkutat dengan smartphone setiap waktu,  untuk melihat orderan dan mengarahkan penumpang menuju ke tempat tujuan. Content creator juga di setiap waktu selalu memegang smartphone untuk menghasilkan konten yang terbaik, baik bagi dirinya sendiri, perusahaan, maupun kliennya. Seorang pengusaha yang bergerak di online shop juga selalu menggengam smartphone untuk membuat bisnisnya lancar dengan fast respon yang ia berikan kepada customer.

 

Kemudian bagaimana dengan guru? Bukankah ia yang menemani kita semua di negeri ini saat wajib belajar dua belas tahun?! Namun semua informasi yang kita butuhkan ada di sini, di smartphone. Baik itu materi, teori, praktik, sikap atau apa pun itu terkait pembelajaran. Orang tua di rumah pun seyogyanya bisa mengarahkan anak-anaknya untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini: belajar di dunia digital. Jika demikian, pertanyaannya, apakah guru tetap penting? Yes, Teacher is Our Priority!

 

Berdasarkan pengetahuan saya dari membaca dan memahami buku Teacher Hacks karya Asrul Right, ada juga guru yang bisa menghadapi dunia digital ini. Caranya adalah sebagai berikut:

 

  1. ACT-Action a Creative Teacher

Pada dunia digital, guru tetaplah penting. Namun, guru yang bagaimana agar menjadi penting? Jawabannya ialah guru yang kreatif. KREATIF dengan AKSI, bukan TEORI. Jika kita membahas panjang lebar tentang teori tentu tidak akan pernah ada habisnya. Teori A akan dibantah dengan teori B dan akan diperkuat dengan teori C. Begitu seterusnya.

Teori pun tidak ada benar salahnya. Hanya ada pembaharuan dan ketepatan dalam menggunakan teori tersebut pada waktu tertentu. Maka AKSI atau PRAKTIK-lah yang bisa dilihat hasilnya secara nyata. Baik itu dalam kreativitas menyampaikan teori atau mentransfer materi kepada para siswa. Experiental Learning juga dapat menjadi metode yang efektif dalam menyampaikan ilmu. Dapat juga menggunakan Discovery Learning, dan sebagainya.

 

  1. IT-Inspiring Teacher

Guru adalah sosok teladan yang menjadi panutan bagi siswanya. Jangankan dengan siswa, di antara sesama guru pun seyogyanya terjadi budaya saling menginspirasi, bukan sebaliknya. Guru yang menginspirasi akan selalu dikenang dan abadi di dalam benak para siswa.

Kemudian bagaimana caranya menjadi guru yang menginspirasi? Sering kali saya amati adanya pemberian reward dari guru kepada siswanya. Tujuannya tak lain untuk mendorong semangat belajar, apresiasi atas performa siswa, atau maksud tertentu lainnya. Namun reward saja tidak menjadikan guru tersebut sebagai inspirasi bagi siswanya. Karena reward hanyalah bersifat sementara, sedangkan guru yang menginspirasi adalah guru yang menjadi dirinya sendiri. Ia harus mampu melakukan hal-hal yang out of the box dan berbeda dengan yang lainnya.

 

  1. 2G-Guru Gaul

Internet masa kini sudah sampai pada tingkatan 4G, yang kita kenal bersama dengan Internet of Things. Segala hal akan bergantung kepada internet. Siapa pun akan butuh jaringan internet. Harga paket internet pun kini jauh lebih terjangkau.

Para siswa pun ketika akan menjawab pertanyaan atau soal-soal dari materi yang ia pelajari, secara cepat bisa mereka temukan jawaban itu di internet. Di sinilah peran 2G, Guru Gaul, yang harus selalu up to date dengan perkembangan internet. Para guru juga diharapkan dapat mengarahkan siswanya untuk memanfaatkan internet dalam hal kebaikan.

 

  1. GPS-Guru Penakluk Siswa

Sejak abad 19, ahli menyebut sudah ada lima generasi di dunia ini. Sekarang, kelima generasi tersebut hidup bersama pada satu waktu. Kelima generasi tersebut adalah Generasi Baby Boomers, X, Y, Z, dan terakhir adalah Generasi Alpha. Siapa dan bagaimana sebenarnya karakteristik mereka? Apa perbedaan dari setiap generasi tersebut? Mari kita bahas bersama.

Pengelompokan lima geneasi tersebut adalah berdasarkan pada tahun kelahiran mereka. Kumparan pernah mengulas tentang kelima generasi tersebut dalam artikelnya berjudul “Mengenal Karakter 5 Generasi: Baby Bomers, X, Y, Z, dan Alpha”. Berikut adalah rangkuman dari ulasan tersebut:

  1. Baby Boomers (1946-1960)

Generasi ini memilki sifat kompetitif, berorientasi pada pencapaian, dedikasi, dan berfokus pada karir. Sehingga mereka pun disebut generasi gila kerja. Mereka tidak suka dikritik, tetapi suka mengkritik generasi muda karena dianggap minim etika dan komitmen terhadap tempat kerja. Namun generasi ini mempunyai tujuan penting yakni membahagiakan keluarganya (terutama anak-anak). Mereka juga setia kepada keluarga dan rela bekerja keras, asalkan keturunannya bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Tak heran generasi ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mandiri, optimis, dan penuh kebanggaan dengan pencapaian yang telah mereka dapatkan.

  1. Generasi X (1961-1980)

Anak yang sering merasa sendirian akibat ditinggal orang tuanya bekerja merupakan istilah yang sering diberikan kepada Generasi X ini. Ya, merekalah anak dari Generasi Baby Boomers si gila kerja. Situasi dan kondisi tersebut kemudian membuat Generasi X mandiri. Mereka pun mulai mencari alternatif lain di luar pekerjaan formal yang mereka anggap menghabiskan banyak waktu. Sehingga Generasi X mulai berpikir untuk berwirausaha atau bekerja di rumah.

  1. Generasi Y (1981-1994)

Pada umumnya, Generasi Y menyukai kehidupan yang seimbang. Mereka pekerja keras tapi tetap mementingkan “me time”. Mereka dikenal dapat diandalkan dalam hal kedisiplinan dan pemanfaatan teknologi. Sehingga mereka mempunyai kepercayaan diri yang baik dan tetap mendengarkan kritik dan saran dari orang lain. Generasi Y menjadikan passion dan hobi sebagai ladang amal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

  1. Generasi Z (1995-2010)

Generasi ini merupakan peralihan dari Generasi Y. Mereka cenderung menyukai hal yang instan dan kehidupannya lebih banyak di dunia maya. Acap kali terlihat media sosial Generasi Z hanya untuk sekadar mencari popularitas dan menambah followers. Generasi ini menyukai tantangan baru, tapi haus akan ujian. Aktivitas sosial dan bergaul menjadi favorit mereka. Sehingga mereka tak segan mengeluarkan banyak uang hanya untuk bersenang-senang.

  1. Generasi Alpha (2011-sekarang)

Generasi ini terlahir dengan perkembangan teknologi yang sedang pesat. Ketika balita, mereka sudah menggunakan gawai untuk hanya sekadar hiburan atau bahkan belajar. Situasi ketergantungan teknologi menjadikan generasi ini lebih transformatif dibandingkan generasi-generasi lainnya. Di sinilah peran orang tua secara khusus dibutuhkan oleh Generasi Alpha untuk mengawal perkembangan tumbuh kembang para digital native ini agar tetap menghargai nilai-nilai kekeluargaan dan norma kemasyarakatan.

Dari uraian lima generasi tersebut, manakah yang menjadi siswa kita? Dan kita sebagai guru berada di generasi mana? Apakah kita bisa memecahkan segala paradigma negatif yang ada terhadap generasi ini?

Sejatinya manusia akan kembali kepada fitrah-Nya, suci dan bersih dari apa pun. Diri sendirilah yang akan menentukan ke mana akan berlabuh. Lingkungan hanya membantu sebagai faktor eksternal. Ada yang survive, menjadi terang di kehidupan yang gelap. Ada yang tetap survive menjadi terang di zona nyaman. Ada juga yang terbelenggu di kehidupan yang gelap. Atau juga hancur ketika berada di zona nyaman. Semuanya kembali kepada diri sendiri.

Seberapa awareness yang terbangun di dalam diri, kita yang tentukan. Karenanya, penting untuk selalu mempunyai niat yang tulus dan tujuan yang SMART (Spesific, Measurable, Achieveable, Realistic, dan Timely). Cukuplah diri sendiri yang menjadi tolak ukur dalam melihat kesuksesan kita, baik di masa lalu, hari ini, dan di masa depan. Penting untuk selalu melihat bahwa dunia digital hanyalah alat dan situasi yang sedang terjadi saja. Maka peran guru menjadi krusial. Terutama bagi anak-anak kita. Di samping orang tua, guru adalah pembimbing tumbuh kembang mereka menjadi manusia yang unggul dan mampu membangun peradaban maju yang hakiki.

Komentar

komentar